FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH

M. O. BAABDULLAH

(Ulama Terkemuka Dari Manarul Islam Bangil)

Kedua: kepercayaan Syi’ah Imamiyah terhadap Imam-imam mereka.

Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah Ja’fariyah berkepercayaan terhadap Imam-imam mereka, bahwa mereka mengetahui hal ghaib dan merupakan manusia Ma’shum serta mempunyai derajat lebih tinggi dari para Nabi dan Rasul Allah, dan mereka hanyalah bisa mati atas kehendak mereka sendiri. Mereka menempatkan martabat para imam mereka setaraf dengan derajat ketuhanan, sebagaimana mereka katakan, bahwa para imam tersebut mengetahui hal yang sudah terjadi dan segala yang akan terjadi serta mengetahui segala isi Surga dan Neraka dan tidak ada sesuatu apa pun yang tersembunyi dari pengetahuan mereka – kebohongan dan kedustaan yang mereka lakukan atas nama Allah, dimana seseorang yang berakal sehat dan berjiwa waras berdiri bulu romanya untuk menukil ucapan semacam itu, tetapi anda mendapatinya semuanya tercantum di dalam buku-buku induk mereka yang paling terpercaya dan paling mereka agungkan.

Berikut ini wahai saudaraku Muslim, kami kutipkan keyakinan dan pendapat-pendapat mereka sebagaimana tersebut di atas dari kitab-kitab kaum Syi’ah, agar anda mengetahui permasalahannya secara jelas tentang ajaran dan perihal mereka, sehingga anda dapat membantah kebohongan mereka dan tipu daya mereka serta dapat menghentikan nafas mereka dan membungkam trompet mereka.

1. Dari Mufadhdhal bin Umar, dari Abi Abdillah a.s; adalah Amirul Mukminin semoga kesejahteraan Allah banyak terlimpah kepadanya, berkata: “Aku adalah penyalur Allah antara Surga dan Neraka. Aku adalah pembeda agung antara hak dan batil. Akulah pemilik tongkat Musa dan telah mengakui diriku semua Malaikat dan ruh serta rasul-rasul sebagaimana mereka lakukan pengakuan itu kepada Muhammad saw. Telah dipikulkan amanat kepadaku seperti yang dipikulkan kepadanya, yaitu amanat Tuhan. Dan sesungguhnya Rasulullah saw, pernah dipanggil lalu dibekali, dan aku pun pernah dipanggil lalu dibekali serta dia diajak bicara dan aku pun juga diajak bicara sehingga aku mengucapkan sesuai dengan apa yang diucapkannya. Aku telah diberi beberapa pemberian yang belum pernah diberikan kepada siapapun sebelumku. Aku mengetahui kematian dan bencana serta seluruh silsilah keturunan dan kata-kata pemutus, sehingga apa yang terlebih dahulu daripadaku tiada terluput dari diriku, dan tiada sesuatu yang jauh dariku dapat terlepas dari pengetahuanku. Aku memberi kabar gembira dengan izin Allah dan menunaikan tugas atas nama-Nya. Semua itu dari Allah yang telah menempatkannya pada diriku dengan Ilmu-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, hal. 196-197, juz 1, cetakan Teheran).

2. Ia berkata: “Sungguh aku benar-benar mengetahui segala yang di langit dan di bumi serta segala yang ada di surga dan neraka dan apa yang telah terjadi serta sedang dan akan terjadi”, (Al Kaafi fil Ushul, 1:261, cetakan Teheran).

3. Ia berkata: “Allah Tuhan Yang Maha berbarakah dan Maha Tinggi memiliki dua ilmu: Satu ilmu ditampakkan kepada Malaikat-Nya, para Nabi-Nya dan para Rasul-Nya. Semua yang ditampakkan kepada para Malaikat, para Rasul-Nya dan para Nabi-Nya sesungguhnya kami juga mengetahuinya. Dan satu ilmu yang dikhususkan untuk Dzat-Nya. Bilamana ada sesuatu hal yang terlintas pada Allah, kami pun diberitahu hal yang demikian itu. Dan para imam yang ada sebelum kami juga diberitahu. (Al Ushul Minal Kaafi, 1:255).

4. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Allah telah menciptakan Ulul Azmi di antara Rasul-rasul-Nya dan mereka dikaruniai kelebihan ilmu dan kami mewarisi ilmu mereka dan kelebihan mereka itu serta kami dilebihkan di atas ilmu mereka. Dan diajarkan kepada Rasulullah saw apa yang mereka tidak ketahui dan diajarkan kepada kami ilmu Rasulullah saw serta ilmu mereka.” (Bashairud Darajat, 5:248 dan Al Fushulul Muhimmah, hal. 156).

5. Dari Abi Abdillah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini milik imam dan akhirat pun milik Imam. Dia meletakkannya di mana ia kehendaki dan memberikannya kepada siapa yang ia kehendaki.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:409, cetakan Teheran).

6. Mirza Muhammad Haadi al-Khurasaani berkata: “Telah bersabda saw: Sungguh surga itu diciptakan untuk orang yang mencintai Ali, sekalipun ia durhaka kepada Rasulullah. Neraka diciptakan untuk orang yang membenci Ali, walaupun ia taat kepada Rasulullah.” (Risalatul Islam Wal Mukjizat, hal. 276).

7. Kulaini dalam bukunya Al Kaafi di dalam bab “Para Imam Syi’ah tahu kapan ia mati dan mereka hanya akan mati atas kehendak sendiri”, meriwayatkan dari Abi Bashir, dari Ja’far bin Muhammad al-Baqir, bahwa ia berkata: “Seseorang Imam yang tidak tahu sesuatu yang ghaib dari dirinya dan tidak tahu kemana sesuatu akan terjadi, maka dia bukanlah merupakan bukti kebenaran Allah untul makhluk-Nya.” (Al Kaafi fil Ushul, 1:285, cetakan Teheran).

Sungguh melampaui segala batas Kaum Syi’ah itu, apabila menyanjung dan memuji, merangkai khurofat dan menjalin dusta kemudian mengalamatkan itu semua kepada Imam-imam mereka, bahwa imam-imam itu berkata: “Kami telah diciptakan Allah dari cahaya keagungan-Nya dan badan kami beserta roh-roh Syi’ah kami diciptakan dari tanah istimewa dibawah Al-Arsy, adalah jasad-jasad Syi’ah dan para Nabi diciptakan dari tanah kurang dari yang semula, sedangkan manusia-manusia selain Syi’ah telah diciptakan Allah dari tanah untuk menjadi kayu bakar untu api neraka.

Demikianlah apa yang dikatakan oleh Bintang Ulama mereka Alkulaini dalam kitabnya “Alkafi”, kitab yang pernah diberi ijazah oleh Imam mereka yang ghaib dan direstui dengan ucapan “Sungguh cukup kitab ini untuk Syi’ah kami”, dan karena Syahadah Imam itulah kitab tersebut dinamakan “ALKAFI”.

Berkata Alkulaini itu:

1. Diriwayatkan oleh beberapa kawan kami, dari Ahmad bin Muhammad dari Abi Isa Alwashithi dari beberapa kawan kami, dari Abi Abdillah a.s, ia berkata: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari “Keagungan” dan roh-roh kami diciptakan dari unsur lebih dari itu, dan roh-roh Syi’ah kami diciptakan dari “Keagungan” juga, dan badan-badan mereka kurang dari itu, oleh sebab keakraban yang ada di antara kami dengan mereka, maka jiwa-jiwa mereka selalu rindu kepada kami. (Alkafi 1, hal. 389).

2. Dari Abi Abdillah a.s ia berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan kami dari cahaya Keagungan-Nya, kemudian membentuk tubuh kami dari tanah yang tersimpan dan terpelihara di bawah “Al-Arsy” dimana Allah menempatkan cahaya itu dalamnya, oleh sebab itu kami adalah “manusia cahaya”, tiada seorang pun diciptakan sebagaimana kami diciptakan, dan Allah menciptakan roh-roh Syi’ah kami dari unsur yang dari padanya jasad kami diciptakan dan badan mereka dari tanah yang tersimpan dan terpelihara di bawah itu, dan Allah tidak menciptakan siapa pun seperti ciptaan Syi’ah kami terkecuali para Nabi, oleh sebab itu sebenarnya kamilah dan mereka itu adalah hakekat manusia, sedangkan manusia-manusia yang lain adalah gerombolan urakan untuk neraka dan ke neraka. (Alkafi 1 hal. 389).

3. Dari Abi Hamzah Ath-thamali ia berkata: Aku mendengar Abu Ja’far a.s berkata: Allah menciptakan kami dari Keagungan yang paling tinggi dan menciptakan jiwa-jiwa Syi’ah kami dari unsur itu juga dan badan mereka Allah ciptakan dari materi di bawah itu.

Adapun musuh-musuh kami, Allah ciptakan dari kerendahan yang paling bawah dan menciptakan jiwa-jiwa pengikut mereka dari materi dari materi di bawah itu. (Alkafi 1 hal. 390).

Wahai kaum Muslimin yang diterangi Allah mata dan pikirannya dan wahai insan yang anda telah dilebihkan oleh Pencipta anda di antara sekalian makhluk-Nya serta anda diberi akal untuk dipergunakan membedakan yang baik dari yang buruk dan yang sesat dari yang lurus serta yang gelap dari yang terang!

Demikian I’tikad kaum Syi’ah terhadap Imam-imam mereka yang terhimpun di dalam kitab-kitab mereka, yang mereka nyatakan sebagai literatur yang sah, utama, benar dan baik. Apakah ada kekafiran yang lebih berat daripada kepalsuan dan kebohongan semacam ini? Adakah patut orang yang berkepercayaan kepada I’tikad dan dongeng-dongeng tersebut dikatagorikan sebagai Islam dan Ahlil Kiblat? Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Suci dari omongan mereka itu.

Berikut ini ayat-ayat Al-Qur’an yang terang lagi jelas menolak kebohongan dan kebatilan mereka itu:

1. An Naml, ayat 65.

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ

Artinya: Katakanlah: “Tidak ada siapapun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.”

2. Al An’am, ayat 59.

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ

Artinya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”

3. Al Jin, ayat 26.

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا • إِلاَّ مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ

Artinya: “(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, terkecuali siapa yang Dia kehendaki dari para Rasul.”

4. Al An’am, ayat 50.

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat.”

5. Al A’raf, ayat 188.

قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Katakanlah: “Aku tidak menguasai manfaat dan bahaya bagi diriku sendiri, kecuali apa yang menjadi kehendak Allah. Sekiranya aku lebih dahulu mengetahui yang ghaib, niscaya aku akan memperbanyak kebaikan dan aku tidak tersentuh oleh kesusahan. Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang pemberi ancaman, dan pembawa kabar gembira kepada kaum yang beriman”.

6. Luqman, ayat 34.

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Sesungguhnya, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

7. Al Hijr, ayat 23.

وَإِنَّا لَنَحْنُ نُحْيِي وَنُمِيتُ وَنَحْنُ الْوَارِثُونَ

Artinya: Dan Sesungguhnya benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Kami (pulalah) yang mewarisi.

8. Ali Imran, ayat 145.

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

Artinya: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang tentu waktunya.”

Ayat-ayat yang jelas tersebut di atas adalah Aqidah yang murni lagi bersih dari setiap noda, yang menjadi aqidah Ahlul Kiblat, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berkaitan dengan ilmu ghaib.