Allah SWT benar-benar telah memuliakan ahlul bait dan menjauhkan dari semua yang disebut di atas, sebagaimana bukanlah sifat orang-orang yang bertakwa itu harus tidak ada dosa dan maksiat sama sekali. Firman Allah SWT telah menunjukkan bahwa barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa’: 31).

Sebagaimana yang kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa “tasyayyu’” bermula didorong oleh tujuan politik, akan tetapi karena banyak sebab -dan sudah kami sebutkan yang paling penting- maka berubahlah Ibn Saba’ dan jama’ahnya menjadi kelompok agama yang sesat dan menyesatkan.

Syi’i kenamaan Muhammad Amin dalam kitabnya, menukil dari al-Azhari memperkenalkan bahwa Syi’ah itu adalah kaum yang menginginkan apa yang diinginkan oleh keturunan Nabi Saw dan menolong mereka.[1]

Tajuddin al-Husaini pemuka Aleppo mengatakan: “Syi’ah seseorang adalah para pengikut dan penolongnya, dikatakan “والاه من الولي أي شايع .” artinya “Ia loyal kepadanya maksudnya mendukung dan menolongnya”.[2]

Sebagaimana Maghniyah mengatakan: “Barang siapa mencintai Ali dan mengikutinya atau barang siapa yang mencintai dan menolongnya”.[3]

Sekarang mari kita perhatikan Syi’ah yang mengaku sebagai pengikut ahlul bait, mencintai dan menolong mereka. Bagaimana sikap mereka terhadap para sahabat ra. Kemudian kita komparasikan dengan sikap ahlul bait sendiri terhadap para sahabat Nabi Saw. Agar menjadi jelas siapakah gerangan yang benar-benar cinta ahlul bait. Kita tidak akan menulis melainkan dari kitab-kitab dan sumber-sumber mereka dari orang-orang yang menganggap dirinya adalah Imam ahlul bait padahal tidak ada hubungan sama sekali.

Sesungguhnya mencaci sahabat Rasul Saw. adalah suatu hal prinsip dari pokok-pokok ajaran mazhab yang rusak ini, karena sahabat ra. melalui kepemimpinan Umar telah berhasil menumbangkan kerajaan mereka dan memadamkan pamor mereka, menghancurkan berhala-berhala mereka, menghinakan Majusiyah mereka, memadamkan “api suci” yang mereka sembah dan memerangi dengan cahaya kebenaran setelah merontokkan benteng-benteng mereka secara paksa dan menjadikan mereka takluk secara hina maka berkibarlah panji-panji Islam di atas puing-puing reruntuhan kerajaan mereka oleh tangan-tangan para sahabat yang mulia.

Maka sebagian orang Persia menampakkan keislaman dan menyembunyikan ke-majusian. Dan tatkala kerinduan mereka kepada akidah lama kian memuncak maka mereka bersama sahabat-sahabat mereka dari orang-orang Yahudi menetapkan bahwa cara yang ampuh membasmi Islam adalah dengan memperburuk citranya dan merusak akidah pemeluknya dan mereka memandang bahwa cara tercepat adalah mengangkat syi’ar “cinta ahlul bait”. Di satu sisi dan di sisi lain syi’ar “sahabat telah merampas hak ahlul bait”.

Semenjak itulah Yahudi -laknat Allah atas mereka- dan cucu Majusi penyembah api bersatu padu. Pena dan lisan digunakan untuk menebar issu, fitnah, adu domba, desas-desus dan racun dalam agama Tauhid ini. Dan fitnah pertama adalah tentang para sahabat Nabi Saw.

Tatkala Yahudi dan Majusi bersatu, bukan karena sama-sama mencintai Zaid melainkan karena sama-sama membenci ‘Amr, maka mulailah konspirasi digelar dan tuduhan-tuduhan diobral, di arahkan kepada para sahabat ra. Ibn Abi al-Hadid asy-Syi’i menegaskan hal ini dengan mengatakan: “Sesungguhnya pangkal segala dusta dalam hadits-hadits fadhilah adalah berasal dari Syi’ah, mereka pada awalnya mengarang hadits-hadits palsu tentang keutamaan para imam mereka, pemalsuan ini disebabkan karena kebencian mereka kepada lawan-lawannya”.[4]

Al-Kulaini di dalam “Furu’ al-Kafi” menyebutkan dari Abu Ja’far as : “Adalah manusia-manusia menjadi murtad sepeninggal Rasulullah Saw kecuali tiga orang.” Saya (rawi) bertanya: “Siapakah tiga orang itu?” Beliau menjawab : “al-Miqdad ibn al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari dan Salman al-Farisi”[5].

Sedangkan Salim ibn Qais al-‘Amiri menyebutkan bahwa semua orang murtad -setelah Rasulullah Saw- kecuali 4 orang.[6]

Muhammad al-Baqir al-Majlisi[7] menjelaskan dalam bahasa Persi[8] yang terjemahannya: ”Abu Hamzah at-Tamali menceritakan bahwa dia bertanya kepada Imam Zainul Abidin tentang Abu Bakar dan Umar.” Maka Imam berkata: “Keduanya adalah kafir dan orang-orang yang loyal kepada keduanya juga kafir”.

Al-Majlisi juga meriwayatkan dengan bahasa Persi[9] yang artinya: ”Mufadh-dhal bertanya kepadanya tentang Fir’aun dan gen2Haman yang ada di dalam ayat al-Qur’an, maka dia menjawab bahwa yang dimaksud dengan keduanya adalah Abu Bakar dan Umar”.

Al-Majlisi menambahkan bahwa Salman berkata: ”Manusia semuanya telah murtad setelah Rasulullah Saw kecuali 4 orang, maka manusia sepeninggal Rasul Saw persis seperti Harun dan para pengikutnya, persis seperti patung sapi dan penyembahnya, maka Ali persis seperti Harun, Abu Bakar anak sapinya dan Umar adalah Samiri”.


[1]A’yan asy-Syi’ah. Jilid I. Hal 11, pembahasan pertama. Cet Beirut.

[2] Ibid. hal 13, 14, dinukil dari kitab Ghayat al-Ikhtishar fi Akhbar al-Buyutat al-‘Ilmiyah al-Mahfuzhah min al-Ghubar.

[3] Asy-Syi’ah fi al-Mizan. Hal 17-19.

[4] Syarh Nahj al-Balaghah. Jilid I. Hal 783. Cet Beirut.

[5] Furu’ al-Kafi. Al-Kulaini. Kitab ar-Rawdhah. Hal 115.

[6] Kita sebutkan lagi riwayat yang mengukuhkan murtadnya para sahabat setelah Rasulullah Saw kecuali 3 atau 4 orang dari mereka. Hakham Muhammad al-Husain Ali Kasyif al-Ghitha’ dan rekan-rekannya, Muhsin al-Amin dan Muhammad az-Zen telah menghitung sejumlah besar nama-nama sahabat yang diklaim sebagai syi’ah Ali ra. Setelah Ali Kasyif al-Ghitha’ menyebut nama-nama mereka (para sahabat itu), berkata: “Seandainya saya mau, saya akan menunjukkan kepadamu bahwa Syi’ah adalah dari sahabat ra, untuk membuktikan tasyayyu’ mereka (para sahabat)…..saya perlu mengarang kitab tersendiri yang sangat besar.” (‘Ashl asy-Syi’ah wa Ushuluha. Hal 86-87). Ini dia tulis dalam rangka membantah penulis kitab “Fajr al-Islam”, Ustadz Ahmad Amin. Dan bantahannya hanyalah dusta semata dan pengecohan nyata. Dari mana dia akan mendatangkan jumlah yang besar sehingga membutuhkan kitab besar? Al-Kulaini adalah pemilik kitab yang paling suci dan kunci bagi Syi’ah, dia menyebut dan meriwayatkan murtadnya semua sahabat ra kecuali 3, Salman, Abu Dzar dan al-Miqdad! Lalu manakah yang kamu sebut dari mereka? Sungguh telah terbiasa pena-penamu berbicara pada orang-orang lugu di sekitarmu. Namun jika kamu tidak malu berbuatlah sesukamu!

[7] Al-Mulla Muhammad al-Baqir ibn Muhammad Taqiyy al-Majlisi (1037-1110 H). bisa dibilang musuh bebuyutan terhadap sunnah, tidak ada tandingan dalam Syi’ah muta-akhkhirin, tAjam lidahnya, tidak berbicara melainkan kotor dan keji, spesial dalam hal mencaci (hija’). Mereka menyebutnya “penutup para mujtahid” dan “imamnya para imam” pada periode belakangan ini. Al-Qummi mengatakan: “Jika disebut secara mutlak nama al-Majlisi, maka maksudnya adalah Syaikh al-Islam wa al-Muslimin, taman mazhab dan agama, imam yang agung, peneliti ahli. Tidak ada seorangpun dalam Islam ini yang diberi taufiq sepertinya. Amir yang agung menjulang dalam menebar mazhab, meninggikan kalimat yang haq, mematahkan serangan ahli bid’ah, menumbangkan hiasan ahli ilhad (inkar), menancapkan pasak sunan yang nyata dan dalam memasarkan atsar para imam kaum Muslimin” (al-Kuna dan al-Alqab. Jilid III. Hal 121).

[8] Haq al-Yaqin. Hal 533.

[9] Ibid. hal 393.