Pungutan Upeti Ala Agama Syi’ah.

Diantara doktrin agama Syia’h yang unik ialah pungutan wajib sebesar seperlima (1/5) / Al Khumus dari penghasilan, bahkan dari seluruh harta benda yang dimilik. Pungutan ini dikenakan atas setiap penganut agama Syi’ah tanpa terkecuali. Anda dapat bayangkan bila doktrin in benar-benar dilakukan, betapa besar dana yang akan terkumpul?

Untuk meyakinkan para pengikutnya, tokoh-tokoh agama Syi’ah meriwayatkan ucapan imam mereka Ja’far As Shadiq :

إن الله الذي لا إله إلا هو، لما حرم علينا الصدقة أنزل لنا الخمس، فالصدقة علينا حرام والخمس لنا فريضة والكرامات لنا حلال.

“Sesungguhnya Allah Yang tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, tatkala Dia mengharamkan atas kami (ahlul bait untuk memakan harata sedekah, maka Dia menurunkan untuk kita syari’at Al Khumus (seperlima). Dengan demikian shadaqah haram atas kami, khumus (1/5) adalah hak kami dan hadiah halal bagi kami.”

Riwayat ini dapat anda temui pada beberapa referensi terpercaya agama Syi’ah., diantaranya: Tafsir Al ‘Ayyasyii 2/64, karya An Nadher Muhammad bin Mas’ud As Samarqandi, wafat thn: 320 H, Al Khishaal 291, Man laa Yahdhuruhu Al Faqih 2/41, keduanya karya As Syeikh As Shaduuq wafat thn 381 H, Wasa’ilus Syi’ah 9/270, karya Al Hur Al ‘Aamili wafat thn: 1104 H & Bihaarul Anwaar 93/199, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H.

Bila anda bertanya, apa dalil para pemuka agama Syi’ah  dalam mewajibkan khumus atas para pengikutnya? Niscaya anda akan dapatkan bahwa dalilnya ialah firman Allah Ta’ala :

]وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا غَنِمْتُم مِّن شَيْءٍ فَأَنَّ لِلّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِن كُنتُمْ آمَنتُمْ بِاللّهِ وَمَا أَنزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ[ التوبة 41

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlimanya untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu.” Al Anfaal 41.

Dan beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjelaskan hal sama, yaitu seperlima dari harta rampasan perang. Berikut adalah salah satu dari hadits-hadits itu :

(أَتَدْرُونَ مَا الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ؟) . قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ: (شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ، وَإِقَامُ الصَّلاَةِ ، وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ ، وَصِيَامُ رَمَضَانَ ، وَأَنْ تُعْطُوا مِنَ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ) رواه البخاري

“Tahukan engkau apakah itu beriman hanya kepada Allah? Sepontan para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nyalah yang lebih tahu. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Bersaksi bahwa tiada sesembahan yang layak diibadahi selain Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa ramadhan, dan menunaikan seperlima dari harta rampasan perang.” Riwayat Bukhari.

Seusai dari peperangan Hunain, ditengah perjalanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengambil sehelai bulu onta, lalu bersabda kepada para sahabatnya:

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَيْسَ لِى مِنَ الْفَىْءِ شَىْءٌ وَلاَ هَذَا) وَرَفَعَ أُصْبُعَيْهِ (إِلاَّ الْخُمُسَ وَالْخُمُسُ مَرْدُودٌ عَلَيْكُمْ فَأَدُّوا الْخِيَاطَ وَالْمِخْيَطَ ) رواه أبو داود وغيره

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku tidak berhak atas harta rampasan perang, walaupun hanya ini (bulu onta) –beliaupun mengangkat tangannya guna menunjukkan kepada mereka sehelai bulu onta- kecuali seperlimanya, dan seperlimanya itupun dibagi-bagikan kepada kalian , maka hendaknya kalian mengumpulkan semua hasil rampasan perang, sampaipun benang dan jarumnya.” Riwayat Abu Dawud dan lainnya.

Perhatikanlah dengan seksama, semua dalil-dalil di atas berhubungan dengan rampasan perang. Akan tetapi, dengan tanpa malu para pemuka agama Syi’ah menjadikannya sebagai kedok untuk membenarkan pungutan upeti mereka.

Saudaraku! Andai anda adalah salah seorang penganut agama Syi’ah, maka berdasarkan pemahaman tokoh-tokoh agama anda terhadap ayat di atas, seluruh harta benda anda akan dibagi-bagi. Betapa tidak, seperlimanya wajib anda serahkan kepada para pemuka agama sekte Syi’ah, sedangkan sisanya maka akan dibagi-bagi secara merata kepada seluruh penganut agama anda, sebagaimana halnya harta hasil rampasan perang.

Saudaraku! Bila Allah Ta’ala telah mengaruniakan kemerdekaan kepada anda dan negeri anda tercinta, akankan sekarang ini anda dengan suka rela menerima penjajahan dengan kedok agama? Harta benda anda dipungut bagaikan pungutan upeti bahkan lebih besar, anak-anak gadis anda dinodai dan dijadikan sebagi ladang pelampiasan syahwat birahi pemuka agama anda. Dan akal sehat anda dikebiri sedemikian rupa, sehingga anda diwajibkan mempercayai berbagai hal yang tidak masuk akal.

Bila demikian adanya, apa dosa para pengikut agama Syi’ah, sehingga mereka harus membayarkan seperlima dari seluruh harta kekayaannya kepada para imam?

Dan perhatikan pula, pada ayat di atas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa seperlima dari harta rampasan perang itu bukan hanya dimiliki oleh sekelompok orang saja, akan tetapi dibagikan kepada Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnussabil. Tentu ini berbeda dengan apa yang dipraktekkan oleh tokoh-tokoh agama Syi’ah. Pungutan 1/5 hanya di nikmati oleh para pemakai sorban di kepalanya. Tidak heran bila para pemakai sorban dikepalanya adalah para konglomerat di masyarakatnya.

Saudaraku! Coba anda bandingkan syari’at zakat yang merupakan salah satu rukun agama anda dengan doktri khumus ala Syi’ah!

Zakat Khumus
Diwajibkan atas orang-orang kaya semata Diwajibkan atas seluruh penganut agama Syi’ah
Hanya diwajibkan pada harta benda yang berpotensi untuk berkembang. Diwajibkan atas seluruh harta benda, termasuk rumah, kendaraan dan lainnya.
Diwajibkan atas seluruh umat islam yang harta bendanya telah melampaui batasan nishab. Para pemakai sorban di kepala alias imam atau yang dijuluki dengan faqih bebas dari kewajiban khumus
Hanya dikenakan pada harta benda yang benar-benar milik anda Diwajibkan walaupun atas harta hasil curian, bahkan sebanyak dua kali setahun, Pertama untuk menghalalkan/ mony laundry dan kedua setelah berubah status dari hasil curian menjadi harta halal karena telah dipungut seperlimanya.
Zakat dibagikan kepada 8 kelompok orang sebagaimana yang dijelaskan pada ayat 60 surat Taubah Hanya diberikan kepada para pemakai sorban alias imam atau yang dijuluki dengan faqih. ([1])

Praktek Al Khumus ala Syi’ah telah menjadikan dunia berbalik, bukannya orang kaya menyantuni kaum fakir miskin, yang terjadi sebaliknya, kaum fakir menyantuni orang-orang kaya raya.

Mungkin anda kembali bertanya? Mengapa para pemuka agama Syi’ah mengajarkan khumus kepada para pengikutnya, padahal tidak ada dasar hukumnya dalam Al Qur’an atau As Sunnah?

Jawaban pertanyaan anda sangatlah jelas. Doktri ini bertujuan untuk mewujudkan dua hal:

1. Menjadi daya pikat bagi para tokoh agama dan masyarakat, agar dapat turut menikmati limpahan harta khumus, karena dianggap sebagai faqih.

2. Menjadi sumber dana bagi pergerakan dan penyebaran agama Syi’ah. Bahkan Prof Dr. Quraish Shihab menyatakan : “Dan agaknya dari keuangan yang mereka peroleh itulah yang digunakan membiayai revolusi mereka.”([2])

Penuturan Prof Dr. Quraish Shihab diatas sudah sepantasnya dicermati oleh pihak berwajib di negri kita. Betapa tidak, pergerakan agama Syi’ah di negri kita mulai marak dan berkembang cukup pesat. Sangat memungkinkan bila mereka memiliki rencana untuk mengulang dan menerapkan rovolusi Khumainy di bumi Nusantara tercinta. Terlebih-lebih, Khumaini dalam banyak kesempatan menyeru kepada para pengikutnya untuk menyiapkan diri guna menyingkirkan para penguasa yang ada dan menggantikannya dengan para mulla.

Pada salah satu ceramahnya, Al Khumainy berkata:

إننا سنصدر ثورتنا إلى كل العالم حتى يعلم الجميع لماذا قمنا بالثورة؟ لقد كان هدفنا الاستقلال والحرية وإقامة الجمهورية الإسلامية.

Sesungguhnya kami benar-benar akan mengekspor rovolusi kami ke dunia luar, agar semua orang mengetahui apa sebenarnya yang mendorong kami mengadakan revolusi. Sungguh tujuan kami hanyalah mewujudkan kemerdekaan, kebebasan, dan mendirikan negara islam.”

Sangat dimungkinkan, sekarang ini para tokoh agama Syi’ah sedang menggalang dana dari para pengikutnya, untuk selanjutnya mencoba menerapkan rovolusi ala Al Khumaini di bumi Nusantara tercinta.

Anda dapat bayangkan, berapa besar dana yang dapat mereka kumpulkan dari doktrin Al Khumus. Andai penganut agama Syi’ah di suatu negri mencapai 10 juta, dan rata-rata penghasilan mereka tiap bulan adalah Rp. 2.000.000 (dua juta), maka total khumus per anggota adalah Rp 400.000,-. Dan bila anda kalikan dengan jumlah populasi Syi’ah yang mencapai 10 juta, maka hasilnya: Rp.400.000 x 10.000.000= Rp 4 000.000.000.000 (empat triliun rupiah). Ini adalah hasil pungutan khumus setiap bulan.

Dengan mengetahui perkiraan kalkulasi pungutan khumus ini, maka rasa heran anda terhadap militansi para pemuka agama Syi’ah terhadap ajarannya yang begitu besar. Walaupun ajarannya yang tidak masuk akal, akan tetapi mereka dengan tanpa rasa malunya megajarkan dan menyebarkannya ke masyarakat. Ambisi mempertahankan jatah khumus dan menikmati gadis-gadis lugu yang berhasil mereka jerat dalam perangkap nikah mut’ah.

Walau demikian, pernahkah anda bertanya, apa memang benar para imam Syi’ah zaman dahulu memungut khumus seperti yang didoktrinkan oleh pemuka agama Syi’ah? Mungkin tatkala anda mengkaji kehidupan sahabat Ali bin Abiu Thalib t bersama istri beliau tercinta Fatimah putri Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pertanyaan ini semakin menguat. Betapa tidak, semua orang mengetahui bahwa mereka hidup dalam kesederhanaan. Andai mereka mendapatkan harta khumus dari seluruh umat Islam kala itu, niscaya mereka menjadi kaya raya, sebagaimana yang dialamai oleh para pemuka agama Syi’ah zaman sekarang.

عَنْ عَلِىٍّ أَنَّ فَاطِمَةَ – رضي الله عنهما – شَكَتْ مَا تَلْقَى فِى يَدِهَا مِنَ الرَّحَى ، فَأَتَتِ النَّبِىَّ تَسْأَلُهُ خَادِمًا ، فَلَمْ تَجِدْهُ ، فَذَكَرَتْ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ ، فَلَمَّا جَاءَ أَخْبَرَتْهُ . قَالَ فَجَاءَنَا وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا ، فَذَهَبْتُ أَقُومُ فَقَالَ « مَكَانَكِ » . فَجَلَسَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمَيْهِ عَلَى صَدْرِى فَقَالَ: (أَلاَ أَدُلُّكُمَا عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ، إِذَا أَوَيْتُمَا إِلَى فِرَاشِكُمَا ، أَوْ أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا ، فَسَبِّحَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَاحْمَدَا ثَلاَثًا وَثَلاَثِينَ ، وَكَبِّرَا أَرْبَعًا وَثَلاَثِينَ ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ، فَهَذَا خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ ) متفق عليه

Sahabat Ali bin Abi Thalib mengisahkan bahwa istrinya; Fatimah -semoga Allah meridhai keduanya- mengeluh sakit pada tangannya, karena pekerjaan menggiling. Maka iapun mendatangi rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam guna meminta pembantu (budak), akan tetapi ia tidak menemukan beliau. Maka Fatimahpun menyampaikan keperluannya kepada ‘Aisyah, dan ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pulang ke rumah, ‘Aisyahpun menyampaikan keluhan Fatimah kepada beliau. Sahabat Ali melanjutkan kisahnya dengan berkata: “Selanjutnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke rumah kami, sedangkan kami telah bersiap tidur. Mengetahui beliau datang, akupun bergegas ingin bangkit, akan tetapi beliau bersabda kepadaku: “Hendaknya engkau tetap berada ditempatmu.” Selanjutnya beliau duduk ditengah-tengah kami, sampai-sampai aku merasakan dinginnya kaki beliau di bagian dadaku, lalu beliau bersabda: “Sudikah kalian beruda aku tunjukkan kepada suatu hal yang lebih baik bagi kalian berdua dibanding seorang budak? Bila kelian berdua berada di tempat tidur, dan klianpun telah berbaring di atasnya, maka hendaknya kalian berdua bertasbih sebanayk 33 x , bertahmid (hamdalallah) sebanyak 33 x , dan bertakbir sebanayk 34 x , maka hal itu lebih baik bagi kalian berdua dibanding seorng budak.” Muttafaqun ‘alaih.

Demikianlah kehidupan sahabat Ali bin Abi Thalib bersama istrinya, yaitu Fatimah bintu Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, begitu sederhana dan tidak ada tanda-tanda kemewahan. Andai mereka berdua mendapatkan jatah khumus (1/5) dari seluruh harta kekayaan umat Islam, niscaya mereka akan hidup kecukupan dan tidak ada perlunya Fatimah radhiallahu ‘anha meminta budak kepada ayahandanya.

Dan bila anda mengkaji referensi agama Syi’ah secara langsung, niscaya anda akan menjadi tercengang. Betapa tidak, anda berhadapan dengan beratus-ratus riwayat yang menegaskan bahwa Imam-Imam Syi’ah telah menunda kewajiban membayar khumus hingga bangkitnya “Imam Mahdi Syi’ah” yang bernama Muhammad bin Al Hasan Al Askari. Berikut saya bawakan salah satu riwayat tersebut:

عن مسمع (بن عبد الملك)، أنه حمل خمسه مقدار ثمانين ألف درهم إلى أبي عبد الله عليه السلام، فقال: أوما لنا من الأرض وما أخرج الله منها إلا الخمس يا أبا سيار؟ إن الأرض كلها لنا، فما أخرج الله منها من شيء فهو لنا. فقلت له: وأنا أحمل إليك المال كله؟ فقال: يا أبا سيار قد طيبناه لك وأحللناك منه، فضم إليك مالك، وكل ما في أيدي شيعتنا من الأرض فهم فيه محللون، حتى يقوم قائمنا، فيجبيهم طسق مان كان في أيديهم ويترك الأرض في أيديهم. وأما ما كان في أيدي غيرهم فإن كسبهم من الأرض حرام عليهم حتى يقوم قائمنا فيأخذ الأرض من أيديهم ويخرجهم صغرة.

“Diriwayatkan dari Masma’ (bin Abdul Malik), pada suatu hari ia membawa pungutan khumus yang wajib ia setorkan, yaitu sebesar delapanpuluh ribu (80.000) dirham ke rumah Abu Abdullah (Ja’far As Shadiq) ‘Alihissalaam. Melihat Pengikutnya membawa setoran khumus sebesar itu, Abu Abdullah berkata: “Wahai Abu Sayyar! Apakah kami tidak memiliki hak atas bumi dan penghasilan yang telah Allah keluarkan darinya kecuali khumus (seperlima)? Sesungguhnya bumi seluruhnya adalah milik kami. Dengan demikian apa saja yang Allah keluarkan darinya adalah milik kami.” Mendengar ucapan itu, Masma’ bertanya: Bila demikian, saya akan menyerahkan seluruh hartaku kepdamu. Abu Abdullah menjawab: Wahai Abu Sayyar! Kami telah menghalalkannya untukmu, maka simpanlah baik-baik hartamu. Dan seluruh belahan bumi yang dikuasai oleh pembela kami, maka mereka halal untuk memilikinya, hingga datang saatnya Al Qaim (Imam Mahdi) kita bangkit. Saat itu imam mahdi akan mengutus petugasnya untuk memungut khumus yang ada pada mereka, dan membiarkan bumi diolah oleh mereka. Adapun bumi yang dikuasai oleh selain mereka, maka sesungguhnya seluruh penghasilan mereka itu haram atas mereka, hingga bila AL Qaim (imam Mahdi) telah bangkit, maka ia akan merampas kembali bumi yang telah mereka kuasi dan mengusir mereka dalam keadaan terhina.”

Riwayat ini dapat anda baca pada beberapa referensi agama Syi’ah berikut: Al Kafi oleh Al Kulainy 1/408, Wasa’ilus Syi’ah oleh Al Hur Al ‘Amily 9/548, Al Mu’tabar Fi Syarhil Mukhtashar oleh Al Hilly 2/637, Dan Al Hada’iq An Naadhirah oleh Al Bahrani 12/430-431.

Sungguh mengherankan bukan? Berdasarkan riwayat di atas, ternyata bukan hanya khumus yang wajib disetorkan oleh para pengikut agama Syi’ah, akan tetapi seluruh penghasilan mereka. Walau demikian, dengan nyata pada riwayat ini anda saksikan bahwa kewajiban khumus telah digugurkan oleh Abu Abdullah Ja’far As Shadiq yang nota bene adalah imam ke-6 dalam agama Syi’ah. Khumus hanya wajib mereka bayarkan bila “imam mahdi” mereka yang sekaligus imam ke-12 dalam silsilah imamah agama Syi’ah telah bangkit dari persembunyiannya di terowongan Kufah. Akan tetapi mengapa para pemuka agama Syi’ah hingga saat ini terus menerus memungut khumus dari para pengikutnya?


[1] )  Siyahah Fi  ‘Alamit Tasyayyu’  69-70, karya Imam Muhibbuddin Abbas Al Kazhimy.

[2] )  Sunnah-Syiah bergandengan Tangan! Mungkinkah?  250.