Al Asfaraayaini

Telah diriwayatkan beberapa macam aqidah Syi’ah, misalnya: Mereka mengkafirkan shahabat , Al Qur’an telah diubah dari keasliannya dan terdapat tambahan serta pengurangan, mereka menantikan kedatangan imam ghaib mereka yang akan muncul untuk mengajarkan syariat kepada mereka … beliau berkata: “Semua kelompok Syi’ah Imamiyah telah sepakat pada keyakinan sebagaimana kami sebutkan di atas.” Kemudian beliau menyatakan tentang hukum mereka sebagaimana dikatakannya: “Dalam keyakinan mereka semacam itu sama sekali bukanlah merupakan ajaran Islam dan hanya berarti suatu kekafiran. Karena di dalam keyakinan semacam itu tak ada lagi sedikit pun ajaran Islam tersisa.”

Abu Hamid Al Ghazali

Beliau berkata: Karena golongan Rafidhah dalam memahami Islam itu lemah (dangkal), maka mereka melakukan kedurhakaan dengan membuat aqidah al Badaa’. Meriwayatkan dari Ali, bahwa beliau tidak mau menceritakan hal yang ghaib, karena khawatir diketahui oleh Allah, sehingga Allah akan mengubah-nya.Mereka pun meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, bahwa ia berkata: “Allah tidak mengetahui sesuatu kejadian dimasa datang sebagaimana hanya pada peristiwa Ismail, yaitu peristiwa penyembelihannya. … Aqidah semacam ini benar-benar suatu kekafiran, dan menganggap Allah itu bodoh dan mudah terpengaruh. Hal semacam ini mustahil, karena Allah itu ilmu-Nya Maha meliputi segala sesuatu.

Al-Ghazali berkata: “Seseorang yang dengan terus terang mengkafirkan Abu Bakar dan Umar -semoga Allah meridhai mereka- maka ia telah menentang dan membinasakan ijma’ kaum muslimin. Padahal tentang diri mereka (para shahabat) ini terdapat ayat-ayat yang menjanjikan surga kepada mereka dan pujian bagi mereka serta mengukuhkan atas kebenaran kehidupan agama mereka, keteguhan aqidah mereka dan kelebihan mereka dari manusia-manusia lain. Kemudian kata beliau: “Bilamana riwayat yang begini banyak telah sampai kepadanya, namun ia tetap berkeyakinan bahwa para shahabat itu kafir, maka orang semacam ini adalah kafir. Karena ia telah mendustakan Rasulullah. Sedangkan orang yang mendustakan satu kata saja dari ucapan beliau, maka menurut ijma’ kaum muslimin, orang tersebut adalah kafir.

Al Qadhi ‘Iyadh

Beliau berkata: “Kita telah menetapkan kekafiran orang-orang Syi’ah yang telah berlebihan dalam keyakinan mereka, bahwa para imam mereka lebih mulia daripada Nabi.”

Begitu pula dihukum kafir orang yang mengatakan, bahwa Ali dan para imam sesudahnya mempunyai wewenang kenabian yang sama dengan Nabi Saw. Setiap imam Syi’ah menempati derajat sama dengan Nabi Saw. Di dalam hal kenabian dan sumber penetapan agama. Beliau menyatakan, bahwa mayoritas golongan Syi’ah berkeyakinan seperti ini. Begitu juga seseorang yang mengaku-ngaku memperoleh wahyu, sekalipun tidak mengaku sebagai Nabi

Beliau berkata: “Kami juga mengkafirkan siapa saja yang mengingkari Al Qur’an, walaupun hanya satu huruf atau menyatakan ada ayat-ayat yang diubah atau ditambah di dalamnya, sebagaimana keyakinan golongan Bathiniyyah dan Isma’iliyyah.

As Sam’aani(Wafat, 562 H)

Beliau berkata: “Umat Islam telah bersepakat untuk mengkafirkan golongan imamiyah (Syi’ah) karena mereka berkeyakinan, bahwa para shahabat telah sesat, mengingkari ijma’ mereka dan menisbatkan hal-hal yang patut bagi mereka.”

Ar Rozi

Ar Rozi menyebutkan, bahwa shahabat-shahabatnya dari aliran Asyairah mengkafirkan golongan Rafidhah (Syi’ah), karena tiga alas an:

Pertama: karena mengkafirkan para pemuka kaum muslimin (para shahabat Nabi). Setiap orang yang mengkafirkan seseorang muslim, maka dia adalah kafir. Dasarnya adalah sabda Nabi Saw (artinya): “Barangsiapa berkata kepada saudaranya, hai kafir!, maka sesungguhnya salah seseorang dari keduanya atau lebih patut sebagai orang kafir.”

Dengan demikian mereka (golongan Syi’ah) otomatis menjadi kafir.

Kedua: mereka telah mengkafirkan suatu umat (kaum) yang telah ditegaskan oleh Rasulullah sebagai orang-orang terpuji dan memperoleh kehormatan (para shahabat Nabi).

Dengan demikian golongan Syi’ah menjadi kafir, karena mendustakan apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah.

Ketiga: Umat Islam telah ijma’ menghukum kafir siapa saja yang mengkafirkan para tokoh dari kalangan shahabat

Ibnu Taimiyyah

Beliau berkata: “Barang siapa beranggapan bahwa Al Qur’an dikurangi ayat-ayatnya atau ada yang disembunyikan, atau beranggapan bahwa Al Qur’an mempunyai penafsiran-penafsiran batin, maka gugurlah amal-amal kebaikannya. Dan tidak ada perselisihan pendapat tentang kekafiran orang semacam ini”

Barang siapa beranggapan para shahabat Nabi itu murtad setelah wafatnya Rasulullah – kecuali tidak lebih dari sepuluh orang – atau mayoritas dari mereka sebagai orang fasik, maka tidaklah diragukan lagi, bahwa orang yang semacam ini adalah kafir. Karena dia telah mendustakan penegasan Al Qur’an yang terdapat di dalam berbagai ayat mengenai keridhaan dan pujian Allah kepada mereka. Bahkan kekafiran orang semacam ini, adakah orang yang meragukannya? Sebab kekafiran orang semacam ini sudah jelas. Sebab jika pernyataan orang semacam itu mengandung pengertian, bahwa orang-orang yang telah menyampaikan riwayat Al Qur’an dan sunnah Nabi adalah orang-orang kafir atau fasik, padahal ayat berikut ini menegaskan: “Kamu adalah sebaik-baik umat yang ditampilkan kepada semua umat manusia”.[55] Begitu juga periode mereka merupakan sebaik-baik periode sejarah manusia, namun dikatakan, bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang kafir atau fasik. Ini berarti bahwa umat ini (umat Islam) adalah sejahat-jahat umat dan pendahulunya adalah sejelek-jelek manusia. Dan orang yang beranggapan seperti ini adalah kafir, sebab mengacaukan atau merusak citra agama Islam.[56]

Syeikhul Islam berkata: “Mereka ini lebih jahat dari sebagian besar golongan pengikut hawa nafsu dan lebih patut diperangi daripada golongan Khawarij

Mereka itu telah kafir terhadap ajaran yang dibawa oleh Rasulullah, yang hanya Allah-lah mengetahui berapa banyak ajaran yang dibawa oleh Rasul-Nya. Golongan ini terkadang mendustakan hadits-hadits yang sah dari Rasulullah dan terkadang mendustakan ayat-ayat Al Qur’an.

Sungguh, Allah telah menyatakan pujian kepada para shahabat di dalam Al Qur’an, ridha kepada mereka dan mengampuni mereka, namun orang-orang Syi’ah mengingkari kebenaran ini. Allah telah menyatakan di dalam Al Qur’an adanya keharusan berjum’ah dan keharusan berjihad serta taat kepada ulil amri, tetapi mereka mengingkari hal ini.

Allah mengatakan di dalam kitab Al Qur’an bahwa sesama kaum mukminin saling mengayomi, saling mencintai, mendamaikan perselisihan sesama mereka. Tetapi golongan Syi’ah mengingkari semua ini.

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an larangan membantu golongan kafir dan saling mencintai sesama mereka. Tetapi golongan Syi’ah melanggarnya.

Allah menyebutkan di dalam Al Qur’an haramnya menumpahkan darah orang Islam, merusak harta dan kehormatan mereka, mengharamkan menggunjing mereka, mengolok-olok dan member nama yang tak baik, tetapi golongan Syi’ah ternyata merupakan manusia yang paling depan dalam menghalalkan semua ini.

Allah menyebutkan di dalam Al Qur’an perintah berjama’ah dan bersatu padu, melarang bergolong-golongan dan bercerai-berai, tetapi Syi’ah jauh menyimpang dari ketetapan ini.

Allah menyebutkan di dalam kitab-Nya agar taat kepada Rasulullah, mencintainya dan mengikuti hukumnya, tetapi Syi’ah mengingkarinya.

Allah menyebutkan di dalam kitab-Nya hak-hak isteri-isteri Rasulullah, tetapi Syi’ah mendurhakainya.

Allah menyatakan di dalam Al Qur’an tentang ketauhidan-Nya, ketunggalan-kekuasaan-Nya, hak tunggal bagi-Nya, untuk disembah, tiada sesuatu apapun yang menjadi sekutu-Nya, tetapi Syi’ah mengingkarinya. Mereka telah melakukan kesyirikan, karena mereka merupakan manusia yang paling hebat dalam mengagungkan kuburan sehingga menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah.

Allah menyebutkan di dalam kitan-Nya, bahwa Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segalanya, Pencipta segalanya dan Pemilik segala kekuatan, tetapi Syi’ah kafir kepadanya.

Kemudian Syeikhul Islam berkata: “Barang siapa beranggapan baik dia dikatakan berilmu atau lain sebagainya, bahwa pembenaran memerangi golongan Syi’ah diqiyaskan dengan hukum memerangi para pemberontak terhadap pemerintahan Islam yang sah, karena mereka melakukan takwil yang dapat ditolerir,[58] Sesungguhnya dia adalah keliru lagi jahil terhadap hakekat syariat Islam, karena golongan Syi’ah ini telah mengingkari syariat dan sunnah Rasulullah sehingga ia lebih jahat daripada golongan khawarij yang berpendapat bahwa umat Islam bebas untuk mempunyai imam atau tidak. Padahal golongan Syi’ah ini tidaklah menggunakan takwil yang dapat ditolerir, karena takwil jenis ini boleh digunakan hanya apabila tidak ada nash yang tegas, misalnya para ulama yang berbeda pendapat mengenai sumber-sumber ijtihad, sehingga mereka menggunakan takwil jenis tersebut. Sedangkan golongan Syi’ah ini bukanlah mengikuti takwil yang dapat ditolerir yang biasa digunakan para ulama di dalam memahami Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’, tetapi menggunakan takwil yang digunakan oleh umat Yahudi dan Nashrani. Bahkan takwil yang digunakan golongan Syi’ah adalah takwil pengikut hawa nafsu yang paling jahat.

Tetapi, Syeikhul Islam mengkafirkan golongan yang punya pendapat semacam ini, dengan syarat dia telah mengetahui dalil yang benar dan risalah Islam telah sampai kepadanya. Oleh karena itu terhadap kasus golongan Syi’ah yang telah tertangkap (oleh pemerintah Islam), beliau memberi fatwa yang akan kami muat dibagian berikutnya.

* dari Buku FATWA DAN PENDIRIAN ULAMA SUNNI TERHADAP AQIDAH SYI’AH