KOMENTAR MANIS

(bag.3)

Pada komentar manis 2 sudah kita tanggapi hadits ( a) yaumul indzar yang dipakai oleh bapak Muhammad Anis sebagai hujjah. Kini kita lanjutkan dengan hadits berikutnya yang dijadikan hujjah oleh Bapak Muhammad Anis (mengutip dari Ayatullah Sayyid Ibrahim Al-Musawi, dalam “Aqoidul Imamiyah Itsna Asyariyyah”, jilid 3), yaitu;

(b). Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Abu Sa’id Al-Khudri berkata :

Rasul telah memerintahkan manusia lima hal, namun mereka hanya mengimani 4 hal dan meninggalkan 1 hal”. Ketika ia ditanya apa 4 hal tersebut, maka ia mengatakan 4 hal tersebut adalah Sholat, Zakat, Puasa Romadlon, dan Haji. Ketika ia ditanya 1 hal yang ditinggalkan mereka, maka ia menjawab : “Satu hal tersebut adalah wilayah Ali bin Abi Tholib”. Kemudian ia ditanya apakah 1 hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya, maka ia menjawab : “Ya, satu hal tersebut diwajibkan bersama 4 hal lainnya”.

Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Sehingga mereka yang memegang amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- menjadi para pengikut setia Ali as. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai syi’ah Ali, hal itu hanya untuk membedakan antara para pelaksana amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam- dengan pengkhianat amanat Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-. Oleh karena itu, Abu Dzar Al-Ghifari sering disebut dengan syi’ah Ali.

KOMENTAR MANIS

Pertama: Ucapan Abu Said ra perlu dibuktikan keabsahannya, jika tidak, maka sekedar menyebutkan tidaklah menjadi hujjah sama sekali menurut kesepakan para ulama dan seluruh manusia. Apalagi dalam riwayat itu abu said al-Khudri membenarkan pengkafiran seluruh sahabat Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Ini adalah riwayat mereka seperti yang disebutkan oleh salah satu situs mereka:

عن أبي هارون العبدي، قال: كنت أرى [رأي] الخوارج لا رأي لي غيره حتَّى جلست إلى أبي سعيد الخدري رحمه الله فسمعته يقول:

أمر الناس بخمس، فعملوا بأربع وتركوا واحدة.

فقال له رجل: يا أبا سعيد ما هذه الأربع التي عملوا بها؟

قال: الصلاة والزكاة والحج وصوم شهر رمضان.

قال: فما الواحدة التي تركوها؟

قال: ولاية علي بن أبي طالب (عليهِ السَّلام).

قال الرجل: وإنَّها لمفترضة؟

قال أبو سعيد: نعم ورب الكعبة.

قال الرجل: فقد كفر الناس إذن؟

قال أبو سعيد: فما ذنبي.( أمالي الشيخ المفيد 90 مجلس 17 ح3)

Apalagi Syiah terbukti memalsukan atau menggunakan beberapa hadits palsu atas nama sahabat Abu said (salah satu situs mereka memuat makalah berisi 48 hadits palsu atas nama sahabat yang mulia ini), misal hadits untuk menafsiri ayat al-Maidah: 3, yaitu hadits:

فقال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: الله أكبر على إكمال الدين، وإتمام النعمة، ورضا الرب برسالتي، وبالولاية لعليٍّ من بعدي.

Hadits ini banyak mereka kutib di situs-situs mereka untuk menjelaskan peristiwa Ghadir Khum. Juga hadits:

عن أبي سعيد الخدري عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ( أعطيت في علي خمسا ، أما إحداها : فيواري عورتي ، والثانية : يقضي ديني ، والثالثة : إنه متكئ في طول المواقف ، والرابعة : فإنه عوني على حوضي ، والخامسة : فإني لا أخاف عليه أن يرجع كافرا بعد إيمان ، ولا زانيا بعد إحصان )

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Muhammad ibn Abdir rahman al-Qusyairi, dia adalah pendusta. IbnHatim mengatakan: Ia matruk al-hadits, ia berdusta dalam hadits. Abul Fath al-Azdi berkata: Ia kadzdzab matruk al-Hadits sebagaimana biografinya dalam al-Mizan dan al-Tahdzib dan lainnya.

Ia juga memiliki penyakit lain, yaitu Tadlis oleh Athiyah al-Aufi. Ia melakukan tadlis yang sangat buruk. Ia mendatangi Muhammad ibn Saib al-Kalbi, yang dituduh dusta, lalu ia meriwayatkan hadits darinya dan menyebutkannya dengan kunyah abu said untuk mengesankan bahwa ia adalah abu said al-Khudri ra. (al-Hujaj al-Damighah linaqdh Kitab al-Muraja’at: 1/2; 2/603)

Jadi harus hati-hati menerima riwayat yang dikemukakan syiah.

Kedua: keutamaan Ali –Radiallahu anhu- khalifah ar-Rasyid keempat, sebagai menantu Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-, suami dari Fatimah az-Zahra` dan sebagai ahli syurga sangatlah banyak, namun orang syiah tidak rela kecuali harus membuat riwayat-riwayat palsu atas beliau. Berikut kesaksian para imam Ahlus sunnah:

Imam Ibnul Qayyim dalam al-Manar al-Munif (116) berkata:

(وأما ما وضعه الرافضة في فضائل علي فأكثر من أن يعد، قال الحافظ أبو يعلى الخليلي في كتاب (الإرشاد): وضعت الرافضة في فضائل علي رضي الله عنه وآل البيت نحو من ثلاث مئة ألف حديث).

Adapun riwayat yang dipalsukan oleh Rafidhah tentang keutamaan Ali maka lebih banyak dari pada dihitung. Al-Hafizh abu ya’la al-Khalili dalam kitab al-Irsyad berkata: Rafidhah memalsukan dalam keutamaan Ani –Radiallahu anhu- dan ahlul bait sekitar 300 ribu hadits.”

Imam Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (1/252) berkata:

(فضائله كثيرة –أي: علي رضي الله عنه- غير أن الرافضة لم تقتنع فوضعت له ما يضع ولا يرفع).

Ketamannya (maksudnya: Ali) adalah sangat banyak, hanya saja kaum syiah rafidhah tidak puas kecuali dengan membuat riwayat-riwayat palsu yang justru merendahkannya bukan mengangkatnya.:

Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam fatawanya (13/31):

: (فأصل بدعتهم –أي: الرافضة- مبنية على الكذب على رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم، وتكذيب الأحاديث الصحيحة، ولهذا لا يوجد في فرق الأمة أكثر كذباً منهم).

“Pangkal bid’ah mereka- maksudnya: Rafidhah- adalah dibangun di atas kebohongan atas nama Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- dan para sahabatnya, serta banyak mendustakan hadits-hadits yang shahih. Oleh karena itu tidak ada di dalam sekte-sekte umat yang lebih banyak berdusta dari pada merelka.

Jadi harus hati-hati

Ketiga: Ucapan bapak Muhammad Anis: “Perintah untuk mentaati Imam Ali as tersebut pada akhirnya telah dikhianati oleh kebanyakan sahabat sepeninggal Rasul -Shalallahu alaihi wa salam-” menegaskan bahwa pemimpin setelah Nabi adalah Ali berdasarkan perintah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-., lalu abu Bakar ra berkhianat dengan merampas hak Ali. Begitu pula Umar dan Utsman. Maka ucapan ini perlu kami uji kebenarannya:

1. Jika memang hak Ali dirampas lalu mengapa Ali diam tidak merebut dan memperjuangkan amanah wajib itu? Jika mereka menjawab: Karena Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- telah berwasiat kepadanya agar tidak menimbulkan fitnah sesudahnya dan tidak menghunus pedang. Maka kita katakan: Lalu kenapa Ia menghunus pedang memerangi pasukan jamal dan shiffin? Yang telah terbunuh di dalamnya ribuan kaum muislimin? Siapakah yang lebih berhak untuk diperangi? Apakah orang zhalim pertama, keempat atau kesepuluh dst?

2. Ali membaiat Abu Bakar –Radiallahu anhu- setelah 6 bulan, artinya ia terlambat berbaiat. Hal ini tidak lepas dari dua kemungkinan: adakalanya ia benar dalam keterlambatannya dan salah dalam baiatnya, atau ia benar dalam baiatnya salah dalam keterlambatannya?

3. Abu Bakar dan Umar menurut orang syiah – termasuk kata bapak Muhammad Anis- adalah mengkhianati amanah, merampas hak imamah dari Ali, maka kita katakan: Jika ucapan anda benar lalu mengapa Khalifah Umar memasukkan Ali kedalam majlis Syura bersama yang lain? Seandainya Umar mengeluarkannya dari padanya seperti ia mengeluarkan Said ibn Zaid, atau memilih orang selainnya niscaya tidak ada seorangpun yang menentangnya dalam hal itu meskipun hanya satu kata. Maka kita mengetahui dengan yakin bahwa bahwa para sahabat telah menempatkannya pada tempat yang semestinya, tidak berlebihan dan tidak kurang. Semoga Allah meridhai semua. Mereka mendahulukan yang paling berhak kemudian yang paling berhak berikutnya.

Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa ketika Ali memimpin setelah Usman, maka berbagai kelompok dari Muhajirin dan Anshar bersegera membaiat Ali, dan tidak satupun dari mereka yang meminta maaf karena telah salah berbaiat sebelumnya kepada Abu Bakar, Umar dan Usman. Atau bertaubat karena telah mengkhianati wilayahnya atau semacamnya.

4. Syiah mengklaim bahwa Ali paling berhak terehadap imamah karena memiliki keutamaan di atas sahabat, seperti termasuk pertama kali masuk Islam, jihad bersama Raslullah -Shalallahu alaihi wa salam-, luas ilmu dan zuhud. Seandainya kita mengalah itu untuk Ali, lalu apakah mereka mendapatkan keutamaan untuk Hasan dan Husen jika dibanding dengan Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn Auf, Abdullah ibn Umar, dan kaum muhajirin serta Anshar lainnya? Ini tentu mustahil mereka dapatkan. Jadi tidak ada alasan kecuali hanya nash, artinya ia sudah ditunjuk oleh Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- untuk menjadi khalifah Rasul, dan ini adalah klaim dusta.

5. Orang syiah tidak akan mampu membuktikan bahwa Ali itu mukmin dan adil (shalih terpercaya), kecuali kalau orang syiah berubah menjadi ahli sunnah. Karena kalau orang khawarij dan lainnya yang mengkafirkan Ali berkata: Kami tidak menerima kalau Ali mukmin, justru ia kafir atau zhalim, sebagaimana ucapan syiah tentang Abu Bakar dan Umar. Mereka tidak memiliki dalil yang digunakan untuk membuktikan imannya Ali dan ‘adalahnya melainkan hal itu lebih jelas untuk menjadi dalil bagi iman dan ‘adalah Abu Bakar, Umar dan Usman.

Jika mereka berhujjah dengan kemutawatirtan islamnya ali, hijrah dan jihadnya, maka juga telah mutawatir hal itu dari mereka (Abu Bakar, Umar, dan Usman). Bahkan telah mutawatir Islam dan jihadnya Mu’awiyah serta para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbas.

Jika syiah mengklaim salah satu dari mereka sebagai munafik, maka sangat mungkin bagi khawarij untuk mengklaim hal itu pada diri Ali!

Jika mereka menyebut syubhat maka khawarij bisa menyebutkan syubhat yang lebih besar lagi!

Jika mereka mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar adalah munafik secara batin, memusuhi Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- dan merusak agamanya sebisa mungkin. Maka seorang khawarij juga bisa mengatakan hal itu pada diri Ali dengan mengatakan: Ia hasad terhadap putra pamannya, dan memusuhi keluarganya, ia ingin rusaknya agamanya, ia tidak mampu melaksanakan misinya itu pada masa khalifah yang tiga hingga ia berusaha membunuh khalifah ketiga dan mengobarkan fitnah hingga mampu membunuh para sahabat Muhammad dan umatnya karena kebencian dan permusuhannya terhadapnya. Dia Menyembunyikan kecintaannya kepada kaum junafikin yang mengklaim rububiuyyah dan nubuwwah pada dirinya. Dia menampakkan apa yang berbeda dengan isi hatinya, sebab agamanya adalah taqiyyah, oleh karena itu kaum bathiniyyah menjadi para pengikutnya, dan mereka yang memegang rahasianya dan yang menyebar agama batinyya.

Jika mereka ingin membuktikan iman Ali dan adalahnya dengan nash al-Qur`an atasnya maka dijawab: al-Qur`an umum, cakupan al-Qur`an tentangnya tidak lebih agung dari cakupannya terhadap yang lainnya. Tidak ada ayat yang mereka klaim sebagai khusus untuknya melainkan sangat mungkin klaim pengkhususan ayat yang semisal atau yang lebih besar untuk Abu Bakar dan Umar. Maka klaim tanpa hujjah sangat mungkin, namun untuk keutamaan Abu Bakar dan Umar lebih mungkin dari pada yang lainnya.

Jika mereka mengatakan hal itu berdasarkan naql dan riwayat maka naql dan riwayat untuk mereka (Abu Bakar, Umar) lebih terkenal lagi dan lebih banyak. Jika mereka mengklaim mutaatir, maka mutawatir untk Abu Bakar Umar lebih shahih. Jika mereka mengandalkan kesaksian sahabat maka kesaksiaan sahabat untuk Abu Bakar dan Umar lebih banyak!

Yang benar: khalifaj yang hak setelah Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- adalah Abu Bakar as-shiddiq –Radiallahu anhu-. Buktinya: a). kesepakatan dan ijma’ para sahabat untuk mentaatinya, patuh kepada perintah-perintahnya dan larangannya serta tidak adanya pengingkaran terhadapnya. Seandainya dia bukan khalifah yang sah tentu mereka tidak akan membiarkannya, tidak akan mentaatinya, karena mereka adalah generasi yang zuhud, wara’ dan taqwa, tidak takut kecuali kepada Allah. b). Ali –Radiallahu anhu- tidak pernah menyalahinya dan memeranginya. Hal ini tidak lepas dari kemungkinan:

((ia membiarkannya karena takut fitnah dan keburukan atau karena tidak mampu atau karena mengetahui bahwa kebenaran ada pada Abu Bakar dan tidak pernah ada wasiat itu))

Tidak mungkin ia menmbiarkannya karena takut fitnah, karena buktinya ia memerangi Muawiyyah dan terbunuh dalam peperangan itu ribuan muslim. Ia memerangi Thalhah dan Zuibair –Radiallahu anhuma- dan memerangi Aisyah –Radiallahu anha- ketika ia mengetahui bahwa kebenaran ada padanya. Ia tidak meninggalkan itu karena takut fitnah!

Juga tidak mungkin membiarkannya karena ketidakmampuan, karena yang menolongnya saat memerangi muawiyyah mereka waktu itu adalah mukmin, yaitu pada hari peristiwa saqifah, pada hari penunjukan Umar sebagai khalifah, dan pada hari syura, kalau mereka mengetahui bahwa kebenaran apa di pihak Ali tentu mereka menolongnya di hadapan Abu Bakar karena abu Bakar lebih berhak untuk diperangi dari pada Muawiyyah.

Karena hal itu tidak terjadi maka nyatalah bahwa Ali mengetahui bahwa Abu Bakar benar dan tidak pernah ada wasiat Nabi untuk dirinya, sehingga ia berbaiat kepada Abu Bakar –Radiallahu anhu-, kemudian kepada Umar kemudian kepada Utsman. Jadi mereka bertiga tidak berkhianat dan Ali juga tidak berkhianat dan tidak merestui orang-orang yang berkhianat, tapi justru syiahlah yang berkhianat, mengkhianati Nabi, para shabat dan para ahlul bait.

(Nantikan lanjutannya tentang istilah syiah)