Bantahan terhadap “Pembacaan Baru Atas Al-Qur’an: Go Beyond Text” (Bagian 16)

konstektualSebagai penutup Ulil mengingatkan: “Harap jangan lupa: wahyu verbal dalam al-Qur`an hanyalah separuh wahyu yang harus dilengkapi dengan wahyu non-verbal. Dengan cara itulah kita bisa menghindari sikap bibliolaristik.” (alinea 13)

Sebelumnya Ulil juga mengatakan: “bahwa wahyu tekstual adalah “separoh” saja dari wahyu al-Qur`an yang sesungguhnya (yang lain adalah “wahyu implisit” (dalam bentuk konteks sosial),… (alinea 10)

Ucapan ini sangat beracun dan sesat, kandungannya adalah:

a.       al-Qur`an yang ditulis oleh Rasulullah dan dikumpulkan oleh para sahabat dan yang ada ditangan kaum muslimin diseluruh dunia ini adalah bukan al-Qur`an yang sesungguhnya, karena yang ada sekarang hanyalah separoh al-Qur`an, tidak utuh, yang separoh tidak didokumentasikan. Ini adalah kufur yang nyata seperti nyata mata Dajjal yang buta sebelah.

b.       Tidak ada yang menyadari bahwa  al-Qur`an yang ada ini hanya separoh al-Qur`an yang seharusnya, semenjak zaman Nabi dulu hingga abad 15 ini, bahkan sengaja diabaikan, sampai kemudian datang Ulil di Indonesia pada abad 15 H ini mencoba untuk melengkapi al-Qur`an dengan cara menggalinya dari konteks sosial yang ada di Indonesia.

c.       Nama lain al-Qur`an menurut Ulil adalah wahyu tekstual, wahyu verbal, wahyu eksplisit dan kitab suci tertulis.

d.      Pengalaman manusia disebut oleh Ulil dengan istilah wahyu konteks sosial, wahyu non verbal, wahyu implisit, kitab suci tidak tertulis. Dan inilah separoh wahyu al-Qur`an yang hilang itu. Makanya diperlukan mediasi akal yang merumuskan al-Qur`an. Karena itu menurut Ulil sumber hukum dalam Islam seharusnya al-Qur`an dan pengalaman historis manusia. (bagian 1 alenia 15)

Gaya Ulil didalam menggilas al-Qur`an dan melibas Islam sama dengan para pendahulunya yaitu menggunakan metode “zukhrufal Qouli Ghurura” dengan cara melucuti istilah-istilah syar’i lalu menggantinya dengan istilah baru yang beracun. Ibn al-Qayyim رحمه الله telah mengingatkan: “diantara ungkapan-ungkapan yang dibenci (dalam Islam) adalah menjuluki “dalil-dalil al-Qur`an dan sunnah dengan istlah Zhawahir Lafzhiyah (pernyataan tekstual) dan Majazat (metafora). Karena penamaan ini menurunkan kehormatannya dari hati. Apalagi jika disandingkan dengan penamaan syubhat-syubhat ahli kalam dan para filosof dengan sebutan Qawathi’ Aqliyah (kepastian yang bersifat logis), maka tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, betapa banyak kerusakan akal, agama, dunia, dan akhirat yang diakibatkan oleh kedua istilah ini.”[1]


[1] Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma’ad; tahqiq al-Arnauth (Beirut, al-Risalah, 141) jilid  hal 433