SIKAP AHLUL BAIT TERHADAP KHULAFA’ RASYIDUN

Sungguh telah bercampur menjadi satu rasa itsar (mengutamakan orang), muwasah (saling menyantuni), muanasah (saling menyayangi) antara ahlul bait dan Khulafa Rasyidin, dalam bentuk yang paling baik, setelah Islam mengikis habis ashabiyyah Jahiliyyah dari hati mereka, dan menggugurkan dari akal mereka pembela nasab, warna dan tanah air.

Sudah sangat wajar jika musuh Islam dari Syi’ah dan yang lainnya mereka tidak sengan dengan ukhuwah ini. Ada satu kaum yang tiang pancangnya adalah Ibn Saba’ yang Yahudi itu. Apakah yang ditunggu-tunggu dari mereka, selain tuduhan-tuduhan dan dakwaan palsu ?!

Sudah menjadi kewajiban bila kita memulai dengan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar rodiallohu ‘anhu dan hubungannya dengan ahlul bait.

ALI MEMBAI’AT ABU BAKAR

Ali rodiallohu ‘anhu menceritakan, bagaimana proses pembai’atannya kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu , “Maka saya ketika itu berjalan mendatangi Abu Bakar rodiallohu ‘anhu saya membai’atnya dan saya bangkit dalam peristiwa-peristiwa itu hingga kebatilan tersingkir dan lenyap serta “Kalimat Allah” menjadi yang tertinggi sekalipun orang-orang kafir tidak suka. Abu bakar rodiallohu ‘anhu memimpin dalam peristiwa-peristiwa tadi, dia memudahkan, meluruskan, mendekatkan dan tidak mengada-ada, maka saya menyertainya sebagai penasehat. Dan saya mentaatinya semaksimal mungkin dalam hal-hal yang dia mentaati Allah SWT”.[1]

Dalam suratnya yang dilayangkan kepada penduduk Mesir bersama petugasnya Qais ibn Sa’ad ibn Ubadah al-Anshari, Ali rodiallohu ‘anhu menulis:

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari hamba Allah Ali Amirul Mukminin. Kepada semua orang Muslim yang suratku ini sampai kepadanya.

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuhu.

Amma ba’du.

Sesungguhnya Allah SWT dengan kebaikan penciptaan-Nya, keputusan-Nya dan pengaturan-Nya telah memilih Islam sebagai agama-Nya, agama para malaikat-Nya dan para Rasul-Nya. Karenanya Dia mengutus para Rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan Dia telah mengkhususkan orang-orang yang Dia pilih dari makhluk-makhluk-Nya. Maka di antara kemuliaan Allah SWT dan keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat ini adalah diutusnya Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa salam kepada mereka. Lalu Muhammad Sholallohu ‘alaihi wa salam mengajari mereka al-Qur’an, al-Hikmah, as-Sunnah dan al-Faraidh. Dia telah mendidik mereka agar mendapat hidayah. Dia telah menyatukan mereka agar tidak berpecah belah. Dia telah menyucikan mereka agar menjadi bersih. Setelah tugas-tugas itu dia rampungkan Allah SWT mencabutnya (diangkat) ke sisi-Nya. Semoga shalawat, salam, rahmat dan ridha Allah senantiasa dicurahkan kepadanya. Sesungguhnya Dia Maha Terpuji dan Diagungkan.

Kemudian kaum Muslimin sesudahnya telah mengangkat dua khalifah dari diri mereka, dua orang yang shalih yang mengamalkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Keduanya telah berlaku baik dalam sejarah hidupnya, tidak melangkahi sunnah kemudian Allah SWT memenuhi (ajal) mereka. Semoga Allah merahmati mereka berdua”.[2]

Hal ini dipertegas lagi oleh penulis kitab al-Gharat, bahwa Ali rodiallohu ‘anhu menceritakan bai’atnya dengan menyatakan:

“Manusia telah berkumpul di sekitar Abu Bakar dan semua bergegas kepadanya, maka aku berjalan, ketika itu, menuju Abu Bakar, aku membai’atnya dan aku bangkit dalam peristiwa-peristiwa itu sampai kebatilan tersingkir dan lenyap dan kalimat Allah “menjadi yang tertinggi” sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai. Jadi Abu Bakar telah memimpin semua itu, dia meluruskan, memudahkan, mendekatkan dan tidak mengada-ada, maka aku mendampinginya sebagai penasehat dan aku mentaatinya dalam hal yang dia taat kepada Allah SWT, secara bersungguh-sungguh”.[3]

Begitulah Ali rodiallohu ‘anhu mengisahkan bai’atnya kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu kita bersyukur karena semua ini berasal dari kitab mereka sendiri. Tentu ini adalah setetes dari samudra, jika tidak tentu buktinya lebih banyak lagi!

Maka bilamanakah setan mereka menutup mulut dan iblis mereka membisu?!

Sebagaimana Ali rodiallohu ‘anhu juga telah memuji sejarah hidup Abu Bakar rodiallohu ‘anhu dengan mengatakan: “Maka umat Islam memilih -setelah Nabinya- seorang laki-laki dari mereka. Dia mendekatkan dan meluruskan berdasarkan kemampuannya yang didasarkan kepada rasa takut dan khusyu’ (kepada Allah SWT)”.[4]

Ketika Abu Sufyan mnedatangi Ali rodiallohu ‘anhu , mendorongnya untuk mendapatkan khilafah, seperti yang diceritakan oleh Ibn Abi al-Hadid asy-Syi’i, yang mana Abu Sufyan berkata:

“Hendaklah perkara (khilafah) ini tetap dipegang oleh keluarga terendah dalam suku Quraisy. Tetapi demi Allah, jika engkau mau maka saya akan mengerahkan pasukan berkuda dan pejalan kaki untuk menyerang Abu Fushail (Abu Bakar)”.

Maka Ali rodiallohu ‘anhu berkata: “Aku telah lama bersahabat dengan Islam dan orang-orangnya dan kalian tidak bisa merusak sedikitpun aku tidak membutuhkan pasukanmu. Seandainya kami melihat bahawa Abu Bakar tidak berhak tentu kami tidak akan membiarkannya”.[5]

Dengan ucapan ini Ali rodiallohu ‘anhu mengukuhkan ke-berhak-an Abu Bakar terhadap khilafah.

Begitu pula al-Murtadha dan putra bibi Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam az-Zubair ibn al-Awam rodiallohu ‘anhu telah berkata: “Kami memandang bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berhak terhadap khilafah, karena dia adalah teman dalam gua dan satu dari dua orang di dalamnya, kamipun mengetahui usianya dan sungguh Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam telah memerintahkannya untuk memimpin shalat ketika beliau masih hidup”.[6]

Ali rodiallohu ‘anhu telah menulis surat kepada Mu’awiyah rodiallohu ‘anhu , isinya:

“Sesungguhnya Allah SWT telah memilih untuknya Sholallohu ‘alaihi wa salam dari kaum-kaum Muslimin orang-orang yang Allah menguatkan mereka dengannya. Maka kedudukan mereka di sisi-Nya sebanding dengan jasa-jasa mereka terhadap Islam. Dan mereka yang paling tulus sikapnya terhadap Allah dan Rasul-Nya adalah khalifah Abu Bakar dan “Khalifah al-Khalifah” (penggantinya khalifah Rasul) al-Faruq. Aku bersumpah, sesungguhnya kedudukan keduanya di dalam Islam sungguh agung dan musubih terhadap keduanya adalah luka yang sangat dalam, dalam Islam. Semoga Allah merahmati keduanya dan membalas keduanya atas apa yang telah mereka amalkan”.[7]

Kita tidak habis pikir, apa yang diinginkan oleh orang yang sesat jalan setelah ini!

Telah berkata “”Alam al-Huda[8]” dalam kitabnya “asy-Syafi” dari Amirul Mukminin as, tatkala dikatakan kepadanya: “Apakah anda tidak berwasiat?”

Maka dia berkata: “Apa yang telah diwasiatkan oleh Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam aku wasiatkan, akan tetapi jika Allah menginginkan kebaikan bagi manusia Dia akan mengumpulkan mereka di bawah pimpinan orang terbaik mereka. Sebagaimana Allah telah mengumpulkan mereka setelah Nabi-Nya di bawah orang terbaik mereka”.[9]

Ja’far ibn Muhammad meriwayatkan dari bapaknya bahwa ada seorang laki-laki Quraisy datang kepada Amirul Mukminin rodiallohu ‘anhu .

Dia mengatakan: “Saya mendengar engkau berkata dalam khutbah tadi: “Ya Allah perbaiki kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki al-Khulafa’ ar-Rasyidin,” lalu siapa keduanya itu?”

Dia menjawab: “Keduanya adalah kekasihku, kedua pamanmu, Abu Bakar dan Umar, dua imam huda, dua Syaikh Islam, dua orang Quraisy, dua teladan setelah Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam. Barang siapa berteladan dengan keduanya maka ia akan terlindung dan siapa yang mengikuti jejak langkah keduanya ditunjuki kepada jalan yang lurus”.[10]

Demikianlah pandangan Ali rodiallohu ‘anhu terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq rodiallohu ‘anhu ……..Lalu apakah yang akan diucapkan oleh mereka setelah ini! Sungguh manhaj ahlul bait adalah mencintai Abu Bakar dan para sahabat lainnya rodiallohu ‘anhum.

Ibnu Abbas rodiallohu ‘anhu dalam memuji Abu Bakar rodiallohu ‘anhu mengatakan: “Allah merahmati Abu Bakar. Dia -Demi Allah- terhadap orang fakir penyantun, terhadap al-Qur’an ahli membaca, dari yang mungkar sangat menghindari, terhadap agamanya sangat memahami, dari Allah sangat takut, dari yang dilarang sangat menjauhi, kepada yang ma’ruf selalu memerintah, di malam hari dia berdiri, di siang hari dia berpuasa. Dia mengungguli semua sahabatnya dalam ke-wira’i-an dan kecukupan dan dia memimpin mereka dalam kezuhudan dan kesucian diri”.[11]

Hasan ibn Ali rodiallohu ‘anhu menyatakan, Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya kedudukan Abu Bakar dariku ibarat telinga”.[12]

Bahkan karena cintanya kepada Abu Bakar, Hasan mensyaratkan kepada Mu’awiyah agar menghukumi dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya serta dengan sirah Khulafa’ Rasyidin. Dalam riwayat lain “Khulafa’ Shalihin”.[13]

Dari Abu Abdillah al-Ju’fi dari ‘Urwah ibn Abdillah, ia berkata: “Saya berkata kepada Abu Ja’far Muhammad ibn Ali as tentang hiasan pedang.”

Maka dia menjawab: “Tidak apa-apa karena Abu Bakar rodiallohu ‘anhu telah menghiasi pedangnya.”

Dia berkata: “Saya katakan: “Dan engkau mengatakan “ash-Shiddiq”?”

Maka dia melompat dengan satu lompatan dan menghadap kiblat, kemudian berkata: “Ya, dia adalah ash-Shiddiq. Barang siapa tidak mengatakan untuknya “ash-Shiddiq” maka Allah tidak akan mempercayainya di dunia dan juga tidak di akhirat”.[14]

Mereka juga mengaku bahwa Abu Abdillah Ja’far, imam ma’shum yang keenam -menurut mereka- telah ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Kadi Nur Allah seorang Syi’i ekstrim yang dibunuh pada tahun 1019 H, bahwa sesorang bertanya kepada imam ash-Shadiq as:

“Wahai putra Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam! Apa yang anda ucapkan berkenaan dengan Abu Bakar dan Umar?”

Imam as menjawab: “Dua imam yang adil dan sangat adil, mereka berdua berada di atas yang “haqq” dan mati di atas “al-Haqq”.

Semoga rahmat Allah atas keduanya hingga hari kiamat”.[15]

Al-Murtadha meriwayatkan dari Ja’far ibn Muhammad bahwa dia sangat loyal kepada keduanya (Abu Bakar, Umar). Dia mendatangi kubur keduanya untuk mengucapkan salam atas mereka bersama dengan salamnya atas Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam.[16]

Zaid ibn Imam Zainal Abidin ditanya tentang Abu Bakar dan Umar, sebagaimana yang disebut oleh penulis “at-Tawarikh”, bahwa ada beberapa orang dari pemuka Kufah dan pembesarnya yang membai’at imam Zaid, hadir di sisinya pada suatu hari.

Mereka berkata: “Semoga Allah merahmati anda. Apa yang anda ucapkan tentang Abu Bakar dan Umar?”

Dia menjawab: “Saya tidak mengatakan tentang keduanya melainkan kebaikan, sebagaimana saya tidak pernah mendengar tentang mereka dari ahlu bait (keluarga Nabi) melainkan kebaikan, keduanya tidak pernah menzhalimi kami juga tidak seorangpun dari selain kami. Keduanya telah mengamalkan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya”.[17]

Dan tatkala orang-orang Kufah itu mendengar ucapan ini dari Zaid, mereka menolaknya dan beralih cenderung ke al-Baqir.

Maka Zaid berkata: “Rafadhuna al-Yaum” mereka menolak kami sekarang”.

Karena itu kelompok ini disebut dengan “Rafidhah” (kelompok yang menolak).[18]

Sementara ath-Thabarsi[19] meriwayatkan dari al-Baqir, yang mereka beralih berpihak kepadanya, bahwa dia berkata: “Saya tidak memungkiri keutamaan Abu Bakar, juga tidak mengingkari keutamaan Umar. Akan tetapi Abu Bakar lebih utama dari Umar”.[20]

Imam kesebelas yang ma’shum -menurut keyakinan mereka- berkata ketika menceritakan peristiwa hijrah bahwa Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam setelah bertanya kepada Ali rodiallohu ‘anhu tentang menginapnya Ali rodiallohu ‘anhu di tikar Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam, berkata kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu :

“Wahai Abu Bakar apakah kamu rela bersamaku, engkau mencari apa yang aku cari dan engkau mengetahui bahwa engkaulah yang memikul apa yang aku dakwahkan, engkau menanggung berbagai macam siksa sebagai ganti (wakil) dariku?”

Abu Bakar menjawab: “Ya Rasulullah! Seandainya saya hidup sepanjang umur dunia dan selama itu aku disiksa dengan siksaan yang teramat pedih, tidak ada kematian yang nyata dan tidak kesenangan yang datang, yang kesemuanya itu karena mencintaimu tentu hal itu lebih aku cintai dari pada saya hidup dalam kenikmatan dan menjadi penguasa bagi semua kerajaan yang para rajanya menyalahimu. Aku, hartaku dan anak-anakku adalah tebusan bagimu”.

Maka Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam bersabda: “Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui hatimu dan Dia mendapatkannya berkesesuaian dengan apa yang mengalir dari lisanmu. Allah menjadikan kamu dari diriku bagaikan telinga dan penglihatan, dan bagaikan kepala dari jasad serta ruh dari badan”.[21]

Sebagaimana kitab-kitab Syi’ah telah mengakui bahwa Abu Bakar telah memerintahkan kepada istrinya asma’ bint ‘Umais untuk merawat Sayyidah Fatimah rodiallohu ‘anha . Kitab-kitab dan sumber ajaran mereka yang disucikan itu telah menguatkan bahwa Asma’ yang menangani perawatan Sayyidah Fatimah rodiallohu ‘anhu diwaktu sakitnya, dia dengan setia mendampinginya hingga wafatnya. Ath-Thusi didalam kitabnya menyebutkan:

“Sesungguhnya istri Abu Bakarlah yang merawat Fathimah binti Nabi Sholallohu ‘alaihi wa salam di waktu sakitnya. Dia selalu menemaninya hingga nafasnya yang terakhir”.[22]

Al-Arbili menegaskan bahwa istri Abu Bakar adalah orang yang ikut serta memandikannya.[23]

Al-Majlisi juga menguatkan bahwa Fathimah telah berwasiat kepada istri Abu Bakar dengan beberapa wasiat untuk mengafaninya, menguburnya dan mengiringkan jenazahnya dan Asma’ telah melaksanakannya.[24]

Hubungan Semenda antara Ahlul Bait dan Abu Bakar

Kecintaan ahlul bait kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu bukan sekedar buah bibir dan manisnya ungkapan, yang bisa dijadikan oleh orang-orang rendahan dan orang-orang yang asal bunyi sebagai sikap “taqiyyah” (pura-pura) melainkan kecintaan yang telah terikat hubungan yang paling kuat yaitu hubungan kekerabatan dan kerahiman (kekeluargaan).

Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wa salam telah memperistri Aisyah putri Abu Bakar rodiallohu ‘anhu padahal dia adalah orang yang tidak berucap melainkan wahyu yang di wahyukan kepadanya , dia tidak menetapkan hal seperti ini melainkan perintahnya berasal dari sisi Allah SWT. Wa al-‘Iyadzu billah!

Apalagi Aisyah rodiallohu ‘anhu adalah satu-satunya gadis yang di peristri oleh Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam! Karena itu, ketika Allah SWT menginginkan seorang gadis untuk Rasul-Nya Sholallohu ‘alaihi wa salam dipilihkanlah putri dari seorang sahabatnya yang termulia, paling utama, paling taqwa dan paling alim……..Siapakah selain Abu Bakar yang menyandang sifat ini?! Sungguh celaka bagi setiap pendusta yang sombong dan keras kepala.

Asy-Syusytari[25] menyebutkan bahwa : Ja’far ibn Abi Thalib saudara kandung Ali rodiallohu ‘anhu menikah dengan Asma’ binti Umais. Tatkala Ja’far meninggal Abu Bakar menikahinya lalu memiliki satu putra yang bernama Muhammad (ini bukti kecintaannya kepada Rasul Sholallohu ‘alaihi wa salam) dan ketika Abu Bakar meninggal Ali rodiallohu ‘anhu menikahinya lalu memiliki putra yang bernama Yahya.[26]

Apakah taqiyyah telah sampai begitu rupa sehingga Alipun menikahi janda Abu Bakar?!

Ataukah karena benci Abu Bakar sehingga memperistri jandanya!

Justru sebaliknya! Ali rodiallohu ‘anhu berkata tentang Muhammad ibn Abu Bakar: “Muhammad adalah putraku dari tulang rusuk Abu Bakar”.[27] Dan Ali telah mengangkat Muhammad ibn Abu Bakar menjadi Gubernur Mesir sewaktu kekhilafahannya.

Begitu pula imam kelima -bagi mereka- Muhammad al-Baqir, dia menikahi cucu Abu Bakar rodiallohu ‘anhu Ummu Farwah binti al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. Sebagaimana yang disebut oleh al-Kulaini di dalam “Ushul”-nya:

“Abu Abdillah dilahirkan pada tahun 83 dan meninggal pada 148 ketika berusia 65 tahun. Dikuburkan di Baqi’ di tempat pemakaman bapak, kakeknya dan Hasan ibn Ali as dan ibunya adalah Ummu Farah bint al-Qasim ibn Muhammad ibn Abi Bakar. Dan ibu Ummu Farah adalah Asma’ bint Abdur-Rahman ibn Abu Bakar.”[28]

Ibn ‘Inabah[29] berkata: “Ibunya (Ja’far) adalah Ummu Farwah bint al-Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar dan ibunya Asma’ bint Abdur-Rahman ibn Abu Bakar.”

Karena itu ash-Shadiq as berkata: “Saya dilahirkan oleh Abu Bakar dua kali”.[30]

Sebagaiman Qasim ibn Muhammad ibn Abu Bakar adalah cucu Abu Bakar dan Ali ibn Husain ibn Ali adalah cucu Ali rodiallohu ‘anhu maka kedunya adalah putra pamannya dari ibunya (khal) sebagaimana disebut oleh al-Mufid.[31]

Hal ini telah diakui oleh al-Majlisi dan ar-Rawandi.[32]

Sungguh kecintaan ahlul bait terhadap Abu Bakar telah mencapai seluruh jagat ketika mereka memberi nama putra-putra mereka dengan namanya. Orang pertama yang menamai anak dengan Abu Bakar adalah Ali rodiallohu ‘anhu . Hal ini dikukuhkan oleh al-Ashfahani[33] dan al-Ya’qubi.[34]

Ali rodiallohu ‘anhu memberikan nama Abu Bakar untuk anaknya setelah wafatnya Abu Bakar. Hal ini disebut supaya tidak ada orang yang menafsirinya sebagai taqiyyah!

Begitulah kecintaan ahlul bait kepada Abu Bakar bersifat terus menerus saling waris mewarisi. Inilah Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib telah menamai anaknya juga dengan nama “Abu Bakar”. Hal ini juga disebut oleh al-Ya’qubi.[35]

Al-Ashfahani menegaskan: “Sesungguhnya Abu Bakar ibn al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib juga termasuk orang yang terbunuh dalam tragedi Karbala bersama al-Husain rodiallohu ‘anhu . Ia dibunuh oleh ‘Uqbah al-Ghanawi”.[36]

Begitu pula al-Husain mewarisi cinta kepada Abu Bakar ini, dia menamai anaknya dengan nama Abu Bakar. Hal ini disebutkan oleh sejarawan Syi’ah yang terkenal dengan nama al-Mas’udi di dalam kitab “at-Tanbih wa al-Isyraf”.

Dia menulis: “Di antara orang-orang yang terbunuh di Karbala dari putra al-Husain adalah tiga orang; Ali al-Akbar, Abdullah ash-Shabig dan Abu Bakar semua adalah putra al-Husain ibn Ali”.[37]

Dan begitu pula cucu Ali rodiallohu ‘anhu Hasan ibn al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib memberi nama salah satu putranya dengan nama Abu Bakar, seperti yang diriwayatkan oleh al-Ashfahani dari Hamzah al-‘Alawi bahwa yang termasuk orang yang terbunuh bersama Ibrahim ibn al-Hasan ibn al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib adalah Abu Bakar ibn al-Hasan ibn al-Hasan.[38]

Sampai imam ketujuh yang ma’shum bagi Syi’ah Musa ibn Ja’far menamai salah satu putranya dengan Abu Bakar.[39]

Adapan imam kedelapan yang ma’shum -bagi Syi’ah- maka al-Mufid[40] menyebutkan bahwa iapun menamai salah satu putrinya dengan nama putri Abu Bakar yaitu “Aisyah”.[41]

Tidak ketinggalan imam kesepuluh yang ma’shum bagi Syi’ah yang sesat telah menamai putrinya dengan nama “Aisyah”. Al-Mufid menyebutkan: “Abu al-Hasan as meninggal pada Rajab 254 H, dikebumikan di rumahnya yang ada di “surra man ra’a”, ia meninggalkan Abu Muhammad al-Hasan putranya dan putrinya, Aisyah”.[42]

Al-Ashfahani[43] menyebutkan bahwa Abdullah ath-Thayyar yaitu putra dari saudara laki-laki Ali rodiallohu ‘anhu , telah menamai salah satu putranya dengan nama Abu Bakar.[44]

Kita telah memaparkan contoh-contoh tentang kecintaan ahlul bait kepada ash-Shiddiq dan putrinya dari kitab-kitab Syi’ah. Harapan kita dari pembaca yang mulia adalah merenungkan loyalitas ahlul bait ini, cinta yang tertancap dalam di relung hati ahlul bait kepada Abu Bakar rodiallohu ‘anhu , cinta yang tidak asing bagi mereka. Tidak aneh karena mereka adalah orang-orang yang baik. Akan tetapi, apa lagi yang harus kita katakan tentang orang-orang yang telah buta mata dan buta akal setelah mereka buta hati!!


[1] Manar al-Huda. Ali al-Bahrani asy-Syi’i. Hal 373; Nasikh at-Tawarikh. Jilid III. Hal 532.

[2] Al-Gharat. Jilid I. Hal 210; Nasikh at-Tawarikh. Jilid III. Hal 241. Cet Iran; Majma’ al-Bihar. Al-Majlisi.

[3] Al-Gharat. Jilid I. Hal 307.

[4] Syarah Nahj al-Balaghah. Al-Muyats-tsam al-Bahrani. Hal 400.

[5] Syarah Ibn Abi al-Hadid. Jilid I. Hal 130.

[6] Syarah Nahj al-Balaghah. Ibn Abi al-Hadid. Jilid I. Hal 332.

[7] Syarah Nahj al-Balaghah. Ibn Muyats-tsam. Hal 448.

[8] Ali ibn al-Husain ibn Musa yang dikenal dengan “as-Sayyid al-Murtadha”, yang bergelar “’Alam al-Huda” (panji/menara hidayah) (355-436 H). Di mata mereka dia adalah salah satu pendekar mazhab Syi’i dan pendirinya. Di jamannya tidak ada bandingannya dalam ilmunya, pemahaman, sya’ir, kedudukan, kemuliaan dan ucapannya. Semua karyanya adalah ushul dan inovasi yang benar-benar baru. Syi’ah berlebihan dalam memujinya dan memuji saudaranya, “asy-Syarif” pengarang “Nahj al-Balaghah” dengan pujian yang tak ada batasnya (Raudhat al-Jannat. Jilid IV. Hal 295).

[9] Asy-Syafi. Hal 171. Cet Najef.

[10] Talkhis asy-Syafi. Jilid II. Hal 428.

[11] Nasikh at-Tawarikh. Jilid V. Kitab II. Hal 143-144. Cet Teheran.

[12] ‘Uyun al-Akhbar. Jilid I. Hal 313; Ma’ani al-Akhbar. Hal 110. Cet Teheran.

[13] Muntaha al-Amal. Hal 212. Cet Teheran. Perhatikanlah ucapan Hasan ketika berkata “sirah Khulafa’ Rasyidin”.

[14] Kasyf al-Ghummah. Jilid II. Hal 147.

[15] Ihqaq al-Haqq. Asy-Syusytari. Jilid I. Hal 16. Cet Mesir.

[16] Asy-Syafi. Hal 238; Syarh Nahj al-Balaghah. Hal 140. Cet Beirut.

[17] Nasikh at-Tawarikh. Jilid II. Hal 590.

[18] Ibid.

[19] Abu al-Manshur Ahmad ibn Ali Abi Thalib, dari Thubrustan. Menurut mereka ia adalah ulama besar dari generasi terdahulu, ahli hadits yang tsiqah, kitabnya “al-Ihtijaj” adalah kitab standart bagi mereka (Raudhat al-Jannat. Jilid I. Hal 65).

[20] Al-Ihtijaj. Ath-Thabarsi. Hal 320.

[21] Tafsir al-Hasan al-‘Askari. Hal 164-165. Cet Iran.

[22] Al-Amali. Jilid I. Hal 107.

[23] Kasyf al-Ghummah. Jilid I. Hal 237.

[24] Jala’ al-‘Uyun. Hal 235-242.

[25] Nur ad-Din ibn Syaraf ad-Din asy-Syusytari, salah seorang ulama Syi’ah yang terkemuka dari India, seorang Qadhi (hakim) di lahore pada masa Jehangir (1605-1628 M) salah satu raja dinasti Muqhal. Dia menulis banyak buku diantaranya Majelis Mukminin, Ihqaq al-Haqq, Mashrib an-Nawashib.

[26] Majalis al-Mukminin. Asy-Syusytari; Haqq al-Yaqin dan Jala’ al-‘Uyun. Al- Majlisi; Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 186.

[27] Ad-Dur an-Najfiyyah. Ad-Danbali; Nahj al-Balaghah. Hal 113. Teheran.

[28] Al-Hujjah min al-‘Ushul. Al-Kafi. Jilid I. Hal 472; Al-Firaq. An-Nubakhti.

[29] Jamaluddin Ahmad ibn Ali ibn Husain al-Hasani, pengarang kitab ‘Umdah ath-Thalib. Al-Qummi mengatakan: “Ia adalah sayyid yang agung, ahli ilmu dan nasab, salah satu ulama imamiyah wafat 828 H. (Al-Kuna wa al-Alqab. Jilid I. Hal 58).

[30] Umdah ath-Thalib. Hal 195. Cet Teheran.

[31] Al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 235; Kasyf al-Ghummah; Muntaha al-Amal. Abbas al-Qummi. Jilid II. Hal 3.

[32] Sa’id ibn Hibatullah ibn al-Hasan, kelahiran abad ke 6 H. Wafat di Qumm 573 H. Mereka menilainya sebagai alim yang dalam dan luas keilmuannya, faqih, muhaddits, mufassir, muhaqqiq (peneliti), tsiqah jalil, pengarang kitab al-Kharaij wa al-Jaraih, Qashash al-Anbiya’ dan Syarh an-Nahj (Al-Kuna wa al-Alqab. Jilid III. Hal 58).

[33] Maqatil ath-Thalibin. Hal 87.

[34] Tarikh al-Ya’qubi. Jilid II. Hal 213.

[35] Ibid. hal 228. Muntaha al-Amal. Hal 240.

[36] Maqatil ath-Thalibin. Abu Faraj al-Ashfahani. Dar al-Ma’rifah. Beirut. Hal 142; Kasyf al-Ghummah. Jilid II. Hal 64; Jala’ al-‘Uyun. Hal 582.

[37] At-Tanbih wa al-Isyraf. Hal 263.

[38] Maqatil ath-Thalibin. Hal 188.

[39] Kasyf al-Ghummah. Jilid II. Hal 217.

[40] Muhammad ibn Muhammad ibn an-Nu’man al-‘Ukbari al-Baghdadi (388-413 H). mereka mengaku secara dusta bahwa imam yang ghaib adalah orang yang digelari “al-Mufid” (Ma’alim al-Ulama. Hal 101). Mereka berkata: “Ia adalah pemimpin, ustadz dan Syaikh Syi’ah. Semua yang datang setelahnya pasti mengambil dari padanya. kEutamaannya lebih terkenal dari pada disebut, orang yang paling alim dan terpercaya pada jamannya. Imam Syi’ah tertinggi pada masanya. Karyanya sekitar 200 kitab (Raudhat al-Jannat. Jilid VI. Hal 153).

[41] Al-Irsyad. Hal 302, 303; Al-Fushul al-Muhimmah. Hal 242; Kasyf al-Ghummah. Jilid II. Hal 237.

[42] Kasyf al-Ghummah. Hal 334; Al-Fushul al-Muhimmah. Hal 238.

[43] Abu al-Faraj ibn al-Husain ibn Muhammad asy-Syi’I, lahir di Ashfahan 284 H. pindah ke Baghdad dan tumbuh besar di sana. Dia telah memangku berbagai jabatan, meninggal pada tahun 356 H. Meninggalkan berbagai karya tulisnya dalam bidang sastra dan syair, yang paling terkenal adalah “al-Aghani” dan “Maqatil ath-Thalibin”.

[44] Maqatil ath-Thalibin. Hal 123.