Rekam Jejak Kelam Penganut Sekte Syi’ah.

Sejarah setiap umat dan bangsa begitu berharga bagi generasi penerusnya. Suatu bangsa dan umat yang melalaikan sejarah pendahulunya ialah umat yang lemah dan telah kehilangan jati dirinya.

Tidak heran bila dalam Al Qur’an Al Karim dan Asunnah kita mendapatkan banyak anjuran agar kita mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu. Dengan demikian, kita dapat menghindari berbagai jalan yang telah menghantarkan mereka kepada kehancuran:

[قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَانْظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذَّبِينَ [ آل عمران 137

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”. Ali Imran 137

[أَفَلَمْ يَسِيرُواْ فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُواْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ  [ يوسف 109

“Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka.” Yusuf 109

[ لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ [ يوسف 111

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” Yusuf 111

Dan seusai menceritakan kisah nabi Musa ‘alaihissalam dan musuh bebuyutannya, yaitu Fir’aun, Allah Ta’ala berfirman:

[إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَن يَخْشَى [ النازعات 26

“Sesungguhnya dalam yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya).” An Nazi’aat 26

Dan pada banyak kesempatan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memperingatkan para sahabatnya agar tidak mengulangi kesalahan orang-orang terdahulu. Diantara ketika sahabat kesayangannya, yaitu Usamah bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu memintakan keringanan bagi seorang wanita yang mencuri agar tidak dipotong tangannya. Menghadapi permohonan sahabat kesayangannya ini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersikap tegas dan bersabda:

(إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقِيمُونَ الْحَدَّ عَلَى الْوَضِيعِ ، وَيَتْرُكُونَ الشَّرِيفَ ، وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا) رواه البخاري

“Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian terjerumus dalam kebinasaan, dikarenakan sikap mereka yang pilih kasih. Mereka bersikap tegas dengan menegakkan hukuman kepada rakyat jelata, akan tetapi mereka membiarkan orang terpandang melakukan kejahatan. Sungguh demi Allah Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, andailah Fatimah melakukan perbuatan itu (mencuri) niscaya akan aku potong tanagnnya.” Riwayat Bukhari.

Dahulu Khalifah Umar bin Al Khatthab Radhiallahu ‘Anhu menyatakan:

إنما تنقض عرى الإسلام عروة عروة إذا نشأ في الإسلام من لا يعرف الجاهلية

“Sesungguhnya simbol-simbol agama islam akan terurai satu demi satu, bila telah ada generasi dari umat islam yang tidak mengenal bagaimana kehidupan jahiliyyah.”

Seusai menyebutkan ucapan Kholifah Umar bin Al Khatthab Radhiallahu ‘Anhu ini, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وهذا حال كثير ممن نشأ في عافية الإسلام وما عرف ما يعارضه ليتبين له فساده فإنه لا يكون في قلبه من تعظيم الإسلام مثل ما في قلب من عرف الضدين.

“Dan demikianlah halnya kebanyakan orang-orang yang terlahirkan di tengah-tengah komunitas Islam, sedangkan ia tidak pernah mengetahui selainnya, dengan demikian ia kurang mengetahui sejauh mana kesesatan ajaran selain Islam. Generasi yang demikian ini, biasanya kurang bisa mengagungkan agama islam sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang muslim yang mengetahui Islam dan lainnya.” ([1])

Berangkat dari ini, saya mengajak saudaraku sekalian untuk sedikit mengamati rekam jejak para penganut agama Syi’ah sepanjang sejarah ummat Islam.

1. Pembantaian Jama’ah Haji Dan Pencongkelan Hajar Aswad.

Saudaraku, pernahkah anda mengetahui orang kafir yang berani menyerang dan membantai Jama’ah Haji yang sedang bertowaf di sekitar Ka’bah. Mayat-mayat jama’ah haji mereka cemplungkan ke dalam sumur Zam-zam. Hajar Aswad yang melekat di sudut Ka’bah mereka congkel. Belum cukup dengan perbuatan keji itu, musuh Islam itupun meneruskan kebengisannya dengan mencongkel pintu Ka’bah, merobek kiswah dan berusaha mencongkel talang emasnya?.

Ketahuilah saudaraku! Tindakan kejam nan bengis itu benar-benar pernah terjadi. Akan tetapi yang sangat mengejutkan, ternyata kejahatan itu tidaklah dilakukan oleh orang-orang Yahudi, atau nasrani atau Hindu. Kebengisan itu justru dilakukan oleh orang-orang yang mengaku sebagai orang islam. Aneh bukan?

Saya rasa, saudara tidak perlu terlalu heran, sebab demikianlah faktanya. Tidak heran bila musuh-musuh Islam berusaha mendukung dan membela berbagai sekte sesat yang ada di tengah-tengah umat islam. Karena dengan meminjam tangan-tangan merekalah kaum Yahudi dan Nasrani dapat melakukan berbagai tindak kejahatannya.

Ini adalah salah satu bukti nyata akan kebenaran sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

(إِنِّي سَأَلْتُ رَبِّي لِأُمَّتِي أَنْ لَا يُهْلِكَهَا بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا يُسَلِّطَ عليهم عَدُوًّا من سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ وَإِنَّ رَبِّي قال يا محمد إني إذا قَضَيْتُ قَضَاءً فإنه لَا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لِأُمَّتِكَ أَنْ لَا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ وَأَنْ لَا أُسَلِّطَ عليهم عَدُوًّا من سِوَى أَنْفُسِهِمْ يَسْتَبِيحُ بَيْضَتَهُمْ وَلَوْ اجْتَمَعَ عليهم من بِأَقْطَارِهَا حتى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكُ بَعْضًا وَيَسْبِي بَعْضُهُمْ بَعْضًا  رواه مسلم

“Sesungguhnya aku pernah memohon kepada Allah (Tuhanku) agar Ia tidak membinasakan umatku dengan bencana yang merata, dan agar Ia tidak memberikan kesempatan kepada musuh dari selain diri mereka sendiri yang akan menguasai seluruh negri mereka. Dan sesungguhnya Allah (Tuhanku) berfirman: Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku telah memutuskan dan keputusanku tidak dapat ditentang. Sesungguhnya Aku telah mengabulkan permintaanmu: agar Aku tidak membinasakan umatmu dengan bencana yang merata, dan agar Aku tidak memberikan kesempatan kepada musuh dari selain diri mereka sendiri yang akan menguasai seluruh negri mereka, walaupun mereka telah bersatu padu dari seluruh penjuru dunia. Kebinasaan umatmu hanya akan terjadi bila sebagian dari umatmu telah membinasakan dan menawan sebagian lainnya.” Muslim.

Inilah yang mendasari kaum Yahudi, Nasrani dan lainnya rela menggelontorkan dana yang begitu besar kepada berbagai yayasan, atau ormas atau sekte umat Islam.

Untuk mengetahui sejarah kelam yang pernah menodai lembaran sejarah umat islam, berikut saya sarikan kejadiannya.

Pada tahun 317 H, satu pasukan besar dibawah pimpinan Abu Thahir Al Qirmithy, tepatnya pada hari Tarwiyah tanggal 8 Zul Hijjah tiba di kota Mekkah. Tanpa menunda sedikitpun, pasukan Abu Thahir langsung membantai jama’ah haji yang berada di kota Makkah dan merampas harta mereka. Dengan bengisnya mereka membatai setiap orang muslim yang mereka temui di sana. Tanah suci, bulan suci dan sedang mengamalkan ibadah thowaf mengelilingi Ka’bah tidak membangkitkan rasa iba sedikitpun pada diri Abu Thahir dan pasukannya. Bahkan Abu Thahir dengan kesombongannya duduk di pintu Ka’bah, sambil memandangi pasukannya membantai jamah haji.

Setelah tidak tersisa seorangpun dari jama’ah haji yang ada di Masjid Haram, Abu Thahir memerintahkan pasukannya untuk mencemplungkan mayat-mayat mereka ke dalam sumur Zam-zam. Dan setelah sumur Zam-zam –penuh dengan mayat, sisanya dikuburkan di tempat ia terbunuh di dalam Masjid Haram.

Selanjutnya Abu Thahir memerintahkan pasukannya untuk mencongkel pintu Ka’bah, dan merobek-robek Kiswah Ka’bah untuk dibagikan kepada pasukannya. Belum puas dengan kejahatannya, Abu Thahir kembali memerintahkan salah seorang pasukannya untuk melepas Talang Emas yang ada di dalah satu sudut atas Ka’bah, akan tetapi orang tersbeut terjungkal hingga akhirnya binasa. Menyaksikan kejadian itu, Abu Thahir mengurungkan niatnya mengambil Talang Emas dan mengalihkan perhatiannya ke Hajar Aswad. Abu Thahir memerintahkan seorang pasukannya untuk mencongkel Hajar Aswad. Selanjutnya Hajar Aswad ini ia bawa pulang ke tempat tinggalnya di daerah Bahrain atau yang sekarang dikenal dengan wilayah Qatif, pesisir timur dari Kerajaan Saudi Arabia. Hajar Aswad terus berada dalam genggamannya selama 22 (dua puluh dua) tahun lamanya. ([2])

Tatkala perbuatan Abu Thahir ini terdengar oleh Abu Muhammad Ubaidullah Al ‘Alawi pendiri dinasti Fatimiyyah yang berasaskan agama Syi’ah, ia segera menuliskan surat berisi teguran kepada Abu Thahir:

قد حققتَ على شيعتنا ودعاة دولتنا اسم الكفر والإِلحاد بما فعلتَ، وإن لم تردّ على أهل مكّة وعلى الحجّاج وغيرهم ما أخذتَ منهم، وتردّ الحجر الأسود إلى مكانه، وتردّ كسوة الكعبة، فأنا بريء منك في الدنيا والآخرة.

“Dengan perbuatanmu ini engkau telah membuktikan kepada masyarakat bahwa para pengikut kita (Syi’ah kita) dan kaki tangan negara kita adalah orang-orang kafir dan sesat. Bila engkau tidak segera mengembalikan harta penduduk Mekkah, para jamaah haji,  Hajar Aswad, dan Kiswah Ka’bah, maka sejak sekarang aku berlepas diri darimu di dunia dan akhirat.”

Setelah Abu Thahir membaca surat teguran dari pemimpinnya, yang sekaligus perintis dinasti Ubaidiyyah atau Fatimiyyah, iapun segera berusaha mengumpulkan kembali harta penduduk Mekah yang masih tersisa dan segera mengirimkannya bersama Hajar Aswad ke kota Mekkah.

Dan pada waktu yang sama, ia juga membalas surat teguran Abu Muhammad Ubaidullah Al ‘Alawi dengan menuliskan surat berikut:

إنّ الناس اقتسموا كسوة الكعبة وأموال الحُجّاج، ولا أقدر على منعهم.

“Sesungguhnya pasukanku telah membagi-bagi Kiswah Ka’bah dan harta para jama’ah haji, sedangkan aku tidak kuasa untuk mencegah mereka dari melakukan hal itu.” ([3])

Saudaraku! Apa perasaan anda tatkala mengetahui bahwa ternyata salah satu sekte dari agama Syi’ah pernah melakukan kejahatan bengis seperti ini? Mungkinkah masih tersisa rasa simpatik di hati anda walau hanya sedikit, kepada para penganut paham yang telah mendoktrin pengiklutnya melakukan kejahatan keji semacam ini?

Mungkin ada dari saudara yang berkata: Ah itu adalah kejahatan perorangan sehingga tidak mewakili seluruh penganut agama Syi’ah.

Saudaraku! Saya harap saudara belum melupakan data-data yang telah saya paparkan sebelumnya. Diantara data yang meruntuhkan anggapan saudara ini ialah riwayat berikut:

قال الأصبغ بن نباتة: بينا نحن ذات يوم حول أمير المؤمنين عليه السلام في مسجد الكوفة، إذا قال: يا أهل الكوفة، لقد حباكم الله عز وجل بما لم يحب به من فضل مصلاكم؛ بيت آدم وبيت نوح وإدريس ومصلى إبراهيم الخليل، ومضلى أخي الخضر عليهم السلام، ومصلاي، وإن مسجدكم هذا لأحد الأربعة المساجد التي اختارها الله عز وجل لأهلها ….. ولا تذهب الأيام والليالي حتى ينصب الحجر الأسود فيه، وليأتين عليه زمان يكون مصلى المهدي من ولدي ومصلى كل مؤمن، ولا يبقى على وجه الأرض مؤمن إلا كان به أو حن قلبه إليه.

“Al Asbagh bin Nabatah mengisahkan: Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk di sekitar Amirul Mukminin ‘alaihissalaam di dalam Masjid kota Kufah, tiba-tiba ia berkata: Wahai penduduk Kufah, sungguh Allah Azza wa Jalla telah mengaruniakan kepada kalian  suatu keutamaan buat masjid kalian ini, suatu hal yang tidak pernah Ia karuniakan kepada selain kalian. Masjid kalian ini adalah rumah Nabi Adam, Nuh, Idris, dan tempat solat Nabi Ibrahim Al Khalil,dan saudaraku Khidir ‘alaihimussalam. Dan Masjid kalian ini adalah satu dari keempat masjid yang Allah Azza wa Jalla pilihkan untuk para penduduknya. ….. Tidaklah hari dan malam berlalu (datang qiyamat) hingga Hajar Aswad benar-benar telah disematkan padanya. Dan sungguh akan datang suatu masa, masjid ini menjadi tempat solat Imam Mahdi dari anak keturunanku, dan juga tempat solat setiap orang mukmin. Saat itu, tidaklah ada seorang mukmin melainkan akan mengunjunginya atau hatinya menjadi rindu untuk mengunjunginya.”

Riwayat ini dapat anda temukan di beberapa referensi terpercaya agama Syi’ah, diantaranya: Man laa Yahdhuruhu Al Faqih 1/231, karya As Syeikh As Shoduq wafat thn 381 H, Tafshil Wasaa’ilus Syi’ah (Aalul Bait) 5/258, karya Al Hur Al ‘Amily wafat thn: 1104 H, Bihaarul Anwaar 97/390, karya Muhammad Baqir Al Majlisi wafat thn 1111 H, & Kasyful Ghitha’ 1/212, karya As Syeikh Ja’far Al Ghitha’ Qadah wafat thn: 1228 H.

Dan semoga gambar “Ka’bah” tiruan karya para penganut agama Syi’ah yang ada di kota Najaf – Iraq belum terlupakan dari memori ingatan anda.

2. Membunuh Imam Abu Bakar An Nabulsi.

Beliau adalah seorang ulama’ ahli ibadah dan zuhud. Beliau ditangkap oleh kaki tangan Al Mu’iz Al Fathimi, pemimpin dinasti Ubaidiyyah. Ketika beliau telah dihadapkan kepada Al Mu’iz, beliau ditanya oleh Al Mu’iz: Telah sampai kepadaku bahwa engkau berkata: Andai aku memiliki sepuluh anak panas, niscaya yang sembilan akan panahkan kepada pasukan Romawi, sedangkan sisanya akan aku bidikkan kepada para penguasa Mesir (Dinasti Ubaidiyah)? Ditanya demikian, Imam Abu Bakar AN Nabulsi menjawab: Aku tidak pernah mengatakan demikian. Al Mu’izpun menyangka bahwa beliau telah ruju’ dari ucapannya, sehingga ia bertanya: Lalu apa yang engkau ucapkan? Abu Bakar An Nabulsi menjawab: Seyogyanya kita membidikkan sepuluh anak panah kepada kalian sedangkan satunya kepada pasukan Romawi. Mendengar jawabannya ini, Al Mu’iz merasa keheranan dan kembali bertanya: Mengapa demikian? Abu Bakar An Nabulsi menjawab: Karena kalian telah merombak agama umat Islam, membantai orang-orang shaleh, memadamkan cahaya Allah, dan mengaku-ngaku sesuatu yang bukan milik kalian. Selanjutnya Al Mu’iz memerintahkan agar beliau diarak keliling kota, lalu pada hari kedua beliau dipukuli dengan keras, dan pada hari ketiga beliau dikelupas kulitnya hingga meninggal dunia. ([4])

3. Bersekongkol dengan Holako Khan.

Petakal kelam ini bermula pada tahun 642 H, yaitu ketika  Khalifah Abbasiyyah yang berjuluk Al Musta’shim Billah Abdullah bin Manshur Al Abbasi menunjuk Muhammad bin Ahmad bin Ali Al Alqamy sebagai wazir (setingkat perdana menteri). ([5])

Mendapatkan kepercayaan dan kehormatan besar seperti ini dari khalifah umat islam bukannya bersyukur. Jiwa kotor dan hina yang menetap dalam dirinya menjadikannya membalas air susu Khalifah umat islam dengan air tuba. Dengan memanfaatkan kedudukannya yang stategis dalam khilafah islamiyah Muhammad Al Alqamy menjalankan makar dan kejahatannya.

Makar kejinya ini diwujudkan dengan menghapuskan nama-nama pasukan Khilafah dari daftar gaji, sehingga kebanyakan dari merekapun terpaksa keluar dari kesatuan pasukan khilafah. Sampai-sampai, untuk mempertahankan hidup, banyak dari pasukan yang mengemis di pintu-pintu masjid dan pasar . Puncaknya, ketika pasukan Tar-tar menyerbu kota Baghdad, pasukan khilafah yang semula berjumlah 100.000 (seratus ribu), karena perlakuan tidak manusiawi itu hanya tersisa sekitar 10.000 (sepuluh ribu) pasukan.([6])

Setelah Muhammad Al Alqamy berhasil melumpuhkan pasukan khilafah, ia segera mengirimkan surat kepada Holako Khan. Ia menceritakan keadaan khilafah islamiyyah di Baghdad yang telah lemah, dan jumlah pasukannya yang tinggal sedikit. Ia memberi semangat kepada Holako Khan agar segera datang dengan pasukannya guna menyudahi Khilafah ‘Abbasiyah.

Semua itu ia lakukan demi mewujudkan impiannya membumi hanguskan sang khalifah, para ulama’ dan seluruh ahlus sunnah. Sebagaimana dengan makar keji ini, Muhammad Al Alqamy berharap  mendapatkan kesempatan untuk mengembalikan kejayaan dinasti Fatimiyah yang belum lama sirna dari bumi Mesir.

Sudah dapat ditebak, ketika Holako Khan bersama pasukannya yang berjumlah 200.000 (dua ratus ribu) tiba di kota Baghdad, pada bulan Zul Hijjah tahun 655 H. tanpa susah payah ia dapat menundukkan segala perlawanan yang dilakukan oleh umat Islam. Tak ayal lagi, selama 40 (empat puluh) hari berturut-turut umat islam dari penduduk kota Baghdad dan sekitarnya dibantai oleh pasukan Tar-tar. Sebagian ulama’ ahli sejarah menaksir jumlah umat Islam yang menjadi korban kebengisan Holako Khan dan pasukannya mencapai 2 juta muslim. ([7])

Hari-hari kelam yang merudung umat Islam di kota Baghdad ini tidak menjadikan  Muhammad Al Alqami menjadi iba. Bahkan sebaliknya ia merasa bangga dan berbahagia menyaksikan semua kejadian pilu tersebut, dan tambah bersemangat untuk terus melancarkan pengkhiatan selanjutnya.

Bersama karib kerabat dan orang-orang kepercayaannya menemui Holako Khan. Setelah ia berjumpa dengan pemimpin Tar-tar ini, segera ia kembali dan memberikan saran kepada Khalifah Al Musta’shim Billah Abdullah bin Manshur Al Abbasi bernegoisasi langsung dengan pemimpin Tar-tar. Muhammad Al Alwqamy menyarankan kepada sang Khalifah agar menawarkan separo penghasilan negri Irak sebagai tebusan perdamaian antara keduanya.

Selanjutnya sang khalifahpun menuruti saran dari perdana menteri kepercayaannya ini. Bersama 700 orang yang terdiri dari para qadhi (hakim), ulama’, ahli ibadah, pejabat khilafah dan pemuka masyarakat, sang khalifah menuju ke tempat kediaman Holako Khan.

Setibanya disana, mereka dihalangi oleh pasukan Holako Khan, dan yang diizinkan masuk hanya 17 (tujuh belas) orang saja. Setelah Khalifah bersama segelintir orang kepercayaannya masuk ke tempat Holako Khan, seluruh pengiring khalifah yang menanti di luar rumah,  dibantai, dan tidak seorangpun dari mereka dibiarkan hidup.

Seusai bernegoisasi dengan Holako Khan, sang Khalifah dengan diiringi oleh Khaujah Nushairuddin At Thusi dan Muhammad Al Alqami kembali ke istana Khalifah. Tanpa menunda sedikitpun, sang Khalifah segera mengirimkan emas, perhiasan, permata  dan barang-barang berharga lainnya kepada Holako Khan, dengan harapan hatinya menjadi lunak.

Diluar dugaan sang Khalifah, disaat ia berusaha membuat perdamaian dengan Holako Khan, kedua tokoh Syi’ah di atas, melakukan perngkhianatan berikutnya. Keduanya membisikkan kepada Holako Khan agar tidak menjalin perjanjian apapun dengan Khalifah. Muhammad Al Alqami mengatakan kepada Holako bahwa perjanjian apapun yang ia jalin dengan Khalifah tidak hanya akan berumur panjang. Perjanjian damai antara mereka paling lama berumur satu atau dua tahaun, dan selanjutnya hubungan merekapun akan kembali seperti sedia kala.

Belum cukup dengan pengkhianatan itu, kedua tokoh Syi’ah inipun meneruskan pengkhianatan keduannya dengan menganjurkan Holako Khan agar membunuh sang Khalifah.

Tak ayal lagi, Holako Khan merasa mendapatkan masukan yang sangat berharga dan otentik. Betapa tidak, pengakuan tentang perilaku sang Khalifah datang dari perdana menterinya langsung, sehingga menurutnya layak untuk dipercaya. Karenanya, ketika sang Khalifah kembali menemuinya, segera ia memerintahkan pasukannya agar membunuh sang khalifah. ([8])

Kebengisan pasukan Holako Khan bukan hanya menimpa umat manusia secara khusus, bahkan karya ilmiyah dan budaya juga turut mejadi korbannya. Diriwayatkan oleh para ulama’ ahli sejarah bahwa beribu-ribu karya ulama’ baik yang berkaitan dengan ilmu agama atau lainnya dilarung ke dalam sungai Tigris (Dijlah). Sampai air sungai berubah warna menjadi hitam untuk beberapa hari akibat terkena tinta kitab-kitab manuskrip yang luntur.

4. Kebengisan Dinasti Sofawiyah.

Dinasti Sofawiyah adalah keturunan Syeikh Sofiyuddin Al Ardibily, wafat thn 735, yang menguasai Iran dan sekitarnya sejak tahun 907 H hingga tahun 1148 H. Dinasti inilah yang merubah agama masyarakt Iran. Bila sebelumnya komunitas Syi’ah hanya sebesar 10 % dari total penduduk, setelah berdirinya dinasti ini, berubah menjadi 60 % Syi’ah.([9])

Dengan kekuatan, pembantai, dan berbagai macam intimidasi, para penguasa dinasti ini menyebarkan paham Syi’ah di negri Iran dan sekitarnya.

Para ahli sejarah telah mencatatkan berbagai macam bentuk kejahatan para penguasa dinasti ini. Dan berikut ringkasan kebengisan dan kejahatan mereka

a. Melaknati ketiga Al Khulafa’ Ar Rasyidin.

Mencela sahabat secara umum dan ketiga al Khulafa’ ar Rasyidin adalah ciri khas para penganut aliran syi’ah sejak dahulu kala. Akan tetapi pada masa dinasti Sofawiyah, celaan dan kutukan ini dilakukan secara terbuka, di jalan-jalan, pasar-pasar dan bahkan dari atas mimbar masjid oleh para khatib dan penceramah. ([10])

Karena belum puas dengan itu, Syah Ismail terus melampiaskan kebenciaannya terhadap ahlissunnah, sampaipun para ulama’ yang telah lama meninggal dunia tidak selamat dari kebenciannya. Karena itu, ia membongkar kuburan Imam Abu Hanifah, Syeikh Abdul Qadir Al Jailani dan juga ulama’ lainnya. ([11])

Setiap orang yang tidak setuju dengan perilaku ini, maka ia akan dibantai dengan cara-cara yang bengis. Sampai-sampai korban kebengisannya mencapai angka yang sangat fantastis, yaitu sekitar  satu juta jiwa. ([12])

Akibat ulah para penguasa Iran yang semena-mena terhadap umat Islam dan para ulama’ secara umum, Khalifah Utsmaniyah kala itu yang berkedudukan di Turki merasa terpanggil untuk menghentikan kelaliman yang menimpa umat islam.

Untuk merealisasikan Khalifah keinginan mulia ini, sang Khalifah memimpin langsung pasukan besar dengan membawa serta peralatan perang yang lengkap. Dan dengan puji Allah Yang Maha Esa, umat islam berhasil terbebaskan dari cengkraman dinasti Sofawiyah yang bengis.([13])

b. Peringatan hari kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Salah seorang penguasa dinasti Sofawiyah, yaitu yang bernama Syah Ismail bin Haidar wafat thn: 1501 H, memprakarsai peringatan hari kematian Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu. Dia pulalah yang mencetuskan gagasan tathbir, yaitu memukul-mukul kepala dengan benda tajam hingga berdarah, punggung dengan rantai besi hingga memar, dan menampar wajah dan dada. Syah Ismail juga memerintahkan agar para pengikutnya mengenakan pakaian berwarna hitam dan berpantangan menikah pada bulan Muharam. Semua itu dalam rangka memperingati hari kematian Al Husain bin Ali Radhiallahu ‘Anhu.

Sebagian ahli sejarah menyatakan bahwa Syah Ismail mengadobsi hal-hal ini dari perayaan umat Nasrani terhadap har kematian Isa bin Maryam. Karena itu, konon Syah Ismail senantiasa mengundang umat Nasrani untuk turut menghadiri peringatan ‘Asyura’ ini. ([14])

Peringatan ini terbukti menjadi sarana paling ampuh guna menyebarkan paham Syi’ah dan di tengah-tengah masyarakat. Suara genderang, liputan media yang kuat, bait-bait syair, dan isak tangis peserta peringatan, menanamkan simpati kepada para penganut paham Syi’ah. ([15])

c. Merubah Azan Dengan Menambahkan Kata” Asyhadu Anna Aliyan Waliyullah”.

Sejatinya, penambahan ini pernah terjadi pada abad ke-3 atau ke-4 hijriyah, akan tetapi kala itu ditentang dengan keras sampaipun oleh sekte Syi’ah Imamiyah. Akan tetapi Syah Ismail kembali menghidupkan hal ini dan memaksakan kehendaknya, tanpa menggubris reaksi saiapapun. Dan sejak masa Syah Ismail hingga kini, penambahan azan ini terus menerus diamalkan oleh sekte Syi’ah, tanpa ada yang mengingkarinya.([16])

Saudaraku! Dahulu para pemuka sekte Syi’ah dengan kleras mengingkari penambahan kalimat ini, sampai-sampai tokoh ahli hadits mereka yang bernama As Syeikh As Shoduq berkata:

المفوضة لعنهم الله قد وضعوا أخبارا وزادوا في الآذان : (محمد وآل محمد خير البرية) مرتين، وفي بعض رواياتهم بعد أشهد أن محمدا رسول الله: (أشهد أن عليا ولي الله) مرتين، ومنهم من روى بدل ذلك : (أشهد أن عليا أمير المؤمنين حقا) مرتين. ولا شك أن عليا ولي الله وأنه أمير المؤمنين حقا، وأن محمدا وآله خير البرية، ولكن ذلك ليس في أصل الأذان، وإنما ذكرته ذلك ليعرف بهذه الزيادة المتهمون بالتفويض المدلسون أنفسهم في جملتنا.

“Sekte Al Muawidhah –semoga Allah melaknati mereka- telah memalsukan beberapa riwayat, dan menambah bacaan azan dengan kalimat : “Muhammad dan keluarga Muhammad adalah sebaik-baik manusia”, sebanyak dua kali. Pada sebagian riwayat lain, setelah bacaan : syahadat bahwa Muhammad adalah utusan Allah, ditambah bacaan: “saya bersaksi bahwa ali adalah wali Allah”, sebanyak dua kali. Dan dari mereka ada yang mengganti bacaan ini dengan kalimat: “Aku bersaksi bahwa Ali Amirul Mukmini Sejati” sebanyak dua kali. Tidak ada keraguan bahwa Ali adalah wali Allah, dia adalah Amirul Mukminin sejati, Muhammad dan keluarganya adalah sebaik-baik manusia. Akan tetapi semua bacaan itu tidak termasuk dari rangkaian kalimat azan. Saya merasa perlu untuk menyinggungnya, agar diketahui bahwa tambahan bacaan ini adalah ulah sekte Al Mufawwidhah yang mengaku-aku sebagai bagian dari sekte Syi’ah.” ([17])

At Thusi, yang juga tokoh terkemuka sekte Syi’ah, wafat thn: 460 H, juga menegaskan hal yang serupa:

أما ما روي في شواذ الأخبار من قول : أشهد أن عليا ولي الله وآل محمد خير البرية، فمما لا يعمل عليه في الأذان والإقامة، فمن عمل بها كان مخطئا.

“Adapun tambahan yang diriwayatkan pada berbagai riwayat yang aneh (lemah), yaitu ucapan: “Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah” dan: “Aku bersaksi bahwa keluarga Muhammad adalah sebaik-baik manusia”, adalah suatu hal yang tidak pernah di amalkan pada azan dan juga iqamah. Dengan demikian, orang yang melakukannya, maka ia telah berbuat kesalahan.” ([18])

Demikianlah saudaraku! Para penguasa dinasti As Shofawiyah berhasil merubah agama sekte Syi’ah. Sesuatu yang dahulu ditentang dan dikutuk oleh tokoh-tokoh Syi’ah, akan tetapi sejak dinasti As Shofawiyah hingga sekarang telah menjadi bagian dari prinsip dan simbol ajaran mereka.

5. Pengeboman kota Makkah & Penikaman Jama’ah Haji.

Lagi-lagi para pengikut agama Syi’ah membuktikan bahwa mereka tidak menghormati kesucian kota Makkah. Pada tanggal 3 Dzul Hijjah tahun 1406  H, petugas imigrasi bandara Jeddah berhasil menggagalkan penyelundupan bahan peledak C4 sebanyak 51 Kg, yang dilakukan oleh jamaah haji Iran.

Dan pada tahun 1407 H, jama’ah Haji Iran mengadakan demonstrasi besar-besaran di kota makkah. Bukan hanya demo, mereka juga merusak beberapa fasilitas umum, dan bahkan membawa senjata tajam guna melukai jamaah hajian lain yang mereka temui.


Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3

Gambar 1 & 2: Jamaah Iran berdemontrasi
Gambar 3: Pisau lipat dan senjata tajam yang digunakan untuk melukai jama’ah haji lain yang menghalangi demonstrasi Iran di kota Makkah.

Belum cukup puas dengan kejahatan di atas, kembali para penganut agama Syi’ah melancarkan kejahatannya. Pada hari senin tanggal 7 Dzul Hijjah 1409 H, tepatnya seusai sholat Isya’, pengikut Hizbullah Kuwait yang nota bene berpaham Syi’ah meledakkan dua bom di sekitar Masjidil Haram.

Dan tatkala para pelaku pengeboman berhasil ditangkap mereka mengakui bahwa yang memerintahkan mereka untuk melakukan kejahatan itu ialah Muhammad Baqir Al Mahri, yang nota bene adalah wakil Ayatullah Khumaini.

Dan tatkala para eksekutor pengeboman berhasil ditangkap dan oleh pemerintah Saudi Arabia menjatuhkan hukuman pancung kepada mereka, para pemeluk agama Syi’ahpun menghadiahkan predikat masti syahid. Dan kini, para penganut agama Syi’ah di Kuwait menuntut agar pemerintah Saudi Arabia mengembalikan jasad mereka guna dihormati sebagai para pejuang yang mati Syahid. ([19])

Saudaraku! Demikianlah pemahaman dan praktek jihad yang diimani dan diamalkan oleh para penganut agama Syi’ah. Apakah anda setuju dengan pemahaman dan praktek jihad ala Syi’ah ini?

Bila umat Islam yang sedang menunaikan rukun Islam kelima mereka yaitu ibadah haji, mereka korban dan tidak mereka hargai, maka mungkinkah mereka akan menghargai dan menghormati anda yang sedang berada di tengah-tengah keluarga anda?

Bila kesucian kota Mekkah tidak lagi mereka jaga, sehingga tega mengadakan pengeboman, dan menumpahkan darah selain kelompoknya, maka mungkinkah mereka akan menjaga kehormatan kota Jakarta dan kota-kota lainya di negri kita tercinta?

Saudaraku! Andai saudara adalah orang yang membenci pemerintah Saudi Arabia, akan tetapi akankah kebencian anda ini menjadikan anda lupa akan kesucian kota Mekkah?

Mungkinkah para penganut agama Syi’ah benar-benar telah menghapuskan kota Mekkah dari daftar kota-kota suci mereka? Mungkinkah “duplikat Ka’bah” yang mereka bangun di kota Kufah, telah menginspirasi mereka untuk membuat kekacauan di kota Mekkah, agar umat Islam berpaling darinya dan berpindah ke “ka’bah” mereka?

Saudaraku! Mungkin anda berkata, berbagai kejadian itu adalah bagian dari sejarah yang telah usah, sehingga sudah sepantasnya dilupakan dan tidak lagi diceritakan.

Tapi, coba anda kembali mengikuti dan mencermati ulah para penganut agama Syi’ah sakarang!

Kembali parfa penganut agama Syi’ah berusaha berulah dan memperbaharui sejarahnya.

Pada sore hari Jum’at tanggal 25 Safar 1430 H, tepatnya di pekuburan Baqi’. Mereka berusaha menggali kuburan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Para demonstran yang berjumlah ribuan berusaha mengambili tanah kuburan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha dengan tangan mereka dan kemudian memasukkan tanah tersebut ke dalam saku baju mereka. Karena pemuda Syi’ah yang berusaha mengambil tanah dari kuburan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berjumlah banyak, sampai-sampai tanah yang menutupi jasad beliau hanya tersisa tinggal beberapa jengkal.

Akan tetapi atas kebesaran dan kuasa Allah, pasukan anti huru hara Kerajaan Saudi segera tiba di tempat dan segera dapat menguasai keadaan, dan menghalau para demonstran.

Bagi anda yang ingin menyaksikan kejahatan para penganut agama Syi’ah di pekubuiran Baqi’ silahkan kunjungi link:

http://www.dd-sunnah.net/records/view/action/view/id/1781/

http://www.youtube.com/watch?v=rzEKEC8VNso&feature=fvsr

Demikianlah perilaku para pengikut agama Syi’ah terhadap Kota Mekkah dan Kota Madinah, dua kota suci umat islam.

Setelah anda mengetahui ulah mereka ini, masihkah ada rasa simpatik kepada mereka? Atau masihkah ada harapan bahwa para pengikut agama Syi’ah akan membela agama Islam di kancah internasional, apalagi sampai berhadapan dengan Amerika dan Zionis?

Menurut hemat anda, mungkinkah orang yang benar-benar beriman tega menodai kesucian kota Makkah dengan pengeboman, demonstrasi, dan menghina kuburan ‘Aisyah Istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?


[1] )  Dar’ut Ta’arud Al ‘Aqel wa An Naqel 5/259.

[2] )  Al Kamil Fi At Tarikh oleh Ibnul Atsir 7/53-54 & Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  11/182 & 252.

[3] )  Al Kamil Fi At Tarikh oleh Ibnul Atsir 7/54.

[4] )  Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  11/284 & Siyar A’alam An Nubala’ 16/149.

[5] ) Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/192.

[6] )   Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/234-235.

[7] )  Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir  13/235.

[8] ) Al Bidayah wa An Nihayah oleh Ibnu Katsir 13/234.

[9] ) ‘Audatus Sofawiyyin hal: 20

[10] ) Lamhaat Ijtima’iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/58.

[11] ) Lamhaat Ijtima’iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/54 & 70.

[12] )  Lamhaat Ijtima’iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/43.

[13] )  Idem 1/81-85.

[14] )  ‘Audatus Sofawiyyin hal: 11.

[15] ) Lamhaat Ijtima’iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/59.

[16] ) Lamhaat Ijtima’iyah Min Tarikh Al Iraq Al Hadits, oleh Dr. Ali Al Wardi 1/59 & ‘Audatus Sofawiyyin hal: 11.

[17] )  Man laa Yahdhuruhu Al Faqih, oleh As Syeikh As Shaduq, wafat thn: 381 H, hal: 1/290-291.

[18] )  An Nihayah Fi Mujarradi Al Fiqhi wa Al Fatawa, oleh Abu Ja’far Muhammad bin Al Hasan At Thusy wafat thn 460, hal: 69.

[19] )  Sumber: Harian Saudi Arabia Al Watan edisi 20/10/2009.