Begitu pula, Syi’ah telah menyombongkan diri di atas orang-orang yang dimuliakan oleh Allah SWT dengan menyertai manusia terbaik-Nya, semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam yang terbaik untuknya.

Inilah akidah Syi’ah Rafidhah tentang sahabat Rasul Saw yang telah menyiarkan Islam ke seluruh ujung dunia. Seandainya bukan karena mereka tentu Islam tidak memiliki negara dan wilayah. Mereka telah mengorbankan darah-darah mereka demi mencari wajah dan ridha Allah SWT.

Untuk merekalah Allah berfirman: “Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya” (at-Taubah: 89).

Mereka adalah bukti kebenaran ayat “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam keadaan ketakutan menjadi aman sentausa” (an-Nur: 55).

Dengan mencaci sahabat berarti Syi’ah berbuat buruk kepada Allah dan merendahkan martabat Rasul-Nya yang mulia. Allah SWT tatkala mengutus Rasul-Nya yang “amin” kepada seluruh manusia, mengutusnya sebagai “pengajar”, “pendidik” dan “pemberi hidayah”, Allah menyatakan: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (as-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (al-Jumu’ah: 12).

Setelah Rasul Saw mengajar, mandidik dan menyucikan para sahabatnya Saw dan mengentaskan dari jurang kebodohan menuju cahaya Islam mengenyangkan arwah mereka dengan keutamaan-keutamaan iman, membersihkan jiwa mereka dengan al-Qur’an dan al-Hikmah. Allah SWT memujinya dan para sahabatnya dalam firman-Nya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (al-Fath: 29).

Sebagaimana yang kita sebutkan, kita akan melumpuhkan penghinaan Rafidhah terhadap sahabat Rasul Saw dengan kitab-kitab mereka sendiri.

Inilah Ali ra beliau mencaci dan menjelekkan Syi’ah dan memuji para sahabat Rasul Saw. Beliau berkata:

“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tidak satupun di antara mereka yang mirip dengan kamu! Mereka di pagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud dan ruku’, dengan bergantian antara dahi dan pipi mereka, mereka berdiri seakan-akan di atas bara api karena mengingat hari kebangkitan mereka! Sepertinya di antara mata mereka ada guratan-guratan keteduhan (kekhusyu’an) karena lamanya sujud! Jika disebut nama Allah berderailah air mata mereka hingga membasahi dada mereka, mereka menunduk bagaikan pohon yang diterpa angin yang kencang, itu semua karena takut azab dan mengharapkan pahala”.[1]

Begitulah Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib ra memuji sahabat Rasulullah Saw dan menyanjungnya dengan sanjungan yang sangat indah. Sementara itu Ali mencela Syi’ahnya dengan celaan yang sangat buruk, setelah sekali lagi memuji para sahabat Rasul Saw ia berkata:

“Sungguh kita bersama-sama Rasulullah Saw, dibunuh anak-anak kami , cucu-cucu kami, saudara-saudara dan paman-paman kami. Hal itu tidak membuat kami melainkan semakin menambah iman dan kepasrahan. Kita melewati jalan yang jelas, sabar atas kepahitan dan kepedihan dalam jihad melawan musuh. Adalah perang tanding antara seorang dari kita dan seorang dari musuh, keduanya bertanding bagaikan dua hewan jantan yang tangguh, terkadang dari kita yang jatuh terkadang dari musuh, maka tatkala Allah melihat kesungguhan dan kejujuran kita Allah menurunkan kekalahan di pihak musuh dan kemenangan di pihak kami, hingga Islam menjadi kokoh dan mantap kuat menancap. Demi Allah, seandainya kita melakukan seperti apa yang kalian lakukan, tentu tiang agama ini tidak pernah akan tegak dan batang iman tidak akan menghijau. Demi Allah kalian akan memerah darah dan mengakhiri dengan penyesalan”.[2]

Ini adalah bunyi kitab mereka sendiri. Ya Allah saksikanlah!

Ali ra menambahkan kesedihannya atas kepergian para sahabat ra:

“Manakah kaum yang diajak kepada Islam lalu menerimanya, yang membaca al-Qur’an dan merincinya, yang diseru kepada perang lalu berhamburan maju sambil menghunus pedang, mengambil ujung-ujung bumi dengan menyerbu dan merapatkan barisan, sebagian gugur dan sebagian selamat. Mereka tidak merasa gembira dengan yang hidup dan tidak bersedih dengan yang mati, terkadang mereka pucat karena tidak tidur malam, di atas wajah mereka ada debu-debu orang yang khusyu’. Mereka itulah saudara-saudaraku yang telah pergi. Sungguh pantas merindukan mereka dan menggigit jari atas kepergiannya”.[3]

Ali ra menyebut kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka:

“Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa orang-orang yanggen2 bertakwa telah pergi membawa dunia yang fana’ dan akhirat yang abadi. Mereka menyertai ahli dunia dalam dunia mereka, tetapi tidak menyertai mereka dalam upah mereka. Mereka telah tinggal di dunia dengan sebaik-baik (tingkah laku) yang dikenal dunia, dan memakan dari dunia dengan sebaik-baik (sikap) yang dikenal dunia. Mereka telah mendapatkan dunia sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang yang mewah dan mengambil dari padanya apa yang diambil oleh para penguasa yang sombong, kemudian mereka berpaling dari dunia, cukup dengan bekal yang mengantarkan ke akhirat, dan dengan perniagaan yang menguntungkan. Mereka merasakan lezatnya zuhud di dunia dan meyakini bahwa mereka akan berdekatan dengan Allah besok di akhirat, tidak ditolak do’a mereka dan tidak dikurangi sedikitpun kelezatan dari mereka”.[4]


[1] Nahj al-Balaghah. Hal 143. Dar al-Kitab. Beirut. 1387 H. Tahqiq: Shubhi Shalih; al-Irsyad. Al-Mufid. Hal 126.

[2] Ibid. hal 91, 92.

[3] Ibid. hal 177, 178.

[4] Ibid. hal 383.