KOMENTAR MANIS

TERHADAP TANGGAPAN MUHAMMAD ANIS

Pembelaan terhadap buku Gen Syiah

ABU HAMZAH IBN QOMARI ABDUL GHANI

Mukaddimah

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, selawat dan salam semoga tercurah untuk rasulillah, keluarganya; istri dan keturunannya, para sahabat dan pengikutnya hingga hari kiamat. Amma ba’d:

Salah satu nikmat Allah atas umat Islam Indonesia adalah terbitnya buku Gen Syiah sejarah konspirasi Yahudi dan Syiah, yang ditulis oleh Syaikh Mamduh al-Buhairi pada tahun 2001, setelah adanya Seminar Nasional di Istiqlal pada tahun 1997, dan kumpulan makalahnya diterbitkan pada tahun 1998, dengan 11 sambutan dan 7 makalah, melibatkan unsur: NU, DDI, Persis, MUI, Muhammadiyah, ICMI, Al-Khairat, al-Bayyinat, al-Haramain, Panji Masyarakat. Buku Gen Syiah terbilang sangat bagus, unik, berani dan tajam. Buku ini populer di kalangan umat Islam Indonesia. Meskipun penulisnya melayangkan tantangan, namun ternyata sampai sekarang tak terbantahkan. Ada beberapa orang yang mencoba menanggapi dan mengomentari melalui internet, bukan melalui buku yang sepadan, itupun isinya menurut saya sangat tidak memadai. Diantara yang mencoba menanggapi adalah bapak Muhammad Anis dari Bogor (tahun 2003) yang tulisannya dimuat di salah satu situs syiah dan disebarluaskan melalui email.

Komentar Manis ini sebenarnya tidak banyak dibutuhkan, sebab buku Gen Syiah masih tetap belum terbantahkan. Artinya buku Gen Syiah itu sendiri – untuk beberapa masalah- sudah cukup membantah tulisan-tulisan yang menanggapinya. Tanggapan-tanggapan mereka itu tidak lebih dari sekedar “mengulang-ulang kebatilan dan kedustaan”. Namun karena manusia itu memeliki kecendrungan kepada yang baru, maka kitapun perlu mengulang-ulang kebenaran dan kejujuran.

Semoga komentar manis ini bermanfaat dalam membela kebenaran dan meluruskan aqidah, sejarah dan pemahaman yang diacak-acak oleh orang-orang yang merusak dengan mengatasnamakan sebagai pecinta ahlul bait.

Semoga Shalawat dan salam senantiasa dicurahkan kepada Nabi –Shalalallahu alaihi wasalam-, keluarga, Istri dan keturunannya, serta sahabatnya yang setia terutama Khulafaur Rasyidun; Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali –Radiallahuanhum ajam’in-.

Malang, J. Ula 1430/ 22 Mei 2009

KATA PENGANTAR

Pada kata pengantar, penulis (bapak Muhammad Anis) mengutarakan banyak hal, yang perlu diketahui adalah sebagai berikut (warna merah dari kami):

  1. Pada awalnya saya tidak begitu perhatian dengan buku tersebut, karena saya yakin isinya sama dengan buku-buku fitnah atas syi’ah lainnya.
  2. Namun, ternyata buku itu mulai populer di antara mereka yang anti-syi’ah, dan secara tidak langsung dikatakan bahwa buku itu tak terbantahkan karena merujuk dari sumber-sumber syi’ah sendiri.
  3. Ternyata banyak sekali referensi syi’ah yang dimanipulasi kalimatnya dan ditafsirkan secara sepihak.
  4. Saya sama sekali tidak bermaksud memperlebar pertentangan, melainkan hanya berusaha memberikan argumentasi dalam wacana diskusi ilmiah, dengan segala keterbatasan yang ada pada diri saya
  5. Bahasa yang digunakan ustadz Mamduh sangat kasar, hal ini bisa dilihat pada pengantar penerjemah buku tersebut, dimana beliau menyebut syi’ah sebagai “baqarun bila qurun” (sapi tanpa tanduk), yang maksudnya adalah mereka (syi’ah) berkepala manusia tetapi berotak sapi. Namun, dalam buku tanggapan ini, saya tidak akan menggunakan bahasa-bahasa seperti itu, karena hal tersebut bukanlah teladan Rasul -Shalallahu alaihi wasalam- dan Ahlul Bait beliau.

KOMENTAR MANIS

1. Bahasa Kasar ” sebagai contoh “baqarun bila qurun” (sapi tanpa tanduk)

Menurut saya, ungkapan tersebut memang kasar dan zhalim bila dilontarkan untuk orang yang baik-baik. Namun untuk orang yang lancang dan kurang ajar kepada ummul mukminin Aisyah as-Shiddiqah binti as-Shiddiq –Radiallahuanha- maka ucapan itu tidaklah kasar. Sebab Allah berfirman:

4 فَمَنِ اعْتَدَى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَى عَلَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ (١٩٤)

“Oleh sebab itu Barangsiapa yang menyerang kamu, Maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 194)

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا

“Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa.” (QS. As-Sura: 40)

Tahukan anda wahai bapak Muhammad Anis, apa yang dilakukan oleh orang syiah? Menurut kesaksian para ulama Ahlu sunnah yang terpercaya seperti al-Imam al-Lughawi Abu Muhammad Ibn Qutaibah al-Dinawari (276 H) dalam Ta`wil Mukhtalafil Hadits (h. 67), Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah (728 H) dalam Minhaj as-Sunnah, jilid 3, Syaikh Muqbil Ibn Hadi al-Wadi’I dalam kitabnya Sha’qah al-Zilzal Li Nasf Ahl ar-Rafdh wal-I’tizal, syaikh Jibrin, syaikh Hamid al-Ali, syaikh al-Khumais dan lain-lain. bahwa orang syiah[1] menta`wil kata baqarah dalam surat al-Baqarah ayat 67 dengan “Sayyidah Aisyah Ummil Mukminin -Radiallahu anha-“. Jadi mereka menyebut isteri Nabi di dunia dan di surga itu sebagai baqarah (sapi betina). Kekasih Rasulullah dan ibunda kita disapi-sapi?!!!

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (٦٧)

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan Kami buah ejekan?”Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”. (QS. Al-Baqarah: 67)

Apa masuk akal Nabi Musa waktu itu memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih Aisyah –Radiallahu anha-?!!! Andai saja mereka berfikir atau berakal tentu tidak akan melontarkan kekejian dan kebodohan seperti itu. Jika demikian siapa sebenarnya yang kasar? Siapa yang tidak berteladan dengan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam dan ahlul bait? Saya yakin bapak Muhammad Anis sepakat dengan saya bahwa orang syiah lebih kasar berlipat-lipat, zhalim dan menyimpang dari keteladanan Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam dan ahlul bait.

Jadi yang dimaksud oleh syaikh Mamduh sebagai baqarun bila qurun adalah orang yang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar –Radiallahuanhuma- serta melaknat Aisyah dan Hafshah –Radiallahuanhuma-; yaitu orang yang membuat doa Shanamay Quraisy (dua berhala Quraisy), yang mengikutinya dan yang membelanya. Do’a shanamay Quraisy ini mustahil dibuat dan diikuti oleh orang beriman, yang pantas ia dibuat oleh orang munafik atau orang zindiq keturunan Yahudi dan Majusi. Doa yang menyakitkan hati seluruh orang beriman dan yang menyakiti Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- serta ahlulbait adalah seperti yang termaktub dalam kitab Mereka Miftahul Jinan [2]:

اللهم صل على محمد وآل محمد والعن صَنَمَيْ قُرَيْشٍ وَجِبْتَيْهَا وَطَاغُوْتَيْهَا وَابْنَتَيْهَا

Yang artinya: “Ya Allah beri shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, serta laknatlah dua berhala Quraisy dan dua setannya, dua thaghutnya dan dua putrinya.”

Maksud mereka adalah Abu Bakar dan Umar serta kedua putri mereka yang sekaligus dua istri Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam, yaitu ibunda kaum mukminin Aisyah dan Hafshah –Radiallahuanha-.

Apakah orang yang berakal akan bisa berucap seperti itu?!!

Ayatullah Mujtaba Syirazi, salah seorang pemuka syi’ah dalam ceramahnya mengatakan:

((من جملة أفعال عائشة جريمات جنسية …………))

“Diantara kejahatan Aisyah adalah kejahatan-kejahatan seksual (zina)…..” Dia juga mengatakan:

((عائشة صحيح كافر صحيح ناصبية صحيح مجرمة ماتقول في حقها فهو صحيح ))

“Aisyah benar-benar kafir, benar-benar memusuhi ahlul bait, benar-benar penjahat. Apa saja yang kamu katakan tentangnya maka itu benar.”

((سبحان الله هذا بهتان عظيم))!!

Maha suci Allah. Ini sungguh kedustaan yang nyata!!

Lebih dari itu mereka melampiaskan kebencian dan mendidik anak-anak mereka untuk membenci para sahabat yang mulia dan para istri Nabi yang suci itu. Yaitu, pada hari Asyura mereka mendatangkan seekor anjing dengan diberi nama Umar lalu mereka beramai-rami memukulinya dengan tongkat dan melemparinya dengan batu hingga mati. Kemudian mereka menghadirkan seekor anak kambing (mereka beri warna merah, karena gelar Aisyah adalah Humaira`; yang kemerah-merahan pipinya[3]) dan mereka beri nama Aisyah, lalu beramai-ramai mereka mencabuti bulunya dan memukulinya dengan sepatu hingga mati.[4] Apakah ini perilaku manusia? Siapakah sebenarnya yang tidak memiliki etika, hati, akal dan iman?!! Siapakah sebenarnya yang tidak berteladan dengan Rasulullah dan ahlul bait?!!

Ahad 24 Mei 2009

(Tunggu lanjutannya insya Allah)


[1] Banyak pihak yang menyebutkan bahwa diantara tokoh syiah yang mengatakan ini adalah Muhammad ibn Mas’ud al-Iyasyi (hidup pada abad 3 H, ada yang mengatakan meninggal tahun 320 H) dalam tafsirnya, juga al-Qummi dalam tafsirnya, namun sayang kita tidak bisa melihatnya sendiri karena tidak punya tersebut.

[2]ِAbbas al-Qummi, Miftahul Jinan, 114; Abdullah ibn Muhammad as-Salafi, Min Aqaid as-Syiah, 67-70 doa shanamai Quraisy di akhir kitab

[3] Abu Abdirrahman Ali ibn Shalih al-Gharbi, Munazharah baina Dr. Muhammad Taqiyyuddin al-Hilali al-Husaini li Rafidhiy syi’I, di foot note nomor 20, http://www.muslm.net/vb/showthread.php?t=288523

[4] Ibrahim al-Jabhan, Tabdid al-Zhalam wa Tanbih al-Niyam, 27.