KOMENTAR MANIS

bagian 2

Pada komentar manis pertama telah kita tanggapi penilaian bapak Muhammad Anis tentang kasarnya bahasa syaikh Mamduh. Maka kini kita lanjutkan dengan poin kedua:

Di kata Pengantar itu bapak Abdullah Anis berkata: “Saya sama sekali tidak bermaksud memperlebar pertentangan, melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya.”

Maka saya katakan: Dengan tulus ikhlas karena Allah, saya nasihatkan kepada bapak Muhammad Anis, janganlah bapak menggunakan nikmat Allah yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada bapak untuk membela orang-orang yang sudah jelas memusuhi Allah, menyakiti rasul-Nya, melaknat istri-istrinya yang suci, mengkhianati ahlul baitnya yang mulia, dan mengkafirkan para sahabatnya yang setia. Jika bapak tujuannya ingin masuk surga maka bapak telah salah arah dan salah lagkah. Kembalilah sebelum terlambat dan jauh tersesat jalan. Allah berfirman:

!إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلا تَكُنْ لِلْخَائِنِينَ خَصِيمًا (١٠٥)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.” (An-Nisa`: 105)

وَلا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (١٠٧)

“dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,” (Al-Nisa`: 107)

هَا أَنْتُمْ هَؤُلاءِ جَادَلْتُمْ عَنْهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَمَنْ يُجَادِلُ اللَّهَ عَنْهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْ مَنْ يَكُونُ عَلَيْهِمْ وَكِيلا (١٠٩)

“Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah).” ? (Al-Nisa`: 109)

*****

1. SYIAH

Pada bab ini bapak Muhammad Anis menulis ingin mendudukkan istilah syiah, bahwa Syiah adalah sebutan khas untuk “syi’ah Ali bin Abi Tholib” atau “syi’ah Dua Belas Imam” selain itu tidak sah disebut syiah. Untuk itu dia kemudian mengemukakan beberapa bukti. Poin yang perlu saya tanggapi adalah ucapannya sebagai berikut (Pembagian kepada poin a, b, c dst adalah dari saya):

a. ((Kemudian saya mencoba untuk melihat referensi-referensi lain, maka saya temukan sebuah buku menarik dari Ayatullah Ibrahim Al-Musawi. Beliau mengatakan pada kitab beliau bahwa munculnya “syi’ah” yaitu pada “yaumul indzar”. Setelah turun ayat [Q.S. Asy-Syuro’ 214] : “Berikanlah peringatan kepada keluarga dekatmu”, maka Rasul saww mengajak keluarga dekat beliau ke rumah pamannya, Abu Tholib as. Setelah jamuan makan selesai, lalu Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- berkata :

Adakah dari kalian yang mau mengokohkanku, maka ia akan menjadi saudaraku, pewarisku, wazirku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku“. Namun tidak ada yang menjawabnya kecuali Ali bin Abi Tholib. Lalu Rasul saw berkata pada mereka : “Inilah Ali saudaraku, pewarisku, penerima wasiatku, dan kholifahku sepeninggalku”. Hadits tersebut juga banyak diriwayatkan dalam kitab ahlusunnah, seperti :1. Tarikh Thabari, jilid 2, hal. 319; 2. Tarikh Ibnu Atsir, jilid 2, hal. 62; 3. Muttaqi Al-Hindi, dalam “Kanzul Ummal”, jilid 15, hal. 15; 4. Haikal, dalam “Hayat Muhammad”; dan lain-lain.))

KOMENTAR MANIS:

Pertama: Jika yang dimaksud oleh bapak Muhammad Anis dengan ucapannya “Kitab ahlus sunnah” dan “dan lain-lain” adalah kitab ulama ahli hadits dalam kitab-kitab yang menjadi hujjah seperti Bukhari, Muslim dan sejenisnya dan mereka mengatakan ini hadits shahih maka ini adalah dusta dan tidak pernah ada. Jika yang dimaksud adalah kitab yang dia sebut tadi kemudian kitab sebangsa al-Fadhail milik Abu Nuaim, juga kitab tulisan al-Maghazili, Khathib Khawarizm, atau kitab-kitab fadhail, atau kitab tarikh maka sekedar adanya riwayat itu di sana bukanlah hujjah menurut kesepakatan ahli ilmu., Ini dalam masalah furu’ lalu bagaimana kalau dalam masalah imamah seperti ini?

Kedua: Hadits ini maudhu’ alias dipalsukan oleh orang menurut kesepakatan ahli ilmu tentang hadits. Hal ini dikatakan oleh Ibn Hazam, Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at, Ibn Taimiyah (dalam Minhajus sunnah jilid 7/353), al-Albani dalam silsilah al-Dhaifah, dll. Lihat misalnya al-Fawaid al-Majmu’ah karya al-Syaukani hal 346; Tanzih al-Syari’ah 1/363.

Sesungguhnya hadits seperti itu dimuat dalam kitab-kitab yang menghimpun semua berita, yang telah diketahui oleh para ulama bahwa di dalamnya ada yang dusta seperti tafsir al-Tsa’labi, al-Wahidi dan sejenisnya. Juga kitab-kitab fadhail yang memuat riwayat yang baik dan yang buruk seperti kitab Khathib Khawarizm juga al-Maghazili.

Ketiga: Sesungguhnya riwayat-riwayat semacam itu (yang mengatakan “Ali ini saudaraku, mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) kalau diteliti sanadnya mesti ada perawi syiah atau kadzdab (pendusta). Oleh karena itulah bapak Muhammad Anis tidak menyebutkan sanadnya kepada kita karena takut ketahuan kepalsuannya. Maka menurut saya ucapan bapak Muhammad Anis di depan yang mengatakan: “melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah” belum tercermin dalam tulisannya ini. Sepertinya bapak Anis tidak mengerti tentang hadits yang shahih dan yang palsu, sehingga seolah perhatiannya yang penting adalah ada rujukan atau info yang sesuai dengan selera. Ini jauh dari unsur ilmiah. Bahkan kalau boleh saya katakan, sikap ini mirip dengan sikap kafir Quraisy dulu,yang artinya : ” Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak.” (QS. Al-Kahfi, 56). Wallahul Muwaffiq.

Keempat: Riwayat hadits tentang yaumul indzar yang shahih dan dipakai oleh Ahlu sunnah tidak ada tambahan (yang mengatakan “Ali ini mentriku, penerima wasiatku, khalifahku sesudahku”) seperti hadits Ibn Abbas yang ada pada hadits Imam Bukhari, dan Imam Muslim, hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim, dan hadits-hadits lain dalam sunan Nasa`i. Turmudzi, Baihaqi dll. Lihat misalnya Misykatul Mashabih : 5372; 5373; Shahih Sirah an-Nabawiyyah, Al-Albani 1/135; Fiqh al-Sirah an-Nabawiyyah, Munir Ghadhban, 142. Untuk lengkapnya ada baiknya anda merujuk Minhaj al-Sunnah an-Nabawiyyah, 7/299-306 (M. Syamilah 1); juga kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah lisyaikhil Islam Ibn Taimiyah, yang dihimpun, dikomentari dan diberi prolog oleh Muhammad Malullah.

Untuk lebih jelasnya ahsan ana cantumkan langsung dari kitab al-Imamah fi Dhau` al-Kitab was-Sunnah sebagai berikut:

الثامن: أن الذي في الصحاح من نزول هذه الآية غير هذا. ففي الصحيحين عن ابن عمر وأبي هريرة – واللفظ له – عن النبي صلَّى الله عليه وسلَّم لما نزلت: { وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ } [الشعراء: 214] دعا رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم قريشاً، فاجتمعوا، فخص وعم فقال: “يا بني كعب بن لؤي أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني مُرَّة بن كعب أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد شمس أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد مناف أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني هاشم أنقذوا أنفسكم من النار، يا بني عبد المطلب أنقذوا أنفسكم من النار، يا فاطمة بنت محمد أنقذي نفسك من النار. فإني لا أملك لكم من الله شيئاً غير أن لكم رحماً سأبلها ببلالها”([1]).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه أيضاً لَمَّا نزلت هذه الآية قال: “يا معشر قريش اشتروا أنفسكم من الله لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا بني عبد المطلب لا أغني عنكم من الله شيئاً، يا صفية عمة رسول الله لا أغني عنك من الله شيئاً. يا فاطمة بنت محمد لا أغني عنك من الله شيئاً. سلاني ما شئتما من مالي”([2]) وخرجه مسلم من حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو([3])، ومن حديث عائشة وقال فيه: “قام على الصفا”([4]).

وقال في حديث قبيصة: “انطلق إلى رضمة من جبل، فعلا أعلاها حجراً، ثم نادى: يا بني عبد مناف إني لكم نذير، إنما مثلي ومثلكم كمثل رجل رأى العدو فانطلق بربأ أهله، فخشي أن يسبقوه، فجعل يهتف: يا صباحاه”([5]).

وفي الصحيحين من حديث ابن عباس قال: “لما نزلت هذه الآية خرج رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم حتى صعد الصفا، فهتف: ”يا صباحاه“ فقالوا: من هذا الذي يهتف؟ قالوا: محمد، فاجتمعوا إليه، فجعل ينادي: ”يا بني فلان، يا بني عبد مناف، يا بني عبد المطلب“ وفي رواية: ”يا بني فهر، يا بني عدي، يا بني فلان“ لبطون قريش فجعل الرجل إذا لم يستطع أن يخرج أرسل رسولاً ينظر ما هو، فاجتمعوا فقال: ”أرأيتكم لو أخبرتكم أن خيلاً تخرج بسفح هذا الجبل، أكنتم مصدّقي“؟ قالوا: ما جربنا عليك كذباً. قال: ”فإني نذير لكم بين يدي عذاب شديد“ قال: فقال أبو لهب: تبّاً لك أما جمعتنا إلا لهذا؟ فقام فنـزلت هذه السورة: { تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ } [المسد: 1]([6]).

وفي رواية: “”أرأيتم لو أخبرتكم أن العدو يصبّحكم ويمسّيكم أكنتم تصدّقوني“؟ قالوا: بلى”([7]).

Malang, Selasa15. Jumada Tsaniyah 1430


([1]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 6/111-112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، المسند (ط. الحلبي) 2/333، 360، 519 .

([2]) الحديث عن أبي هريرة رضي الله عنه في: البخاري 4/6-7 (كتاب الوصايا، باب هل يدخل النساء والولد في الأقارب)، 4/185 (كتاب المناقب، باب من انتسب إلى آبائه في الإسلام والجاهلية)، 6/112 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، مسلم 1/192-193 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}. والحديث في سنن النسائي والدارمي والمسند.

([3]) الحديث في: مسلم في الموضع السابق 1/193 (رقم 353، 354).

([4]) الحديث في: مسلم 1/192 (الموضع السابق) حديث رقم 350 .

([5]) الحديث هو حديث ابن المخارق وزهير بن عمرو السابق، وابن المخارق هو قبيصة بن المخارق. والرضمة: حجارة مجتمعة ليست بثابتة في الأرض كأنها منثورة، وعبارة “فعلا أعلاها حجراً”: أي فرقي في أرفعها، وكلمة “يربأ” على وزن يقرأ: معناه: يحفظهم ويتطلع لهم، ويقال لفاعل ذلك؛ ربيئة. وكلمة “واصباحاه” هي كلمة يعتادونها عند وقوع أمر عظيم، فيقولونها ليجتمعوا ويتأهبوا له.

([6]) الحديث عن ابن عباس رضي الله عنهما – مع اختلاف في الألفاظ – في: البخاري 6/111 (كتاب التفسير، سورة الشعراء)، 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/179-180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب)، مسلم 1/193-194 (كتاب الإيمان، باب في قوله تعالى: {وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}، سنن الترمذي 5/121 (كتاب التفسير، ومن سورة تبت)، المسند (ط. المعارف) 4/186، 286 .

([7]) هذه الرواية جزء من حديث عن ابن عباس رضي الله عنهما في: البخاري 6/122 (كتاب التفسير، سورة سبأ)، 6/180 (كتاب التفسير، سورة تبت يدا أبي لهب وتب).