SYAIKH MADUH FARHAN AL-BUHAIRI

Penerjemah:

AGUS HASAN BASHORI

Penerbit:

Darul Falah Jakarta

(Mukaddimah penulis sudah dimuat)

PENGANTAR PENERJEMAH

· Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala amal shalih bisa terlaksana. Hanya dengan taufiq-Nya terjemahan kitab ini terselesaikan, di tengah kesibukan tadris, tarbiyah, dirasah, dakwah dan kitabah sedang meningkat. Sudah cukup lama saya meninggalkan dunia terjemahan, dan tidak ada niatan menerjemah melainkan satu kitab yang menjadi “hutang” saya bagi guru saya al-Ustadz Dr. Nashir ibn Abdullah al-Qafari –hafidzahu Allah- yang telah menunjuk dan memberi ijin secara tertulis kepada saya (pada tahun 1418 H) untuk menerjemah kitab beliau yang berjudul “Ushul Mazhab asy-Syi’ah”.

Namun Allah berkehendak lain, dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya saya menerjemahkan kitab Ustadz Mamduh Farhan al-Buhairi al-Makki. Di antara pertimbangan itu adalah:
1. Pengarang kitab sendiri yang telah datang dari jauh (Makkah) untuk mencari penerjemah di Indonesia. Dan kemudian menunjuk saya dan memohon.

2. Kitab ini objek kajiannya sama dan tujuannya juga sama dengan kitab Syaikh al-Qafari yang belum rampung itu, paling tidak untuk sementara waktu pikiran-pikiran beliau ikut tersampaikan, sebab kitab beliau termasuk menjadi referensi dari kitab ini.

3. Kitab ini benar-benar masih perawan, bahkan belum dicetak, masih dalam proses penyempurnaan, karena itu sering terjadi kontak langsung dengan pengarang demi perbaikan, pengurangan dan penambahan. Ini tentu menjadi daya tarik tersendiri, bahkan dua hari beliau bermalam di tempat tinggal saya untuk tujuan itu.

4. Kitab ini memiliki banyak keistimewaan, pertama: ditulis dengan serius, full time selama dua tahun oleh orang yang memiliki perhatian khusus terhadap ajaran Syi’ah dan telah melakukan pengamatan di India dan Indonesia; kedua: memuat data dan fakta yang menarik dan baru. Ambil saja misalnya pembahasan tentang hubungan khulafa rasyidin dengan ahlul bait. Pernikahan Ali dan Fathimah, nikah mut’ah, perdebatan antara Ja’far ash-Shadiq dengan seorang Rafidhi, kemiripan Syi’ah dengan Yahudi, Nashrani dan Majusi, Rafidhah di mata ahlul bait.

5. merasa terpanggil untuk mengamalkan hadits “Tolonglah saudaramu yang zhalim dan yang dizhalimi”. Berapa banyak saudara-saudara kita yang tertipu oleh pemikiran-pemikiran Syi’ah karena tidak tahunya tentang Syi’ah sebenarnya, sementara yang mereka baca adalah tulisan-tulisan dari Syi’ah. Sering saya menjumpai orang yang berkata: Syi’ah adalah mazhab seperti mazhab fiqih yang empat, nikah mut’ah adalah masalah khilafiyah, orang ahlu sunnah jumud dan eksklusif serta tidak obyektif dalam memandang Syi’ah dan lain sebagainya. Walhasil buku-buku edisi Indonesia yang membantah dan menjelaskan hakikat Syi’ah masih tergolong minim dan langka, dan kehadiran buku ini adalah suatu hal yang niscaya.

· Judul Buku

Adapun judul kitab ini adalah “asy-Syi’ah, minhum ‘Alaihim” yang secara harfiah berarti “Syi’ah dari mereka atas mereka”. Kemudian untuk judul terjemahan ada lebih dari sepuluh opsi yang saya sodorkan kepada para sahabat dan termasuk kepada Ustadz Mamduh. Pada prinsipnya kita sepakat untuk memilih judul yang elegan, menarik, baru, singkat tapi padat serta memiliki arti filosofis.

Ada dua judul yang bersaing, pertama “Bila Syi’ah berguru pada Himar”; kedua “Syi’ah antara Tangis dan Tawa”. Akhirnya saya pilih yang kedua (Namun editor mengusulkan judul judul Gen syiah- jazahullah khairan)

Membaca buku ini dengan tenang dan penghayatan akan melahirkan pengaruh tegang (serius), tertawa dan menangis. serius karena buku ini tergolong ilmiyah. Tertawa, karena membaca keajaiban-keajaiban dan lelucon yang diucapkan atau dilakukan oleh orang bodoh dan penipu yang kemudian ketahuan, juga karena anlisa yang tajam dan menggelitik dari pengarang. Menangis, karena terharu melihat ukhuwah ahlul bait dan khulafa rasyidin begitu luar biasa, kasihan melihat ahlul bait dikhianati dan dibantai dan lain sebagainya.

· Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan studi kepustakaan, bersifat eksploratif dengan metodologi sosio historis, deskriptif, analisis kritis, juga metodologi komparatif. Dia menggunakan bahasa agama, ilmiah dan sastra.

Untuk mendeskripsikan ajaran dan wajah Syi’ah, dia menggunakan kitab-kitab Syi’ah yang standar dan primer baik yang klasik maupun yang kontemporer. Dan untuk membantahnya juga menggunakan kitab-kitab Syi’ah sendiri, sebagai referensi primer dan menjadikan kitab-kitab sunni sebagai pendukung. Dan yang penting lagi adalah interpretasi dan analisa penulis yang tajam terhadap kandungan teks-teks Syi’ah, yang tidak jarang mengandung senyum dan tawa.

· Temuan Penelitian

Hasil penelitian ini dapat dituangkan dalam satu ringkasan bahwa Syi’ah itu dibidani oleh Yahudi, dibesarkan oleh Majusi, didukung oleh Nashrani dan Hindu, disumbang oleh Romawi dan Yunani dan dibiayai oleh penjajah. Dipimpin oleh para pendusta atau juhhal. Ibaratnya Syi’ah itu adalah nama sebuah kue yang adonannya terdiri dari bahan Islam, Yahudi, Nashrani, Hindu, Majusi, Romawi dan Yunani.

Penemuan lain adalah Syi’ah dan dusta itu tidak pernah terpisah ibarat saudara kembar. Dusta bagi Syi’ah adalah wajib, surga hanya dapat diraih dengan dusta, sedangkan neraka didapat dengan sikap jujur, adil dan apa adanya.

Syi’ah adalah kumpulan orang-orang yang bodoh, di lihat dari kaca mata al-Qur’an dan sunah Rasul Saw. Mereka itu kata Ustadz Mamduh adalah “Baqarun bila Qurun” (sapi tanpa tanduk) maksudnya, kepala manusia, tetapi otaknya, otak sapi.

· Pekerjaan Penerjemah

  1. melengkapi penulisan Surat dan ayat
  2. Meletakkan nomor ayat di dalam isi buku, demi efisiensi penulisan, kecuali ayat-ayat yang dimaksudkan agar pembaca tidak diganggu dan tidak putus konsentrasi oleh keterangan nama surat dan nomor ayat, maka ditulis di foot note.
  3. Membuat sub-sub judul demi memudahkan pembaca.
  4. Memberi penjelasan-penjelasan yang dianggap perlu dan ditandai dengan (pent).
  5. Menjaga keaslian teks yang memuat data dan fakta dengan terjemahan yang bersifat harfiyah, sedapat mungkin. Berbeda dengan narasi dan analisa maka terjemahannya agak bebas biar enak dibaca.
  6. Membiarkan metodologi penulsan catatan kaki dan referensi seperti aslinya, karena keterbatasan waktu dan yang terpenting adalah informasinya tersampaikan secara benar, utuh dan amanah, dan lagi kita bukan orang formalis dalam hal metodologi ilmiah, sebab hal itu bersifat relatif.
  7. Memberi tanda “Sunni” di belakang penulis Sunni yang ada dalam referensi (sebisa mungkin, karena keterbatasan waktu).

Akhirnya saya ucapkan selamat membaca semoga Allah menjadikannya sebagai ilmu yang bermanfaat.

Malang, 5 Jumadil Akhir 1422 H

24 Agustus 2001 M

Abu Hamzah as-Sanuwi

Agus Hasan Bashari,Lc