oleh :

Abu Sholeh SP.

C.3. Pemahaman yang Benar terhadap Hadits

Hadits sahabat Jabir di atas oleh para Ulama telah dijelaskan bahwa hadits tersebut bukanlah dalil tentang bolehnya nikah mut’ah. Hal ini karena hadits tersebut telah dihapus dengan dalil-dalil lain yang lebih shahih dan sharih dalam masalah ini. Syubhat tersebut sebenarnya juga berasal dari Syi’ah yang berusaha mencari pembenaran aqidah mereka dari dalil-dalil Ahli Sunnah. Al-‘Alamah Dr. Musa al-Musawi menjelaskan masalah ini sebagai berikut.

Para ahli fiqh Syi’ah –semoga Allah memaafkan mereka- berkata: sesungguhnya mut’ah adalah boleh pada masa Rasulullah yang mulia -Shalallahu alaihi wa salam- dan pada masa Khalifah Abu Bakar dan pada setengah masa Khalifah Umar bin Khathab sampai Umar melarangnya dan memerintahkan kaum muslimin berhenti dari padanya, dan mereka mengambil dalil atas hal ini dengan berbagai riwayat yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Syi’ah dan sebagian kitab-kitab Sunnah.

Adapaun firqah-firqah Islam yang lain maka mereka mengatakan bahwasanya mut’ah adalah adat jahiliyyah yang dilakukan manusia pada tahun-tahun awal kerasulan sampai Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- memerintahkan tentang keharamannya pada perang Khaibar atau Haji Wada’, keadannya seperti keadaan khamr yang diharamkan beberapa tahun setelah diutusnya Nabi yang mulia dan telah turun tentangnya ayat-ayat pengharaman.[1]

Imam Muslim yang meriwayatkannya memasukkan hadits tersebut ke dalam bab Nikahil mut’ah wa bayani annahu ubiha tsumma nusikha tsumma ubiha tsumma nusikha wastaqarra tahrimuhu ila yaumil qiyamah. Imam Nawawi mengomentari hadits Jabir tersebut dalam syarahnya bahwa orang-orang yang melakukan mut’ah pada masa Abu Bakar dan Umar belum sampai kepada mereka ini penghapusan[2]. Ibnu Hajar al-‘Asqalani mempertegas masalah ini dengan berkata: “Yang paling sempurna hendaknya dikatakan: boleh jadi Jabir dan orang-orang yang menukil darinya, terus-menerusnya mereka dalam nikah mut’ah setelah larangan Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- sampai Umar (dengan tegas) melarangnya adalah karena belum sampainya larangan tersebut kepada mereka”[3]

Hal tersebut menjadi jelas ketika Amirul Mu’minin Umar -Radiallahu anhu- dengan tegas berpidato di atas mimbar dan menyampaikan bahwa mut’ah sudah dilarang oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- ketika beliau masih hidup, tidak seorangpun dari para sahabat yang menentangnya termasuk juga Jabir sehingga hukum haramnya mut’ah ini menjadi ijma’ seluruh sahabat y[4]. Ijma’ sahabat termasuk sumber hukum syari’at Islam yang wajib diikuti dan menyelisihi mereka tidak perlu diperhitungkan lagi[5].

Riwayat yang dianggap sebagai pendukung masalah ini di atas -sejauh yang penulis ketahui- tidak ada yang menyatakan bolehnya mut’ah sebelum ada kebijakan pembatasan masa tugas tersebut. Seandainya pun ada maka cukuplah dalil-dalil shahih dan sharih berikut ini sebagai landasan bahwa hukum bolehnya mut’ah telah dihapus oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- dan Rasulnya -Shalallahu alaihi wa salam-.

D. DALIL-DALIL YANG MENGHARAMKAN NIKAH MUT’AH

1. Al-Qur’an

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Mu’minun: 5 – 7 dan QS. Al-Ma’arij: 29 – 31)

Ayat-ayat tersebut di atas menunjukkan bahwa Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah mengharamkan atas orang-orang mu’min segala macam kemaluan kecuali kemaluan yang telah Allah -Subhanahu wa ta’ala- halalkan melalui akad pernikahan yang syar’i atau budak yang dimiliki.[6] Sedangkan apabila seseorang berada diatas seorang wanita secara mut’ah maka wanita tersebut bukanlah istrinya yang sah karena tidak dinikahi.[7] Ada 20 perbedaan yang disebutkan Yusuf Jabir al-Muhammady dalam Tahrimul Mut’ah fil Kitabi was Sunnah sebagai bukti bahwa wanita yang dimut’ah bukanlah istri atau budak yang dimiliki.[8] Perbedaan tersebut adalah :

  1. Wanita yang dimut’ah adalah wanita sewaan
  2. Tidak ada waris-mewarisi di antara pasangan mut’ah
  3. Boleh mut’ah lebih dari 4 wanita bahkan ribuan
  4. Mut’ah selesai (jika habis masanya) tanpa ada perceraian
  5. Pasangan mut’ah boleh kembali ke pasangan pertamanya sesuai kehendaknya walaupun sudah pernah diselingi pasangan lain ataupun tidak
  6. Boleh mut’ah dengan wanita musyrik
  7. ‘Iddah mut’ah sama dengan ‘iddah wanita sewaan
  8. Wanita yang dimut’ah mendapat upah pada hari-hari yang ia datang pada pasangannya
  9. Orang yang mut’ah tidak dianggap sebagai orang yang sudah menikah (muhshan)
  10. Boleh mut’ah dengan wanita yang memiliki suami
  11. Boleh mut’ah dengan pelacur
  12. Boleh mut’ah dengan gadis selama tidak merusak kegadisannya karena dikhawatirkan akan menjadi aib bagi keluarganya (bahkan dengan bayi yang masih menyusui[9])
  13. Tidak ada li’an[10] dalam mut’ah
  14. Tidak ada dhihar[11] dalam mut’ah
  15. Tidak ada ila’[12] dalam mut’ah
  16. Tidak ada nafkah bagi wanita yang dimut’ah
  17. Tidak ada tempat tinggal bagi wanita dalam mut’ah
  18. Boleh mensyaratkan dalam mut’ah untuk tidak melakukan jima’
  19. Boleh melakukan ‘azl dalam mut’ah tanpa harus izin kepada wanita yang dimut’ah
  20. Tidak ada khulu’[13] dalam mut’ah
  21. Boleh mut’ah dengan saudari istri sendiri (ipar)[14]

Banyaknya perbedaan antara wanita yang dimut’ah dengan wanita yang dinikahi atau budak yang dimiliki memperjelas bahwa wanita yang dimut’ah bukanlah istri atau budak, sehingga mut’ah termasuk kemaluan yang diharamkan dan orang yang melakukannya termasuk melampaui batas. Oleh karena itu sejak ayat tersebut di atas diturunkan (ketika Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- hidup) maka menjadi haram hukum mut’ah.

2. As-Sunnah

Hadits-hadits shahih yang menyatakan bahwa mut’ah haram sejak Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- hidup sangat banyak. Diantara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut.

Hadits pertama.

عن محمد بن علي عن علي بن أبي طالب : ” أن رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم نهى عن متعة النساء يوم خيبر ، وعن أكل لحوم الحمر الإنسية

Dari Muhammad bin ‘Ali dari ‘Ali bin Abi Thalib: “bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- melarang mut’ah dengan wanita pada hari (perang) Khaibar, dan juga melarang memakan daging keledai jinak.”[15]

Riwayat tersebut di atas selain diriwayatkan oleh para imam ahli hadits Ahlus Sunnah, juga telah diriwayatkan dalam kitab-kitab Syi’ah. Husain al-Musawi, seorang ulama Syi’ah yang telah bertaubat menulis kesaksiannya dalam kitab Lillah tsumma lit Tarikh[16], tentang riwayat tersebut di atas dalam kitab-kitab Syi’ah. Riwayat tersebut berbunyi:

قال أمير المؤمنين صلوات الله عليه:) حرم رسول الله صلى الله عليه وآله يوم خيبر لحوم الحمر الأهلية ونكاح المتعة ( انظر (التهذيب 2/186)، (الاستبصار 2/142)، (وسائل الشيعة 14/441).

Berkata Amirul Mu’minin shalawatullah ‘alaih : “Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- telah mengharamkan pada hari (perang) Khaibar daging keledai jinak dan nikah mut’ah” (Lihat at-Tahdzib 2/186, al-Istibshar 2/142, Wasailus Syi’ah 14/441)[17]

Perang khaibar terjadi pada Bulan Muharram tahun 7 H dan termasuk perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-[18]. Maka tidak samar lagi bahwa keharaman mut’ah telah disampaikan langsung oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- kepada para sahabatnya y. Bahkan Imam terbesar Syi’ah, ‘Ali bin Abi Thalib -Radiallahu anhu- sendiri yang menyampaikan riwayat tersebut dari Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-.

Hadits kedua.

عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَخَّصَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَامَ أَوْطَاسٍ فِى الْمُتْعَةِ ثَلاَثًا ثُمَّ نَهَى عَنْهَا.

Dari Iyas bin Salamah dari bapaknya, ia berkata: “Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- telah memberi rukhshakh (keringanan) pada tahun Authas tentang mut’ah sebanyak 3 kali kemudian melarang atasnya”[19]

Nikah mut’ah pada masa jahiliyyah hukumnya adalah mubah.[20] Pada masa awal Islam hal ini masih diperbolehkan[21], kemudian datang syari’at Islam yang sempurna untuk menghapus hukum tersebut. Lafadz (رخص) menunjukkan bahwa pada dasarnya mut’ah itu terlarang, kemudian dibolehkan secara rukhshakh (darurat). Hal ini disebabkan para sahabat dalam peperangan yang melelahkan tidak dapat melampiaskan hajatnya, sehingga sebagian mereka berkeinginan untuk mengebiri diri mereka sendiri. Ibaratnya adalah seperti orang yang kelaparan dan ia tidak mendapatkan sesuatu apapun untuk dimakan selain daging babi, maka dalam kondisi darurat ini dibolehkan baginya memakan babi tersebut.[22] Oleh karena itu nikah mut’ah yang terjadi pada masa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- dilaksanakan sama seperti pernikahan syar’i pada umumnya, hanya saja disana ada pembatasan waktu pernikahan.[23] Kemudian Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- mencabut rukhshakh tersebut dengan lafadz (ثم نها عنها).[24]

Hadits ketiga

عَنْ الرَّبِيعُ بْنُ سَبْرَةَ الْجُهَنِىُّ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِى الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَىْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلاَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا ».

Dari ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhani bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwasanya dia pernah bersama Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- maka beliau bersabda: “wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengijinkan bagi kalian mut’ah dengan wanita, dan sesungguhnya Allah -Subhanahu wa ta’ala- telah mengharamkan mut’ah tersebut sampai hari kiamat. Barang siapa yang memiliki sesuatu (ikatan mut’ah) dengan wanita-wanita maka hendaknya ia lepaskan jalannya dan jangan kalian ambil sedikitpun dari apa yang telah kalian berikan kepada mereka.”[25]

Hadits di atas semakin menguatkan bahwa yang mengharamkan mut’ah adalah Allah -Subhanahu wa ta’ala- melalui lisan Rasul-Nya yang mulia -Shalallahu alaihi wa salam-. Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- mengumumkan larangan tersebut pada hari Fathu Makkah. Imam Nawawi dalam syarahnya terhadap shahih Muslim menjelaskan panjang lebar tentang pendapat para Ulama dalam masalah ini. Ringkasnya adalah mut’ah pada awal Islam diperbolehkan, kemudian diharamkan pada perang Khaibar, kemudian dibolehkan lagi selama 3 hari pada perang Fathu Makkah yaitu pada hari Authas kemudian diharamkan pada hari itu juga dengan pengharaman selama-lamanya sampai hari kiamat[26]. Dan penegasan keharaman ini disampaikan lagi oleh Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- pada haji wada’[27].

E. PENUTUP

Hadits sahabat Jabir -Radiallahu anhu- yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya secara hukum telah dihapus oleh dalil-dalil lain yang lebih shahih dan sharih. Mut’ah secara jelas telah terbukti diharamkan langsung oleh Allah -Subhanahu wa ta’ala- baik melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an maupun melalui lisan Nabi-Nya -Shalallahu alaihi wa salam-. Hal tersebut telah menjadi ijma’ sahabat Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam-.

DAFTAR PUSTAKA

Abdat, Abdul Hakim bin Amir. Nikah Mut’ah = Zina. Poltangan: Maktabah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan. 1425 H/2004 M.

Abu ‘Uwanah, Mustakhraj Abi ‘Uwanah (Maktabah Syamilah).

‘Ajin, ‘Ali bin Ibrahim bin Su’ud, Mukhalafatul Kuffar fis Sunnah an-Nabawiyyah. Aman: Darul Ma’ali. Cet I. 1419 H/1998 M.

Andita dan D. Nugroho, Kawinilah Aku, Kau Kukontrak. Media Indonesia: 5 Oktober 1997 dalam Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Mengapa Kita Menolak Syi’ah. Jakarta: LPPI. Cet. V. 2002.

Al-‘Asqalani, Ahmad bin ‘Ali bin Hajar. Fathul Bari. (Maktabah Syamilah).

Al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin ‘Ali. Sunan Al-Baihaqi (Maktabah Syamilah).

Bin Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibnu Majah. (Maktabah Syamilah).

Bin Malik, Malik bin Anas. Muwatha’ Malik. (Maktabah Syamilah).

Al-Buhairi, Mamduh Farhan. Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim. Indonesia: Dar al-Faruq lin Nasyr wat Tauzi’, cet I. 1422 H.

Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il. Shahihul Bukhari. (Maktabah Syamilah).

Al-Fauzan, Shalih bin Fauzan bn Abdillah. Al-Mulakhkhashul Fiqhy. Darul ‘Ashimah. TT.

Internet. Kutub Jamilah Jiddan. (http://www.al-yemen.org/vb/showthread.php?t=166468)

Internet, Media Arab Bahas Maraknya Nikah Mut’ah di Indonesia (http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=9132:media-arab-bahas-maraknya-nikah-mutah-di-indonesia&catid=1:nasional&Itemid=54)

Iskandar, Agung Putu. Pergi ke Puncak ketika Musim Turis Timur Tengah Tiba (1-3). Harian Jawa Pos Ed. 11-13 Mei 2009. (http://www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=68557)

Al-Kadhimi, ‘Abbas. Siyahah fa ‘Alamit tasyayyu’. Kairo: Darul Amal. TT.

Al-Khurrasyi, Sulaiman bin Shalih. Al-Farqu baina: Zawajil Musayyar wa Zawajil Mut’ah waz Zawajil ‘urfi (http://www.saaid.net/Warathah/Alkharashy/m/74.htm).

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Surat Keputusan Fatwa Dewan Pimpinan MUI tentang Nikah Mut’ah dalam Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Mengapa Kita Menolak Syi’ah. Jakarta: LPPI. Cet. V. 2002.

Al-Mishri, Muhammad bin Mukarram. Lisanul ‘Arab. Beirut: Dar Shadir, cet I. TT.

Al-Mubarakfiry, Shafiyyurrahman. Ar-Rahiqul Makhtum. terj. Hanif Yahya. Jakarta: PT. Megatama Sofwa Pressindo. 1421 H/2001 M.

Al-Muhammady, Yusuf Jabir. Tahrimul Mut’ah fil Kitabi was Sunnah (http://www.ansar.org/books/Motaa.zip).

Al-Musawi, Husein. Lillah tsumma lit Tarikh (http://www.ansar.org/books/liltareekh.zip).

Al-Musawi, Musa. Asy-Syi’ah wat Tashhih: Ash-Shira’ bainas Syi’ah wat Tasyayyu’. 1408 H/1978 M.

Al-Naisabury, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Indonesia. Maktabah Dahlan. TT.

Al-Naisabury, Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. (Maktabah Syamilah).

Al-Nasa’i, Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib. Sunanun Nasa’i. (Maktabah Syamilah).

Al-Nawawi, Yahya bin Syarf. Syarhun Nawawi ‘ala Muslim (Maktabah Syamilah).

Salim, Abu Malik Kamal bin as-Sayyid. Shahih Fiqih Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari. Jakarta: Pustaka at-Tazkia. 2006.

Al-Shan’ani, ‘Adurrazzaq. Mushnaf ‘Abdirrazzaq (Maktabah Syamilah).

Lampiran. Sebagian Sanad Rawi dalam Shahih Muslim

جابر بن عبد الله

I

I

I

ابو الزبير

ابو نضرة

عطاء

I

I

I

ابن جريج

عاصم

ابن جريج

I

I

I

عبد الرزاق

عبد الواحد بن زياد

عبد الرزاق

I

I

I

محمد بن رافع

حامد بن عمر البكراوي

الحسن الحلواني

I

I

I

مسلم

مسلم

مسلم


[1] Musa al-Musawi, Asy-Syi’ah wat Tashhih: Ash-Shira’ bainas Syi’ah wat Tasyayyu’ (1408 H) hlm. 108

[2] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Syarhun Nawawi ‘Ala Muslim (Maktabah Syamilah), j. 5, hlm. 80

[3] Al-‘Asqalani, al-Fath, j. 14, hlm. 369

[4] Al-Muhammady, Tahrim, hlm. 43

[5] Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, Shahih Fiqih Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Jakarta: Pustaka at-Tazkia, 2006), hlm. 117

[6] Al-Muhammady, Tahrim, hlm. 8

[7] Al-Buhairi, asy-Syi’ah, hlm. 216

[8] Al-Muhammady, Tahrim, hlm. 8 – 23

[9] ‘Abbas al-Kadhimi, Siyahah fa ‘Alamit tasyayyu’ (Kairo: Darul Amal, TT) hlm. 81

[10] Li’an adalah sumpah saling melaknat antara suami istri apabila suami mengetahui atau mendapat indikasi kuat bahwa istrinya telah berzina sedangkan dia tidak memiliki saksi selain dirinya sendiri. Caranya ialah suami bersumpah sebanyak 4 (empat) bahwa istrinya telah berzina, lalu yang kelima bersumpah bahwa laknat Allah akan menimpanya apabila ia berdusta. Kemudian istrinya bersumpah 4 (empat) kali bahwa suaminya telah berdusta lalu yang kelima ia bersumpah bahwa murka Allah akan menimpanya apabila suaminya benar. Lihat Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, Al-Mulakhkhashul Fiqhy, (Darul ‘Ashimah, TT), hlm. 411-414

[11] Dhihar adalah seorang suami berkata kepada istrinya dengan maksud untuk mengharamkan hubungan suami istri dengan perkataan: kamu atasku adalah seperti punggung ibuku atau semisalnya. (Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash, hlm. 406)

[12] Ila’ adalah sumpah seorang suami yang mungkin untuk melakukan jima’ dengan menggunakan nama Allah atau sifat-sifat-Nya untuk tidak menggauli istrinya di qubulnya selamanya atau lebih lama dari empat bulan. (Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash, hlm. 402)

[13] Khulu’ adalah perceraian suami istri dengan kompensasi tertentu karena istri menuntut cerai (lepas) dari suami. (Al-Fauzan, Al-Mulakhkhash, hlm. 381)

[14] Khusus pain ke 21 disebutkan oleh Al-Kadhimi, Siyahah, hlm. 82

[15] HR Bukhari (4216), Muslim (3497, 5116), Malik (1136), Nasa’i (3379), Ibnu Majah (2037), penomeran hadits berdasarkan Maktabah Syamilah.

[16] Syeikh Husain setelah menulis kitab tersebut beliau dibunuh karena difatwakan kafir oleh ulama’ Syi’ah (http://www.al-yemen.org/vb/showthread.php?t=166468)

[17] Husein al-Musawi, Lillah tsumma lit Tarikh (http://www.ansar.org/books/liltareekh.zip), hlm. 39

[18] Shafiyyurrahman al-Mubarakfiry, ar-Rahiqul Makhtum, terj. Hanif Yahya (Jakarta: PT. Megatama Sofwa Pressindo, 1421 H), hlm. 503

[19] HR. Muslim (3484)

[20] Husein, Lillah, hlm. 39

[21] An-Nawawi, Syarh, j. 5 hlm. 76

[22] Abdul Hakim bin Amir Abdat, Nikah Mut’ah = Zina (Poltangan: Maktabah Mu’awiyyah bin Abi Sufyan, 1425 H), hlm. 19

[23] Al-Buhairi, asy-Syi’ah, hlm. 212,

[24] Majelis Ulama Indonesia (MUI), Surat Keputusan Fatwa Dewan Pimpinan MUI tentang Nikah Mut’ah, dalam LPPI, Mengapa, hlm. 199-120

[25] HR. Muslim (3488)

[26] An-Nawawi, Syarh, j. 5 hlm. 76

[27] Ibid.