Impian Di Siang Bolong: Menyandingkan Sunnah & Syi’ah.

Persatuan umat Islam di atas kebenaran, yang dilandasi oleh pengamalan syari’at Islam dengan utuh dan benar adalah harapan setiap muslim. Bukan sekedar harapan belaka, akan tetapi mempersatukan umat adalah tanggung jawab dan perintah Allah Ta’ala. Dan sudah barang tentu, berjuang untuk mewujudkan cita-cita luhur ini di dunia nyata adalah amal ibadah yang sangat agung.

Terlalu banyak dalil, baik dari Al Qur’an ataupun As Sunnah yang menjelaskan akan hal ini. Diantaranya dalil-dalil itu ialah firman Allah Ta’ala berikut:

[وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ[ الأنفال 46

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berselesih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” Al Anfal 46.

Pada ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan umat Islam agar senantiasa taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah juga melarang mereka dari persengketaan dan perselisihan. Selanjutnya ayat ini menjelaskan dampak yang menimpa mereka bila mereka melanggar dua perintah ini. Hati mereka menjadi gentar, dan kekuatannya sirna.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga tak henti-hentinya menekankan hal ini kepada umatnya.

(لاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُم عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ الله إِخْوَاناً، المُسْلِم أَخُو المًُسْلِم لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ) متفق عليه

“Janganlah engkau saling iri/hasad, janganlah saling menaikkan penawaran barang (padahal tidak ingin membelinya), janganlah saling membenci, janganlah saling merencanakan kejelekan, janganlah sebagian dariu kalian melangkahi pembelian sebagian lainnya, dan jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Seorang muslim adalah saudara orang muslim lainnya, tidaklah ia menzhalimi saudaranyanya, dan tidaklah ia membiarkannya dianiaya orang lain, dan tidaklah ia menghinanya.” Muttafaqun ‘alaih

Dan sudah barang tentu, sebagai seorang muslim, andapun mendambakan terwujudnya cita-cita luhur ini. Bukankah  demikian?

Akan tetapi, akankah cita-cita luhur nan terpuji anda ini dapat anda wujudkan dengan para pengikut Syi’ah? Mungkin saja anda bersikap optimis dan berkata : Mungkin dan masih tersisa peluang untuk mewujudkannya.

Saudaraku! Ada baiknya bila anda mengambil pelajaran dari para pejuang persatuan antara Ahlussunnah dengan sekte Syi’ah sebelum anda. Dan Alangkah indahnya bila anda mengindahkan pesan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut:

(لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ) متفق عليه

“Tidak pantas seorang mukmin tersengat di satu lubang sebanyak dua kali.” Muttafaqun ‘alaih

Karenanya, berikut ini saya mengajak anda untuk tidak mengulang pengalaman pahit yang telah menimpa banyak tokoh sebelum anda. Berikut beberapa tokoh Ahlissunnah yang pernah terperdaya oleh permainan “sandiwara” para aktor taqrib (persatuan) dari sekte Syi’ah.
1. Dr. Mustofa As Siba’i.

Beliau adalah salah satu tokoh dunia Islam paling bersemangat menggalakkan dan menyerukan taqrib antara Ahlissunnah dengan Syi’ah. Beliau memulai petualangannya dari diri beliau sendiri, sehingga beliau mulai memaparkan fiqih Syi’ah dalam karya-karya tulis dan mata kuliah beliau di fakultas Syari’ah Universitas Damaskus.

Beliau berkeyakinan bahwa salah satu sarana ampuh untuk mewujudkan “taqrib” ialah adanya kunjungan imbal balik antara ulama’ kedua kelompok. Sebagaimana ulama’ kedua kelompok sudah sepantasnya menerbitkan buku-buku yang menyeru umat Islam agar bersatu dan melupakan perbedaan.([1])

Pada tahun 1953 H, Dr. Mustofa berkesempatan untuk mengunjungi Abdul Husain Syarafudin Al Musawi, salah satu aktor “taqrib” dari sekte Syi’ah yang bermukim di Lebanon Selatan, atau yang disebut dengan “Jabal ‘Amil”. Ketika beliau berkunjung ke rumah Abdul Husai, didapatkan beberapa tokoh sekte Syi’ah sedang berada di rumahnya. Tidak ingin kehilangan momentum, maka Dr Mustofa-pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mensosialisasikan gagasannya.

Setali tiga uang, gagasan Dr Mustofa ini langsung diamini dan tidak disiasiakan oleh Abdul Husain. Tidaklah Keduanya berpisah kecuali setelah dicapai kesepakatn untuk memprakarsai suatu muktamar besar yang menghadirkan ulama’ kedua kelompok. Dr. Mustofa As Sibai begitu girang dengan keberhasilan yang ia capai ini, sehingga beliaupun semakin giat mensosialisasikan gagasanya ini.

Akan tetapi betapa terkejutnya beliau, ketika mendengar berita bahwa Abdul Husain Al Musawi menerbitkan satu karaya tulisnya yang berjudul: “Fi Abi Hurairah” (Seputar Abu Hurairah). Suatu buku yang dipenuhi dengan cacian, kutukan bahkan pengkafiran sahabat Abu Hurairah. Berikut diantara ucapan Abdul Husain yang benar-benar meluluh lantahkan harapan dan gagasan Dr, Mustofa:

أن أبا هريرة كان منافقا كافرا وأن الرسول قد أخبر عنه بأنه من أهل النار

“Sesungguhnya Abu Hurairah adalah seorang munafik lagi kafir, dan Rasulullah telah mengabarkan bahwa ia adalah salah satu penghuni neraka.” ([2])

Dari pengalaman pahitnya ini, Dr Mustofa As Sibai menarik satu kesimpulan berikut:

أن المقصود من دعوة التقريب هي تقريب أهل السنة إلى مذهب الشيعة لا تقريب المذهبين كل منهما إلى الآخر

“Sebenarnya maksud dari ajakan taqrib “pendekatan’ ialah mendekatkan Ahli As Sunnah kepada mazhab Syi’ah, dan bukan mendekatkan masing-masing dari kedua mazhab kepada lainnya.”([3])

Demikianlah saudaraku, hasil dari eksperimen Dr Mustofa As Sibai dalam hal “taqrib”/ pendekatan antara Ahli As Sunnah dengan Syi’ah.

Diantara fakta yang menguatkan kesimpulan Dr Mustofa di atas ialah fenomena “Darut Taqrib‘. Yaitu satu badan yang bertugas memperjuangkan terwujudnya taqrib antara kedua kelopok. Badan ini hanya ada di kota Kaero –Mesir yang nota bene sebagai salah satu basis dan pusat Ahli As Sunnah.  Akan tetapi badan ini tidak ditemukan di berbagai kota Iran, Lebanon Selatan atau pusat-pusat Syi’ah lainnya.
2. Syeikh Musa Jarullah.

Belia adalah salah satu ulama’ dari Turkistan, lahir pada tahun 1295 H dan wafat di Mesir pada tahun 1369 H.

Penelitian beliau memiliki makna yang begitu luar biasa. Betapa tidak, percobaan beliau dimulai dari studi literatur sekte Syi’ah yang begitu banyak. Beliau telah menelaah berbagai referensi terpercaya Syi’ah, diantaranya :

–      Ushulul Kafi wa Furu’uhu

–      Man La Yahdhuruhu Al Faqih.

–      Seluruh kitab Al Wafi.

–      Mir’aatul ‘Uqul.

–      Bihaarul Anwar.

–      Ghayatul Maram.

–      Kasyful Ghitha.

–      Dan masih banyak lainnya.

Tidak hanya sampai di sini, beliau melanjutkan penelitiannya dengan berinteraksi langsung dengan para penganut Syi’ah. Beliau menyempatkan diri  untuk tinggal di tengah-tengah masyarakat Syi’ah di Irak dan Iran selama lebih dari tujuh bulan. Simaklah pengakuan beliau berikut ini:

جلت في بلاد الشيعة طولا وعرضا سبعة أشهر وزيادة، وكنت أمكث في كل عواصمها أياما أو أسابيع، وأزور معابدها ومشاهدها ومداسها وأحضر محافلها وحفلاتها في العزاء والمآتم وكنت احضر حلقات الدروس في البيوت والمساجد وحجراتها، وكنتت أستمع ولا أتكلم بكلمة وكنت أجول في شوارع العواصم وأحيائها ودروب القرى وأزقتها لأرى الناس في حركاتهم وسكناتهم على أحوالهم اليومية.

“Selama tujuh bulan atau lebih, aku berkeliling di seluruh penjuru negeri Syi’ah. Di setiap kota-kota besar,s aya singgah selama beberapa hari atau minggu. Padanya saya mengunjungi berbagai tempat ibadah, pekuburan, dan sekolahan mereka. Sebagaimana aku juga menyempatkan diri untuk menghadiri perayaan, dan pesta ria mereka pada setiap acara peringatan kematian. Aku menyempatkan diri untuk mengunjungi majlis ta’lim mereka, baik yang diadakan di perumahan, masjid, halaman masjid, sekolahan ataupun. Selama ini aku hanya mendengarkan tanpa memberikan komentar sepatah katapun. Aku juga berkeliling di jalan-jalan perkotaan, perumahan dan pedesaan guna menyaksikan dari dekat aktifitas sehari-hari masyarakat dari dekat.”([4])

Untuk lebih menguatkan hasil penelitiannya, beliau juga menemui tokoh-tokoh sentral sekte Syi’ah. Diantara yang beliau jumpai ialah Muhsin Al Amin Al Husaini, dan

Semua itu beliau lakukan dengan harapan dapat menemukan celah bagi terwujudnya persatuan antar Ahlisunnah dengan Syi’ah.

Setelah puas membaca literatur Syi’ah, dilanjutkan dengan menyaksikan fakta masyarakat Syi’ah, dan bergerilya dari satu pemuka Syi’ah ke pemuka lainnya, beliau sampai pada satu kesimpulan yang meyakinkan. Beliau berkesimpulan bahwa sekte Syi’ah telah menutup rapat semua celah persatuan dengan ahlissunnah. Karenanya beliau berkata:

إني أرى أن إقامة الحد على أم المؤمنين عائشة وتكفير أهل البيت وعامة الصحابة ودعوى أن فئة من الصحابة حرفت القرآن وغيرته وبدلته نابعة من عقيدة قوم ] دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا[

Saya berkesimpulan bahwa idiologi : menegakkan hukum dera atas Ummul Mukminin ‘Aisyah, mengkafirkan ahlul bait, dan kebanyakan sahabat Nabi, anggapan bahwa ada sebagian sahabat yang telah menyelewengkan, merubah dan mengganti Al Qur’an, bersumberkan dari idiologi kaum yang dikisahkan pada ayat berikut :

[ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا]

“mereka mendakwa Allah Yang Maha Penurah mempunyai anak.” (Maryam 91). ([5])

Demikianlah hasil penelitian dan perjuangan Syeikh Musa Jarullah dalam mewujudkan impian persatuan antara Ahlissunnah dengan Syi’ah. Beliau sampai pada kesimpulan bahwa impian ini sama halnya dengan menyatukan antara agama Islam dengan agama Yahudi atau Nasrani.

Menurut hemat anda, mungkinkah agama anda tercinta, Islam dipersatukan dengan agama yahudi? Dan relakah diri anda untuk disandingkan dengan umat yahudi dan Nasrani?

3. Dar At Taqrib Baina Al Mazahib Al Islamiyah.

Salah satu upaya taqrib antara Ahlissunnah dengan Syi’ah yang paling besar ialah ditandai dengan berdirinya satu ormas yang secara khusus mengurusi masalah ini. Ormas ini berdiri pada tahun 1364 H atas prakarsa seorang tokoh terkemuka Syi’ah Iran yang bernama Muhammad Taqi Al Qummi.

Akan tetapi uniknya, ormas yang digagas oleh tokoh Syi’ah ini didirikan bukan di Iran atau pusat komunitas Syi’ah lainnya. Ormas ini justru didirikan di pusat ahlissunnah, yaitu Kaero-Mesir. Dan tidak selang waktu berapa lama, ormas ini menerbitkan majalah yang diberi nama “Risalatul Islam”.

Dengan dana besar dan propaganda yang begitu menggiurkan, banyak dari tokoh terkemuka ahlissunnah yang kepincut dan turut mendukung berbagai kegiatan ormas ini. Diantara mereka ialah : As Syeikh Abdullatif Muhammad As Subki, Syeikh Muhammad Arafah, Dr. Muhammad Al Bahy, Syeikh Muhammad Toha As Sakit, Syeikh Universitas Al Azhar kala itu yaitu Mahmud Syaltut.

Syeikh Mahmud Syaltut adalah salah satu ahlissunnah yang paling bergairah dan paling jauh terperangkap oleh kata-kata manis para aktor taqrib dari sekte Syi’ah. Begitu jauhnya pengaruh kata-kata manis tersebut, sampai membuat Syeikh Mahmud Syaltut mengeluarkan fatwa bolehnya beribadah dengan mazhab Syi’ah Itsna ‘Asyari’ah atau yang sering disebut dengan Mazhab Ja’fari. ([6])

Anda bisa bayangkan betapa girangnya para aktor taqrib dari sekte Syi’ah ketika berhasil mendapatkan fatwa ini.

Hari demi hari berlalu sejak berdirinya ormas ini, dan wajah asli dari para penggagas oramas inipun mulai tersingkap. Terlebih-lebih setelah ormas ini rajin mempublikasikan buku-buku sekte Syi’ah di Mesir, semisal :

–      Al Mukhtashor An Nafi’ karya Najmuddin Al Hilli wafat thn: 767 H.

–      Wasa’il As Syi’ah wa Mustadrakuha, karya Muhammad bin Ali bin Hasan Al Hur Al ‘Amili, wafat thn: 1104 H.

–      Tafsir Majma’ Al Bayan, karya At Thabrasi, wafat thn: 548 H.

–      Tazkiratul Fuqaha’, karya Al Hasan bin Yusuf Al Hily, wafat thn: 726 H.

–      Dan buku-buku lainnya.

Wajah dan misi para penggagas pendirian ormas ini semakin tersingkap lebar setelah majalah “Risalatul Islam” memuat tulisan Muhammad Sholeh Al Ha’iry seorang tokoh Syi’ah Iran yang berjudul: “Manhaj ‘Amali Lit Taqrib” (Pedoman Praktis Untuk Mewujudkan Pendekatan).

Pada artikel ini Al Ha’iry dengan tegas menyeru ahlussunnah agar dalam urusan agama berlandaskan dengan kedelapan referensi terpercaya sekte Syi’ah. Dan agar mereka mengizinkan dua pengajian umum untuk masyarakat Mesir  :

–      Kajian Fiqih Syi’ah

–      Kajian Idiologi (akidah) Syi’ah. ([7])

Wajah asli para penggagas “sandiwara taqrib” semakin nampak jelas, setelah Muhammad Taqi Al Qummi melalui majalah “Risalatus Islam” menyeru umat Islam di Mesir agar menerima idiologi Syi’ah sebagaimana mereka dapat menerima fiqih Syi’ah. Simaklah ucapan Al Qummi berikut:

فماذا عليهم لو استقبلوا ما وراء الفقه كما استقبلوا الفقه، وما الفرق بين الفروع العملية والفروع العلمية

“Apa salahnya bila mereka (penduduk Mesir) menerima dengan tangan terbuka berbagai permasalahan diluar masalah fiqih praktis, sebagaimana halnya mereka telah dapat menerima fiqih praktis Syi’ah. Apalah bedanya antara berbagai masalah furu’ amaliah (fiqih praktis) dari berbagai masalah furu’ ilmiyah (idiologi).”([8])

Setelah kedok tersingkap, maka para ulama’ ahlis sunnah yang pada awalnya terlena dengan “sandiwara taqrib” tanpa ragu-ragu segera menyatakan diri keluar dan berlepas diri dari keanggotaan “Daruttaqrib” beserta segala kegiatannya.

Syeikh Muhibuddin Al Khatib salah satu saksi hidup menggambarkan kejadian ini dengan berkata: ” Setelah sebelumnya sekian lama “darut takhrib (pusat perusakan)” yang dahulu diberi nama dengan “darut taqrib” berhasil memperdaya anggotanya, sekarang seluruh tokoh umat Islam ramai-ramai keluar dari keanggotaannya. Sehingga tidaklah tersisa dari anggotanya kecuali segelintir orang yang hanyut dalam buaian materi yang mereka peroleh darinya. Adapun para ulama’ yang benar-benar tulus, maka mereka semuanya tanpa ragu-ragu melepaskan dirinya dari keanggotaan “darut taqrib”, setelah kedoknya terbuka. Pasca terbongkarnya jati diri agama Syi’ah dan propaganda “taqrib” yang dijajakan oleh pemuka-pemuka Syi’ah, mereka beramai-ramai meninggalkan pusat ini dan juga berbagai “sandiwara” yang dipersiapkan untuk mereka perankan.”

Karena kedok “darut taqrib” telah tersingkap dan wajah bengis sekte Syi’ah nampak dengan jelas di hadapan umat islam di Mesir, tak urung gagallah permainan “sandiwara taqrib” yang mereka rancang.

Tidak ingin misinya gagal, maka para penggagas sandiwara ini segera merintis rumah industri sandiwara “taqrib” baru. Rumah industri baru ini mereka beri nama: “Daru Ahlil Bait”.

Rumah industri ini berupaya menyebarkan paham Syi’ah dengan menggunakan cara-cara yang lebih lembut dari yang ditempuh “darut taqrib”. Dar Ahlul Bait menyebarkan paham Syi’ahnya melalui pusat-pusat pengobatan, pusat-pusat bimbingan belajar, pembagian sembako, selebaran-selebaran dan juga mengadakan berbagai seminar. Semuanya bertujuan menebarkan paham Syi’ah di tengah-tengah masyarakat Ahlus Sunnah di Mesir.

Sejak tahun 1973 M, Dar Ahlul Bait ini mendapatkan izin resmi dari Departeman Sosial pemerintah Mesir, sehingga leluasa menjalankan berbagai kegiatannya.

Demikianlah sekelumit tentang pengalaman pahit ulama’-ualama’ kita dengan “sandiwara taqrib” antara Ahlis Sunnah dengan Syi’ah. Pengalaman mereka semakin meyakinkan bahwa Ahlis Sunnah bergandengan tangan dengan Syi’ah hanyalah bualan belaka. Bahkan hanya sekedar obat bius yang disuntikkan ke tubuh umat islam, agar mereka lengah dan lalai dari berbagai kegiatan para penjaja ajaran Syi’ah.

Saudaraku! sudikah anda bila anda diajak untuk mengutuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Relakah anda, bila Al Qur’an yang anda imani diragukan keabsahannya? Mungkinkah anda dapat mentolerer orang yang menyeru umat Islam menghamparkan karpet merah bagi orang-orang yang berencana memindahkan kiblat anda dari kota Makkah ke kota Najef? Dan relakah bila suatu saat putri-putri anda dijadikan bulan-bulanan lelaki hidung belang dengan sebutan “nikah mut’ah”? Inilah tebusan yang harus anda bayarkan sebelum terwujudnya persatuan atau taqrib dengan para penganut agama Syi’ah. Relakah anda melakukan itu saudaraku?


[1] )  As Sunnah wa Makanutuha Fi At Tasyri’ oleh Dr. Mustofa As Siba’i hal: 23.

[2] )  Idem hal: 23-24.

[3] )  Idem hal: 24.

[4] )  Al Wasyi’ah Fi Naqdi Aqa’id As Syi’ah oleh Musa Jarullah hal: 24.

[5] )  Idem, hal: 322

[6] ) Fatwa Syeikh Mahmud Syaltut dapat anda temukan dan baca di kitab : Mas’alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi’ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/309.

[7] ) Majalah Risalatul Islam jilid 8/403 &  Mas’alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi’ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/179.

[8] ) Majalah Risalatul Islam, thn : 2, edisi: 2, Jumadi Tsani, tahun : 1369 H, jilid 2/169 & Mas’alah At Taqrib Baina Ahlissunnah wa As Syi’ah oleh Dr. Nashir Al Qifari 2/180.