gen2Orang-Orang Syi’ah memiliki sebuah do’a yang mereka namai “do’a dua berhala Quraisy” maksudnya Abu Bakar dan Umar, yaitu do’a yang mereka idolakan sebagai wasilah taqarrub kepada Allah SWT -menurut dugaan mereka yang sesat itu-, mereka sangat memeperhatikannya dalam shalat-shalat mereka.

Do’a itu berbunyi: “Ya Allah laknatilah kedua berhala Quraisy, kedua patung Quraisy, kedua thaghut Quraisy, kedua pendusta Quraisy dan kedua putrinya. Keduanya telah menyalahi perintah-Mu, menolak wahyu-Mu, mengingkari nikmat-Mu, mendurhakai Rasul-Mu, membalik agama-Mu, merubah kitab-Mu, mencintai musuh-musuh-Mu, melupakan semua karunia-Mu, menelantarkan hukum-hukum-Mu dan mengingkari bukti-bukti kebenaran (dari)-Mu…..Ya Allah laknatilah keduanya dalam relung rahasia-Mu dan dalam alam nyata-Mu, laknat yang banyak, terus-menerus, abadi, selama-lamanya, tidak pernah henti dan tidak pernah putus, tidak pernah habis dan tidak pernah pupus, menerjang awalnya dan tidak kembali akhirnya, untuk mereka, pembantu mereka, penolong mereka, pecinta mereka, para mawali mereka, yang pasrah kepada mereke, yang cenderung kepada mereka, yang meninggikan mereka, yang meneladani ucapan mereka dan yang membenarkan hukum mereka. Ya Allah siksalah mereka dengan siksa yang penduduk nerakapun berlindung dari padanya. Amin ya Rabbal ‘Alamin”.[1]

Mereka mengatakan keutamaan do’a ini luar biasa agung dan luhur, mereka mengucapkan dusta atas Ali bahwa Ali membacanya dalam qunut dan mengatakan tentang fadhilahnya,

“Orang yang berdo’a dengannya bagaikan pemanah bersama Nabi pada perang Badar dan pada perang Hunain dengan seribu anak panah”.[2]

Ya Allah jadikanlah seribu anak panah di leher-leher mereka sendiri!

Al-Kasy-syi pembesar Syi’ah ini, meriwayatkan dalam al-Jarh wa at-Ta’dil dari Hamzah ibn Muhammad ath-Thayyar, ia berkata: “Kami menyebut Muhammad ibn Abi Bakar di hadapan Abu Abdillah.” Maka imam berkata: “Semoga Allah merahmatinya, ia (Muhammad ibn Abi Bakar) berkata kepada Amirul Mukminin pada suatu hari: “Berikan tanganmu aku akan membai’atmu,”

Maka beliau bertanya: “Sungguh kamu melakukannya?”

Dia menjawab: “Sungguh!”

Maka beliau memberikan tangannya, dan ia berkata: “Saya bersaksi bahwa engkaulah imam yang diwajibkan untuk menta’atinya dan sesungguhnya bapak saya (Abu Bakar ra) ada dalam neraka (na’udzu billah).”

Maka Abu Abdillah berkata: “Kecerdasan yang ada padanya dari jalur ibunya Asma’ binti Umais -semoga Allah merahmatinya- bukan dari jalur bapaknya”.[3]

Al-Kasy-syi juga menyebutkan bahwa Salman al-Farisi melamar kepada Umar, ia menolaknya kemudian ia menyesal. Lalu Salman kembali kepadanya dan berkata:

“Sesungguhnya aku hanya ingin mengetahui apakah semangat jahiliyahmu telah hilang dari hatimu atau masih tetap seperti dahulu”.[4]

Ibn Babawaih al-Qummi menasabkan al-Faruq bahwa ketika mau meninggal ia berkata: “Aku bertaubat kepada Allah dari tiga dosa: aku dan Abu Bakar telah merampas perkara (khilafah) ini dari seluruh manusia, penunjukan khalifah olehnya atas mereka dan mengutamakan sebagian orang Islam atas yang lain”.[5]

Ia meriwayatkan dari al-‘Asbugh ibn Nabata bahwa Ali as mengutus bersama rombongannya, yang di dalamnya ada Khudzaifah ibn al-Yaman menuju al-Jibanah, lalu ia menyebut satu mu’jizat dari Ali as sampai ia berkata:

Ali as berkata: “Wahai malaikat Tuhanku datangkanlah kepada saya pada saat ini juga dengan iblisnya para iblis dan fir’aunnya para fir’aun.”

Demi Allah! Lebih cepat dari kedipan mata, mereka sudah menghadirkannya di sisinya, maka tentara malaikat menyeretnya di hadapan Ali, dia berdiri dan berkata: “Sungguh celaka orang yang menzhalimi keluarga Muhammad, sungguh celaka orang yang berani lancang atas mereka.”

Orang tadi berkata: “Ya Sayyidi kasihilah saya, saya tidak kuat siksa ini.”

Maka imam berkata: “Allah tidak mengasihimu, Allah tidak mengampunimu wahai orang yang kotor, najis, buruk, menjijikkan dan setan.”

Kemudian beliau menoleh kepada kami dan berkata: “Tanyai dia sampai mau memberitahukan siapa sebenarnya dia.”

Maka kami berkata kepadanya: “Siapakah engkau ini?”

Dia berkata: “Saya iblisnya para iblis dan fir’aunnya umat ini. Saya adalah orang yang menolak Sayyidi dan mawlay (tuan dan penolongku) Amirul Mukminin dan khalifah Rabb al-‘Alamin dan saya telah mengingkari ayat-ayat dan mu’jizat-mu’jizatnya”.[6]

Ali Kasyif al-Ghitha berkata pada ahlu sunnah :” akan tetapi balasan untuk Abu Thalib dari kaum muslimin adalah vonis “dia mati kafir”, sedangkan Abu Sofyan yang tidak pernah absen menjadi Panglima atau provokator setiap kali ada panji penyerangan terhadap Nabi Saw, dan yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran, mereka mencintai dan menyanjungnya.[7]

Kita memaklumi mereka, sebab bodoh bagi mereka adalah fardhu ‘ain dan dusta itu membawa kebaikan sedangkan jujur membawa ke neraka jahannam. Bagaimana mungkin kita bisa memuaskan seekor himar dengan argumentasi bahwa di depan sana ada tanah yang landai? Demi Allah ini adalah ajaib. Telah mati ayah Nabi Ibrahim dalam keadaan kafir, putra Nuh juga mati kafir. Apakah hal itu mengurangi kedudukan mereka? Saya khawatir, kalau Syi’ah pada jaman ini akan mengeluarkan pernyataan bahwa Abu Lahab dan Abu Jahal mati dalam keadaan Islam, karena mereka berasal dari keluarga Ali ra.

Kerendahan telah membawa mereka ke pusarannya tatkala menafsiri ayat-ayat al-Qur’an untuk mendukung kekufuran mereka.

Maqbul Ahmad menyebutkan: “Yang dimaksud dengan “fahsya’” (keji) adalah Sayyid yang pertama yaitu Abu Bakar dan “munkar” adalah Syaikh kedua yaitu Umar sedangkan “baghy” (zhalim) adalah orang yang tertutup ketiga, Utsman”.[8]

Sebagaimana ia juga berkata: “Yang dimaksud dengan “kufr” adalah tuan pertama, Abu Bakar dan “fusuq” adalah Syaikh kedua, Umar dan “’ishyan” adalah orang tertutup ketiga yaitu Utsman.”[9]

Al-Majlisi yang keji dan kotor itu menyebutkan, ketika mengisyaratkan, bahwa Umar ra anak zina –wa al-‘iyadzu billah– dan Utsman telah dianggap kafir oleh imam Ali, dan bahwasanya imam Ali telah membiarkan Utsman dan kerandanya jadi rebutan anjing-anjing, salah satu kakinya berhasil dibawa kabur, jasadnya tergeletak terbuang bagaikan bangkai anjing selama tiga hari, dan Ali tidak menshalatinya.[10]

Demi Allah, alangkah buruknya Syi’ah itu !

Orang-orang yang hina itu tidak mengenal selain menggigit dan menggonggong siang dan malam…….Mereka tidak merasa sedap dengan makan dan minum melainkan dengan mencaci dan melaknat para sahabat Rasul Saw. Al-Majlisi yang hina ini, dia lupa ketika menghinakan Utsman ra bahwasanya Rasul Saw telah mengawinkannya dengan dua putri beliau, buah hati beliau dan kesayangan beliau, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Andai saja kamu tahu wahai Majlisi dan orang-orang yang langkahnya sama dengan langkahmu, bahwa nilai kamu tidak sebanding dengan sendal yang diinjak oleh Utsman ra!

Tidakkah engkau perhatikan singa, ia ditakuti padahal ia pendiam, dan anjing merasa takut, padahal ia ahli menggonggong!

Orang Syi’ah tidak cukup sampai di sini, tetapi mereka melangkah jauh sampai mencaci ibu-ibu kaum mukminin, istri-istri Nabi Saw………

Apa yang telah kita sebutkan hanyalah beberapa contoh bagi orang-orang yang berakal agar berfikir dan mengetahui jati diri orang-orang yang najis itu. Tidak aneh bagi kaum yang menghinakan orang-orang yang dicintainya untuk mengklaim segala apa yang mereka mau. Mereka telah menghina Ali ra, Fathimah ra, begitu pula menghinakan putra putri Ali ra dan ibu-ibu kaum mukminin, bahkan Rasulullah Saw. Tidak ada yang selamat dari mereka. Sebagiannya akan kita jelaskan sebentar lagi.

Apakah orang-orang seperti itu pecinta ahlul bait?


[1] Tuhfah al-Awam. Manshur Husain. Hal 423/424; Bihar al-Anwar. Al-Majlisi. Jilid 82. Hal 260.

[2] Tuhfah al-Awam. Hal 423-424.

[3] Rijal al-Kasy-syi. Hal 60-61.

[4] Rijal al-Kasy-syi. Hal 20, dalam biografi Salman.

[5] Al-Khishal. Ibn Babawaih. Hal 81. Cet Tehran.

[6] Al-Burhan, muqaddimah. Hal 89.

[7] Ashl asy-Syi’ah wa Ushuluha :88.

[8] Biografi Maqbul. Hal 551; Tafsir al-Qummi. Hal 118.

[9] Ibid.

[10] Haqq al-Yaqin. Al-Majlisi.