Ibnu Qomari al-Sanuwi

Kita sering mendengar dari orang-orang syiah atau dari buku-buku syiah bahwa Abu Bakar menzalimi Fatimah karena menghalanginya dari warisan tanah Fadak (yang skarang disebut al-Haith).

Gapura menuju Fadak

bukit kecil di antara bukit Fadak

sumur tua di Fadak

pohon-pohon kurma kering

pohon-pohon kurma kering

pohon-pohon kurma kering

Foto tanah Fadak sekarang. Fadak adalah nama desa di Hijaz yang didapat secara damai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tahun 7 H, berjarak 2 atau 3 hari dari Madinah. Di sana ada mata air yang deras dan pohon kurma yang banyak. Foto-foto di atas adalah: gapura menuju Fadak, bukit kecil di antara bukit Fadak; sumur tua di Fadak; pohon-pohon kurma kering; pohon kurma yang kering.

Mereka bahkan mengatakan kalau Abu Bakar mencaplok tanah Fadak. Mereka menggambarkan bahwa Abu Bakar benci Fatimah dan Fatimah benci Abu Bakar sampai mati. Benarkan demikian? Benarkah Abu Bakar serendah itu/ Benarkah Fatimah penghulu wanita surga itu serendah itu? Bagaimana yang sebenarnya?

Jawaban yang benar:

  1. Jikalau Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar: “Kami (para Nabi) tidak diwarisi”. Kemudian datanglah Fatimah menuntut warisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka demi Allah jawablah pertanyaan kami, “Apa yang akan dilakukan oleh Abu Bakar?” bahkan jika kalian berada pada posisi Abu Bakar apa yang akan kalian perbuat? Demi Allah saya kasihan terhadap Abu Bakar yang berada di posisi sulit; antara perintah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan antara permintaan penghulu wanita alam semesta, meskipun tentunya Abu Bakar tidak akan melangkahi sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam karena ucapan seorang pun, meskipun itu putri Rasulullah yang suci.
  2. Baiklah, kita anggap saja Fatimah memiliki hak waris di tanah Fadak dan abu Bakar menzaliminya. Tidak kah kalian tahu bahwa  Fatimah wafat di masa khilafah Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu dan warisannya secara otomatis pindah ke ahli warisnya yaitu Ali dan Anak-anaknya? Jadi pembagiannya sbb: Ali= 1/4; sisanya untuk anak-anaknya (Hasan, Husain, Ummu Kultsum dan Zaenab) dengan ketentuan bagi anak laki-laki seperti 2 bagian anak perempuan. Setelah Abu Bakar, Umar juga tidak memberikan warisan itu, berarti ia zalim. Kemudian Usman juga tidak memberikan warisan itu kepada ahli waris Fatimah, berarti ia zalim. Kemudian Ali juga tidak membagikan warisan itu kepada ahli wariis fatimah, berarti ia zalim, dan terus berlanjut kezaliman itu. Setelah Ali Hasan pun tidak membagi warisan itu, begitulah seterusnya kezaliman itu berlanjut. Apakah kalaian wahai orang syiah menerima seperti ini?! Ataukah kalian harus mengatakan seperti Ahlussunnah waljama’ah bahwa Fatimah tidak memiliki hak waris di situ, sehingga tidak ada yang dizalimi dan tidak ada yamng menzalimi!!
  3. Kemudian, menurut riwayat-riwayat syiah sendiri ternyata ada keterangan bahwa  fatimah tidak punya hak warits atas tanah Fadak . berikut riwayat-riwayat itu:
    • Al-Thusi dalam kitab at-Tahdzib (9/254) berkata, ketika abu abdillah ditanya tentang hak waris wanita  beliau menjawab: adapun tanah dan real estate maka wanita tidak memiliki hak waris di dalamnya.
    • Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “apa saja yang menjadi milik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka ia milik para imam dari keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Ushul al-Kafi, kitab al-Hujjah, bab bahwa tanah semuanya milik imam, 1/476)  sedangkan imam yang pertama adalah Ali –jadi berdasarkan keyakinan syiah- maka yang berhak menuntut adalah Ali bukan fatimah. Dan ternyata Ali tidak menuntutnya (lihat ucapan ali di Nahjul Balaghah 1/211)
  4. Selain itu menurutr riwayat Syiah sendiri ternyata Khilaf  masalah Fadak itu hanyalah khilaf fikih, bukan akidah bukan dan bukan permusuhan. Ali as-Syaharastani (seorang syiah kontemporer) berkata: Sesungguhya perselisihan fikih yang pertama kali terjadi setelah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat adalah khilaf antara Fatimah Zahra` putri Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Khalifah Abu Bakar.” (Man’ Tadwin al-Sunnah, 424)
  5. Masalah fadak tidak begitu penting. Ibnu al-Hadid berkata: Fadak itu tidak lain hanyalah kebun kurma yang sedikit, dan real astat yang tidak begitu penting.” (syarah nahjul balaghah, 16/236)
  6. Masalah itu selesai dalam majlis itu. Ibnul hadid berkata: yang benar bahwa Amirul Mukminin Alaihi Sallam tidak mempermasalahkan setelah wafatnya Fatimah dalam soal warisan, yang beliau persoalkan adalah wilayah (kewalian) atas tanah fadak dan lainnya dari shadakah Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  7. Ternyata yang benar Tanah fadak itu wakaf. Tanah fadak itu wakaf untuk kebutuhan Nabi, istri-istri dan ahlul bait. Khalifah Abu Bakar as-shiddiq dengan penuh amanah mengurus wakaf itu setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kemudian diurus Amirul Mukminin Umar kemudian diurus  amirul; mukminin Usman kemudian diurus amirul mukminin Ali, dan terus berada di tangan Ali selama hampir 20 tahun atau lebih hingga wafat, lalu diserahkan ke Imam Hasan hingga wafat lalu diambil imam Husain hingga wafat, setelah itu pindah ke tangan  al-Hasan ibnul Hasan yang dikenal dengan al-Hasan al-Mutsanna, terus Ali ibnul Hasan yang dikenal dengan Zaenal Abidin, kemudian setelah wafatnya berpindah ke tangan Zaid ibnul Hasan ibnul Hasan.

Bahkan Ibnul Maitsam (syarah Nahjul Balaghah, 5/107; ad-Danbali dalam al-Durrah an-Najafiyyah h. 332, ibnul Hadid (Syarh Nahjul Balaghah 4/84) menjelaskan: “Bahwa Abu Bakar mengambil hasil tanah Fadak untuk diserahkan (hasil panennya) kepada mereka (ahlul bait), sesuai dengan kecukupan mereka lalu sisasanya dibagi. Umar juga demikian. Kemudian Usman juga demikian. Kemudian Ali juga demikian.” Nah terus yang masalah yang mana?

Dari sini kita tahu bahwa orang zindiqlah yang ingin mengadu domba antara para sahabat dan ahlul bait. Keturunan Ibn Saba` al-Yahudi tidak rela sahabat dan ahlul bait rukun dan saling mencintai.

Semoga tulisan ini bisa menghilanglkan keanehan beberapa orang!

Ya Allah Ridhailah para sahabat dan ahlul bait ya Allah. Buatlah kami cinta kepada mereka semua dan laknatlah orang yang membenci mereka kesememuanya atau sebagiannya, serta orang-orang munafik dan zindiq yang menyebarkan firtnah ini di tengah umat. Aamiin.

Malang, 25 Muharram 1432