Mamduh Farhan al-Buhairi
(dari buku Gensyiah)

Jika disebut Umar maka tidak terlintas di benak seseorang melainkan Umar ibn al-Khattab Radhiallahu ‘Anhu yang memiliki firasat dan ilham Rabbani. Yang telah berandil besar di dalam membangun keagungan Islam. Ia ikut meletakkan batu pertama bersama “Ash-Shadiq” dan “al-Amin” Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan “ash-Shiddiq”. Dia menyebarkan Islam hingga mengantarkan agama ini ke negri Persi (negri Majusi), dia menang dan memenangkan agama. Dia adalah penolong yang paling baik, telah berhasil melenyapkan kekuatan raksasa di muka bumi ini yang ditakuti oleh bangsa-bangsa dunia. Dia telah memecah taring-taringnya dan menjadikan hina setelah jaya, karena tidak ada kemuliaan sejati melainkan di bawah naungan panji Islam. Sebelumnya dia telah menghinakan kaum Musyrik Arab ketika hijrahnya, karena dia tidak hijrah secara sembunyi-sembunyi. Dan dialah satu-satunya orang yang hijrah di siang hari bolong. Setelah dia thawaf di Ka’bah, dia berbicara kepada seluruh orang-orang Quraisy. Dia mengatakan: “Barang siapa ingin menjadikan ibunya kehilangan anaknya atau ingin menjadikan yatim anaknya atau ingin menjadikan janda istrinya (maksudnya siapa yang ingin mati) maka temuilah aku di balik lembah ini”.

Dan karena keimanan Umar yang begitu kuat, dia telah membunuh pamannya (saudara ibunya) al-Ash Ibn al-Mughirah, dia tidak menoleh kepada kerabatnya, demi mati-matian meniti jalan ridla Allah dan rindunya kepada syurga[1]

Inilah Umar ibn al-Khattab, si jago menunggang kuda yang menundukkan gunung menjulang tanpa lelah…..

Dia menjaga untuk ahlul bait kedudukan mereka yang tinggi, dia mencintai mereka dan merekapun mencintainya.

Al-Ya’qubi[2] menyebutkan di dalam kitabnya bahwa Umar telah menertibkan administrasi negara (secara sistematis dan profesional), dan menetapkan pemberian (untuk rakyat) pada tahun 20 H. Dia berkata bahwa harta kekayaan telah melimpah dan diusulkan kepada Umar untuk membentuk “diwan” (instansi yang mengurus pembagian). Maka Umar memanggil ‘Aqil ibn Abi Thalib, Makhramah ibn Naufal dan Jibril ibn Muth’im ibn Naufal ibn Abdi Manaf.

Kemudian Umar berkata: “Tulislah daftar nama-nama penduduk lengkap dengan alamatnya. Mulailah dengan Bani Abdi Manaf”.

Maka orang yang ditulis dalam daftar nomor satu adalah Ali ibn Abi Thalib dengan pemberian lima ribu, al-Hasan tiga ribu dan al-Husain ibn Ali juga tiga ribu………..[3]

Umar kemudian berkata: “Tulislah nama-nama dan rumah penduduk. Tulislah Bani Abdi Manaf, kemudian Abu Bakar dan kaumnya, kemudian Umar dan kaumnya”.

Maka tatkala Umar melihat dia berkata: “Saya sangat ingin, Demi Allah, seandainya saya begini dalam kekerabatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akan tetapi mulailah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian yang paling dekat dan yang paling dekat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai kalian menempatkan Umar di mana dia di tempatkan oleh Allah SWT”.[4]

Dengan riwayat ini berarti al-Ya’qubi telah melayangkan tamparan yang sangat menyakitkan bagi Syi’ah Rafidhah yang menolak kebenaran dengan mengatakan bahwa Umar meng-ghasab hak ahlul bait!!

Bahkan kecintaan Umar kepada ahlul bait telah membawanya berkata kepada ‘Abbas paman Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tatkala ia menjadi tawanan perang Badar :”Hai ‘Abbas masuk Islamlah kamu, demi Allah kamu masuk Islam lebih aku sukai daripada al-khattab yang masuk Islam”.[5]

Renungkanlah dalam kalimat-kalimat berikut yang diucapkan oleh Ali Radhiallahu ‘Anhu kepada khalifah Umar Radhiallahu ‘Anhu ketika khalifah meminta pertimbangannya sehubungan dengan keinginan Umar untuk memimpin langsung penyerbuan ke Persia demi memerangi orang-orang Majusi:

“Sesungguhnya jika engkau keluar dari negri ini maka bangsa Arab (Muslim) akan bergabung denganmu dari seluruh penjuru, sehingga wanita dan anak-anak yang engkau tinggalkan di belakangmu lebih penting bagimu dari musuh yang ada di hadapanmu. Sesungguhnya orang-orang Ajam (musuh dari non Arab) jika mengetahui besok bahwa engkau di sana maka mereka akan berkata, “Inilah akar orang Arab, kalau kalian bisa mencabutnya maka kalian akan tenang”, sehingga hal tersebut menjadi motifasi yang kuat untuk bersatu dan mengincarmu”.[6]

Begitu pula ketika Umar Radhiallahu ‘Anhu meminta pendapat kepada Ali sewaktu akan pergi berperang ke negri Romawi maka Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata kepadanya:

“Sesungguhnya bilamana engkau keluar sendiri melawan musuh, lalu engkau bertemu mereka dan engkau dibunuh maka orang-orang Islam tidak memiliki lagi pelindung selain negri mereka yang paling jauh, tidak ada lagi setelah engkau orang yang menjadi tempat mengadu dan melapor. Maka utuslah kepada mereka orang yang berpengalaman dan kirimlah orang-orang yang kuat dan sabar, jika Allah memberi kemenangan maka itulah yang engkau suka, dan jika yang lain maka engkau bisa memberi bantuan dan penguat (pengaman) bagi umat Islam”.[7]

(Ibn Abi al-Hadid menulis syarah di bawahnya bagi kata-kata yang sulit).

Maka cinta seperti apa yang dimiliki oleh Ali sehingga ia sangat perhatian terhadap kehidupan Umar!

Seandainya yang ada adalah seperti apa yang dituduhkan oleh Rafidhah yaitu Ali membenci Umar, tentu Ali tidak akan mempedulikan keselamatan dan kehidupan Umar. Sesungguhnya Ali Radhiallahu ‘Anhu lebih mengerti tentang Umar dari pada Umar sendiri.

Al-Majlisi telah meriwayatkan dalam “Bihar al-Anwar” dari Imam Muhammad al-Baqir tentang komentarnya atas do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

“Ya Allah muliakanlah Islam ini dengan Umar ibn al-Khattab”. Dia berkata: “Sesungguhnya do’a Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pasti diterima”.[8]

Ad-Dainuri[9] menyebutkan bahwa tatkala Ali tiba di Kufah, dia meninggalkan apa yang ditinggalkan oleh Umar.

Maka dikatakan kepadanya: “Wahai Amirul Mukmunin apakah engkau akan singgah di istana?”

Dia menjawab: “Aku tidak perlu singgah di dalamnya sebab Umar Radhiallahu ‘Anhu tidak menyukainya, akan tetapi aku akan singgah di pelatarannya (serambinya)”.

Kemudian dia menuju masjid agung lalu shalat dua rakaat, setelah itu ia singgah di “rahbah” (halaman istana).[10]

Di dalam salah satu khutbahnya Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu memuji dan menyanjung Umar al-Faruq ra.

Dia berkata: “Orang-orang Islam telah memilih seorang di antara mereka (Abu Bakar), setelah Nabinya dengan pendapat-pendapat mereka. Maka dia (Abu Bakar) telah mendekatkan dan meluruskan sebatas kemampuannya, dengan kelemahan yang ada di dalamnya. Kemudian setelahnya mereka dipimpin oleh seorang pemimpin, dia tegak dan menegakkan hingga menancapkan Islam kokoh tak bergoyang”.[11]

Ibn Abi al-Hadid menyebutkan bahwa al-Faruq ketika ditikam oleh Abu Lu’lu’ al-Majusi al-Farisi, dua putra paman Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Abdullah ibn Abbas dan Ali ibn Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu menjenguknya.

Ibnu Abbas berkata: “Kami mendengar suara Ummu Kultsum (binti Ali): “Wa umarah!” Banyak wanita di dalam rumah yang menangis maka suara tangisan itu memenuhi rumah”.

Maka Umar Radhiallahu ‘Anhu berkata: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuninya”.

Maka aku katakan: “Demi Allah aku berharap engkau tidak melihatnya (neraka) melainkan sekedar apa yang difirmankan oleh Allah “Sesungguhnya setiap kamu pasti melewatinya”, karena aku tidak pernah mengetahui Amirul Mukminin dan Sayyidul Muslimin melainkan menghukumi dengan al-Qur’an dan membagi dengan adil”.

Umar tertarik dengan ucapanku maka ia bangkit duduk lalu bertanya: “Apakah engkau bersaksi untukku dengan ini wahai Ibnu Abbas?”

Maka aku tidak berani menjawab.

Segera Ali Radhiallahu ‘Anhu memukul pundakku dan berkata: “Bersaksilah”.

Dalam satu riwayat: “Mengapa engkau bersedih wahai Amirul Mukminin? Demi Allah, sungguh Islammu adalah kemuliaan dan kepemimpinanmu adalah kebanggan. Engkau telah memenuhi bumi dengan keadilan”.

Maka Umar berkata: “Apakah engkau bersaksi untukku dengan hal tersebut wahai Ibnu Abbas?”

Ibnu Abbas diam seakan-akan tidak suka bersaksi, maka Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata kepadanya: “Katakanlah: Ya, dan aku bersamamu”.

Maka Ibnu Abbas berkata: “Ya”.[12]

Tatkala Umar dimandikan dan dikafani Ali as masuk ruangan dan berkata:

“Tidak ada di atas bumi ini seorangpun yang lebih aku sukai untuk bertemu Allah dengan membawa buku catatan amalnya selain dari yang terbungkus di tengah-tengah kalian ini”.[13]

Apakah pujian dan sanjungan Ali ini taqiyyah?? Apakah masih taqiyyah setelah mati?!

Bahkan, karena begitu cinta kepada Umar , Ali mengawinkannya dengan putrinya yang bernama Ummu Kultsum, yang ibunya adalah Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[14]

Dan bagi penerus Ibnu Saba’ bolehlah sombong sekarang!

Ali Radhiallahu ‘Anhu memuji Abu Bakar dan Umar: “Sesungguhnya sebaik-baik umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar”.[15]

Sebagaimana mereka menyebutkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Sesungguhnya Abu Bakar kedudukannya dari padaku adalah bagaikan kedudukan telinga, dan Umar dariku bagaikan mata”.[16]

Ath-Thusi[17] dan ash-Shaduq[18] juga menceritakan bahwa Umar Radhiallahu ‘Anhu tidak pernah mendengarkan orang yang mencela Ali ra. Bahkan Umar tidak tahan hal tersebut. Pernah ada seorang yang mencela Ali Radhiallahu ‘Anhu di hadapan Umar ra, maka Umar berkata:

“Kamu tahu pemilik kubur ini? (maksudnya Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam). Jangan menyebutnya kecuali kebaikan, karena jika kamu menyakitinya berarti kamu menyakiti ini di dalam kuburnya”.[19]

Tidak aneh jika Umar Radhiallahu ‘Anhu begitu mencintai dan menghormati Ali ra. Ini menunjukkan bahwa mereka para sahabat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sangat menghargai dan saling mencintai.

Ibn Abbas telah memuji Umar sebagai berikut: “Allah merahmati Abu Hafs (Umar). Demi Allah dia adalah penolong Islam, pelindung anak-anak yatim, sumber kebaikan, pusat iman, pengayom kaum dhuafa dan benteng bagi orang-orang hanif. Dia telah melaksanakan hak Allah dengan sabar dan ikhlas hingga ia menjelaskan agama, membuka berbagai negara dan mengamankan hamba-hamba Allah”.[20]

Ja’far ibn Muhammad imam ma’shum keenam bagi Syi’ah sesat telah memerintahkan para pengikutnya agar memberikan loyalitas kepada Abu Bakar dan Umar. Hal ini dikisahkan oleh sahabatnya yang disebut Abu Bashir:

“Saya duduk di samping Abu Abdillah as tiba-tiba datang Ummu Khalid -yang dulu dipotong oleh Yusuf ibn Umar- menghadap kami meminta izin menemuinya. Saya katakan: Ya”.

Dia berkata: “Izinkan dia”.

Kemudian wanita itu masuk dan berbicara, ternyata dia adalah wanita yang fasih bicaranya. Maka dia bertanya kepadanya tentang keduanya (Abu Bakar dan Umar).

Dia (imam) berkata: “Engaku berwala’ kepada keduanya”.

Wanita itu bertanya: “Jika aku bertemu Tuhanku aku akan berkata kepada-Nya bahwa anda yang memerintahkan aku untuk mencintai keduanya?!”

Dia imam berkata: “Ya “.[21]

Jika ini adalah keyakinan imam ke-6 menurut mereka, dan mereka menamai mazhab mereka dengan namanya (Ja’fariyah) dan mereka menyebut diri mereka sebagai “Ja’fariyyin” lalu mengapa keyakinan mereka menyalahi kayakinan imam mereka yang ma’shum itu?!

Demikianlah pendapat ahlul bait tentang Umar ibn al-Khattab pahlawan Islam yang tak terkalahkan itu, jika disebut sifat keberanian maka disebutlah nama Umar. Jika disebut sifat maju tak gentar disebutlah Umar dan jika disebut tentang sifat menyelam di samudra tantangan dan menundukkan yang mustahil maka tidak disebut selain Umar.

Adalah ahlul bait sangat sayang dan setia kepada Umar Radhiallahu ‘Anhu dari pada yang lain. Sehingga para sejarawan Syi’ah sendiri telah menyebutkan bahwa Ali dan putra-putranya telah berperang di bawah panji Umar dan mereka menerima dari Umar pembagian ghanimah, jariyah (tawanan wanita) dan hadiah. Barangkali sebaik-baik dalil dalam hal ini adalah Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib ra, dia termasuk anggota pasukan yang menaklukkan negri-negri Persia. Hal ini dikuatkan dengan adanya masjid di Ashfahan yang dikenal dengan nama “lisan al-‘ardh”! Dan dia telah dijuluki dengan gelar ini seperti yang mereka duga, karena imam Hasan as tatakala datang di Ashfahan pada zaman Umar sebagai mujahid di jalan Allah, sebagai pejuang dan penakluk negri-negru ini bersama bala tentara Islam, singgah di lokasi masjid ini. Kemudian bumi berbicara dengannya. Maka tempat itu dijuluki “Lisan al-‘Ardh” (lisan bumi) sebab ia berbicara dengannya!”[22]

Kecintaan ahlul bait kepada Umar diabadikan dengan menjadikan namanya sebagai nama putra-putra dari ahlul bait. Orang yang pertama menamakan putranya dengan “Umar” adalah Ali ra. Hal ini disebutkan oleh al-Mufid, al-Ya’qubi, al-Majlisi, al-Ashfahani dan pengarang kitab al-Fushul. Al-Mufid menyebutkan dalam “Bab putra-putri Amirul Mukminin”, sesungguhnya putra putri Ali berjumlah 27 anak di antaranya adalah Umar ibn Ali yaitu putra nomor enam bagi Ali.[23]

Al-Ya’qubi menambahkan bahwa ibu Umar ibn Ali adalah Ummu Habib binti Rabi’ah al-Bahriyah.[24] Adapun al-Majlisi menyebutkan bahwa Umar ibn Ali ini termasuk daftar yang terbunuh bersama al-Husain di Karbala dan ibunya adalah Ummu al-Banin binti al-Hizam al-Kullabiyah.[25] Demikian pula pengarang kitab al-Fushul mengakui bahwa Ali memiliki putra yang bernama Umar.[26]

Secara turun temurun ahlul bait mewarisi cinta ini sebagaimana kebiasaan mereka, karena mereka adalah orang yang di depan dalam kebaikan. Inilah Hasan ibn Ali Radhiallahu ‘Anhu mencontoh bapaknya dengan memberikan nama Umar untuk putranya yang kelima, sementara yang lain bernama Zaid, Qasim dan Abdullah, ibu mereka adalah Ummu Walad.[27]

Al-Majlisi mengatakan: “Adalah Umar ibn al-Hasan ikut terbunuh di padang Karbala”.[28]

Hingga al-Husain-pun mengikuti langkah bapak dan kakaknya dalam mencintai Umar dengan menamakan salah satu putranya dengan nama Umar sebagaimana yang disebut oleh al-Majlisi.

Begitu pula yang dilakukan oleh Ali Zainal Abidin. Ia memberi nama Umar pada salah satu putranya seperti yang diceritakan oleh kitab-kitab sejarah Syi’ah.[29] Dan tidak ketinggalan ahlul bait lainnya seperti Musa al-Kazhim. Demikian yang ditulis oleh al-Arbili dalam Kasyf al-Ghummah.

Kita cukupkan sampai di sini, jika tidak maka sesungguhnya keturunan ahlul bait telah banyak memberi nama Umar pada putra mereka. Akan tetapi kita menyebutkan contoh-contoh dari para imam karena menurut Rafidhah imam itu ma’shum, tidak mungkin salah! Lalu apakah para imam tadi yang “ma’shum” itu telah berbuat salah, semuanya? Ataukah semua itu taqiyyah? (Ataukah Rafidhah yang pendusta dan berperangai jahat?).

Semoga Allah merahmati ahlul bait, radhiyallahu ‘anhum wa ardhahum jami’an. Karena mereka adalah orang-orang Muslim yang paling baik kepada Umar ibn al-Khattab.

Ali Membai’at Umar ra

Cukup banyak bukti pembai’atan Ali kepada Umar ra. Barangkali kita bisa merumuskan dari ucapan dan khubah-khutbah Ali Radhiallahu ‘Anhu yang kita keluarkan dari kitab-kitab Syi’ah sendiri.

Di antara ucapan-ucapannya adalah: “Kaum Muslimin setelah Nabinya telah memilih berdasarkan pendapat-pendapat mereka, seorang (khalifah) dari kalangan mereka. Dia telah mendekatkan dan meluruskan sesuai dengan kemampuannya yang maksimal hingga agama ini tegak dan kokoh”, maksudnya adalah Abu Bakar.[30]

Sebagaimana Ali Radhiallahu ‘Anhu telah mengirim surat kepada para sahabatnya di Mesir setelah terbunuhnya Muhammad ibn Abi Bakar, gubernur yang diangkatnya sendiri untuk Mesir.

Dia berkata: “Maka Abu Bakar yang memimpin semua tugas-tugas itu…..ketika dia akan meninggal dia mengangkat Umar, maka kitapun mendengarkan, mentaati dan menasehati (mendampingi)…..”

Ali memujinya hingga berkata: “Dia (Umar) adalah orang yang diridhai perjalanan hidupnya dan yang diberkahi dalam jiwanya”.[31]

Ali Radhiallahu ‘Anhu juga berkata: “Saya telah membai’at Umar sebagaimana kalian membai’atnya. Saya telah memenuhi bai’at saya untuknya, hingga tatkala ia terbunuh saya dijadikan olehnya sebagai orang keenam dari enam orang (yang ditunjuknya) dan sayapun masuk di mana dia menyuruhku untuk masuk”.3

Alipun telah bersaksi bahwa manusia terbaik dalam umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar dan Umar.4

Dia persaksiannya adalah: “Keduanya adalah “imam al-huda” dan “syaikh al-Islam” yang menjadi qudwah setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Barang siapa mengikuti keduanya pasti terpelihara (dari kesesatan)”.5

Apakah setelah ini orang yang berakal masih memerlukan bukti lagi!


[1] Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, fath al-Qadir 2/327.

[2] Ahmad ibn Ya’qub ibn Ja’far, penulis Abbasi yang Syi’ah. Kakeknya berasal dari Mawali Abu al-Manshur. Seorang penjelajah, telah menjelajah di negri Syam dari Barat hingga ke Timur dan masuk Armenia pada tahun 260 H. Kemudian masuk “ar-Ramnah” terus kembali ke Mesir dan negara-negara Maghrib. Karena itu ia menulis “Kitab al-Buldan” pada tahun 284 H (al-Kuna wa al-Alqab. Jilid III. Hal 246).

[3] Umar mendahulukan ahlul bait padahal dia adalah khalifah. Namun begitulah yang namanya “al-Faruq”.

[4] Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 153.

[5] Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, fath al-Qadir 2/327.

[6] Nahj al-Balaghah dengan tahqiq. Hal 203-204.

[7] Nahj al-Balaghah. Tahqiq Subhi Shalih. Hal 193.

[8] Bihar al-Anwar. Jilid IV. Kitab as-Sama’ wa al-‘Alam.

[9] Abu Hanifah ad-Dainuri Ahmad ibn Daud. Meninggal tahun 282 H atau 290 H. Menurut mereka ia tsiqah dalam riwayatnya, terkenal dengan sifat “shidq”nya. Kata Ibn an-Nadim kebanyakan riwayatnya diambil dari Ya’qub ibn Ishaq al-Laits an-Nahwi, karena ketasyayyu’annya (adz-Dzariah ila Tashanif asy-Syi’ah. Aqabazrah ath-Thabrani. Jilid I. Hal 338. Teheran).

[10] Akhbar ath-Thiwal. Ahmad ibn Du’ad ad-Dainuri. Hal 125.

[11] Syarh Nahj al-Balaghah. Ibn Abi al-Hadid. Jilid IV. Hal 519.

[12] Ibid. jilid III. Hal 146; Al-Atsar. Hal 207; Sirah Umar. Ibn al-Jauzi. Hal 193. Cet Mesir.

[13] Asy-Syafi. ‘Alam al-Huda. Hal 171; Talkhis asy-Syafi. Ath-Thusi. Jilid II. Hal 428. Cet Teheran; Ma’ani al-Akhbar. Al-Qummi. Hal 117. Cet Iran.

[14] Pernikahan ini disebut oleh al-Kulaini  dalam Furu’ al-Kafi, kitab Nikah, bab Tazwij Ummu Kultsum. Jilid V. hal 346; Kitab Thalaq, bab al-Mutawaffa ‘anha Zawjuha. Jilid VI. Hal 115-116; Al-Isbtishar. Ath-Thusi. Abwab al-‘Iddah , bab al-Mutawaffa ‘anha Zawjuha. Jilid III. Hal 355; Tahzib al-Ahkam, bab ‘Iddah an-Nisa’. Jilid VIII. Hal 161, bab Mirats al-Gharqa wa al-Mahdum. Jilid IX. Hal 262; Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 149; Asy-Syafi. ‘Alam al-Huda. Hal 116; Tat-tarihi al-Anbiya’. Hal 141. Cet Iran; Manaqib Ali ibn Abi Thalib. Ibn Syahr Asyub. Jilid III. Hal 162. Cet India; Kasyf al-Ghummah. Al-Arbili. Hal 10. Cet Iran (lama); Syarh Nahj al-Balaghah. Ibn Abi al-Hadid. Jilid III. Hal 124; Hadiqah asy-Syi’ah. Asy-Syusytari. Dan masih banyak lagi dari sejarawan Syi’ah berikutnya. Jadi tidak ada alasan untuk mengingkari pernikahan ini atau menolak hubungan kekeluargaan yang kuat antara Ali dan Umar.

[15] Asy-Syafi. Jilid II. Hal 428.

[16] ‘Uyun Akhbar ar-Ridha. Ibn Babawaih al-Qummi. Jilid I. Hal 313; Ma’ani al-Akhbar. Al-Qummi. Hal 110; Tafsir al-Hasan al-‘Askari.

[17] Muhammad al-Hasan ath-Thusi (385-460 H), bergelar Syaikh Thaifah, pilar Syi’ah dan pembawa panji-panji syari’ah, pemimpin Syi’ah secara mutlak, kitab-kitabnya tersebar seantero jagad (al-Kuna. Jilid II. Hal 357).

[18] Abu Ja’far Muhammad ibn al-Hasan ibn Babawaih al-Qummi, bergelar “ash-Shaduq”. Lahir di awal abad 4 H dan meninggal 381 H. Tidak ada di Qumm orang yang menandinginya dalam hapalan dan ilmunya (A’yam asy-Syi’ah. Jilid I. Hal 102; Raudhat al-Jannat. Jilid VI. Hal 136).

[19] Al-Amali. Ath-Thusi. Jilid II. Hal 345. Cet Najef.

[20] Muruj adz-Dzahab. Al-Mas’udi. Jilid I. Hal 51; Nasikh at-Tawarikh. Jilid II. Hal 144. Cet Iran.

[21] Ar-Rawdhah min al-Kafi. Jilid VIII. Hal 101. Cet Iran.

[22] Tatimmah al-Muntaha. Al-Abbas al-Qummi. Hal 390. Cet Iran.

[23] Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 176.

[24] Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 213; Maqatil ath-Thalibin. Hal 84.

[25] Jala’ al-‘Uyun. Al-Majlisi.

[26] Al-Fushul al-Muhimmah. Hal 143; ‘Umdah ath-Thalib fi Ansab Ali Abi Thalib. Hal 361. Cet Najef; Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 575.

[27] Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 194; Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 228; ‘Umdah ath-Thalib. Hal 81; Muntaha al-Amal. Jilid I. Hal 240; Al-Fushul. Hal 166.

[28] Jala’ al-‘Uyun. Hal 582; Maqatil ath-Thalibin. Hal 119.

[29] Al-Irsyad. Hal 261; Kasyf al-Ghummah. Jilid II. Hal 105; ‘Umdah ath-Thalib. Hal 194; Muntaha al-Amal. Jilid II. Hal 43; Al-Fushul al-Muhimmah. Hal 209.

[30] Syarh Nahj al-Balaghah. Ibn Abi al-Hadid. Jilid IV. Hal 519.

[31] Al-Gharat. Jilid I. Hal 307.

3 Al-Amal. Ath-Thusi. Jilid II. Hal 121. Cet Najef.

4 Asy-Syafi. Jilid II. Hal 428.

5 Talkhis asy-Syafi. Ath-Thusi. Jilid II. Hal 428.