konstektual

14. Kemudian Ulil menutup alinea 10 dengan mengatakan: “Bahaya dari bibliolatry adalah hilangnya dimensi manusia (“ghayabul insan” istilah Hasan Hanafi) dalam modus keberagamaan. Pengalaman manusia menjadi remeh dan tidak dipentingkan, manusia menjadi tidak ada harganya, entah sebagai pribadi atau sebagai kolektif sosial yang kaya akan pengalaman-pengalaman histories yang kongkrit”.

Ulil betul-betul ingin berontak, tidak ingin menjadi hamba Allah yang taat, bahkan menggugat Islam yang telah mengajarkan agar setiap muslim patuh kepada ketentuan Allah. Ulil betul-betul keluar dari konteks ketika mengatakan: “Pengalaman manusia menjadi remeh dan tidak diperhitungkan”. Setiap muslim menyadari bahwa dunia ini adalah ujian, setiap aktivitas manusia pasti ada balasannya. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (al-Zalzalah: 7-8).

Ulil juga telah mengakui bahwa pikiran-pikirannya -yang kacau dan kusut ini- juga diambil dari Hasan Hanafi (lahir 1935, Mesir) penulis buku al-Wahyu Wa al-Waqi’ (wahyu dan realita; Teks dan Konteks), di sana ia menulis, “Aib, dan sangat aib menjadikan wahyu lepas dari dimensi waktu dan ruang”.[1]

Sedang dalam mausu’ah al-Hadharah al-Islamiyah, disebutkan bahwa ia berkata: “Wahyu tidaklah berada di luar konteks zaman, yang tetap dan tidak berubah, tetapi ia di dalam konteks zaman yang berkembang seiring dengan perkembangannya”.[2]

Prof. Dr. al-Zunaidi menjelaskan bahwa Hasan Hanafilah orang yang berupaya mempelajari Asbab Nuzul untuk mengukuhkan pahamnya bahwa pengalaman riil-lah yang telah mendekte wahyu dengan mendatangkan solusi-solusi bagi problematika yang ada, artinya realita dulu baru kemudian wahyu, seperti teori Karl Marx, realita dulu baru pemikiran. Dari sini Hasan hanafi mengalihkan hukum-hukum syar’i yang berisi perintah atau larangan, kepada suatu konsepsi bahwa tabiat (watak, karakter) manusialah yang mempraktekkan hukum-hukum itu, sehingga yang disebut wajib adalah apa yang dilakukan oleh manusia karena merasa ada dorongan kuat dalam dirinya, dan haram adalah: apa yang ditinggalkan oleh manusia karena merasa ada dorongan pribadi untuk meninggalkannya.[3] Demikianlah pembatalan syariat yang dilakukan oleh Hasan Hanafi dan yang diikuti oleh Ulil dan kelompok dengan termonologi barunya ”Konsep Takrim” dan “Kontekstualisasi syariah”, padahal substansinya adalah “konsep Tajhil dan pembatalan syari’at”.

15. Ulil yang tidak akrab dengan Sunnah Nabi itu, mencoba memahami landasan yang menjadi pijakan umat Islam, mengapa mereka mengagungkan firman Allah. Dia berkesimpulan,” bahwa sekurang-kurangnya ada dua asumsi dasar. Yang pertama adalah adanya pra anggapan bahwa teks adalah sesuatu yang dengan sendirinya tembus pandang, transparan. Seorang pembaca teks bisa langsung menembus dan menggali isi dan kandungan dalam teks itu tanpa ada hambatan apapun.” (alinea 11)

Ini adalah anggapan kosong yang tidak ada realitanya sama sekali. Apa yang ia pikirkan tidak ada dalam benak umat Islam. Yang ada adalah seperti yang dikemukakan oleh sahabat Ibn Abbas t : “Tafsir itu ada empat macam:

a. Tafsir yang diketahui oleh seluruh orang Arab (orang yang berbahasa Arab) dari bahasa mereka.

b. Tafsir yang (diketahui oleh seluruh muslim) tidak seorangpun dimaafkan apabila tidak mengetahuinya (yaitu halal dan haram).

c. Tafsir yang diketahui oleh para ulama (yaitu istimbath hukum).

d. Tafsir yang tidak diketahui oleh seorangpun kecuali oleh Allah I (yaituy ayat-ayat mutasyabihat)[4]


[1] Lihat. Al-Zunaidi, Op.cit, hal. 222

[2] Ibid: 222

[3] Ibnid, 222 dan 191

[4] Muhammad Nasib al-Rifa’i, Taisir al-Aliy al-Qadir (Riyadh, Maktabah al-Ma’arif, 1408) Jilid I hal. 3