gen2Ali ra memuji kaum Muhajirin dalam jawabannya kepada Mu’awiyah ibn Abi Sufyan:

“Sungguh beruntung “ahlu as-Sabq” (orang-orang yang masuk Islam terdahulu) dengan “kedahuluannya” (masuk Islam), dan kaum Muhajirin yang pertama telah membawa keutamaan mereka”.[1]

Ali juga berkata: “Dalam diri Muhajirin ada banyak kebaikan yang kamu ketahui, semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan”.[2]

Ali ra juga memuji kaum Anshar ra: “Mereka, demi Allah, telah mengembangkan dakwah Islam sebagaimana mereka mengembangkan anak unta yang ada dalam ghanimah mereka. Di tangan ada cemeti dan lisan mereka tegas sekali”.[3]

Dia menambahkan dalam memuji para sahabat Nabi Saw dengan mengatakan:

“Wahai manusia! Demi Allah, sungguh kalian di tengah-tengah negara ini lebih banyak jumlahnya dari pada Anshar ra di tengah-tengah bangsa Arab. Akan tetapi mereka telah membela dan menjaga Rasulullah Saw beserta kaum Muhajirin, hingga Rasulullah Saw berhasil menyampaikan risalah Rabbnnya kepada dua qabilah, yang kehadirannya tidak lebih dulu dari pada orang Arab dan jumlahnya tidak lebih besar dari mereka. Maka tatkala mereka melindungi Nabi Saw dan Muhajirin dan bersama-sama menolong agama Allah, bangsa Arab menyerang secara bersatu dan serempak serta bersekutu dengan Yahudi dan didukung oleh berbagai macam kabilah. Maka mereka (Muhajirin dan Anshar) dengan tulus bangkit membela agama Allah. Mereka memutus hubungan dengan bangsa Arab dan memutus hubungan dengan Yahudi. Mereka tegak menghadapi penduduk Najed, Tihamah, Makkah dan Yamamah dari penghuni bukit dan lembah. Mereka tabah menegakkan pilar agama, sabar hidup di bawah tapak-tapak kaki kuda hingga seluruh Arab tunduk kepada Rasulullah Saw, dan Rasulullah Saw memandang sahabatnya dengan pandangan sejuk, senang dan tenang sebelum Allah SWT mengambilnya ke sisi-Nya. Kalian lebih banyak bilangannya dari pada mereka pada waktu itu di tengah-tengah bangsa Arab”.[4]

Al-Majlisi menyebutkan dari ath-Thusi riwayat dari Ali ibn Abi Thalib ra bahwasanya dia berkata kepada para sahabatnya:

“Aku berwasiat kepada kalian tentang para sahabat Nabi Saw, janganlah kalian mencela mereka karena mereka adalah sahabat Nabimu, mereka adalah sahabatnya yang tidak melakukan bid’ah sedikitpun di dalam agama ini dan tidak pernah menghormati ahli bid’ah. Ya, aku diwasiati oleh Rasul Saw terhadap mereka ra”.[5]

Sekalipun ada konflik dengan Mu’awiyah ra, Ali ra tidak mengkafirkannya. Hal ini ia tulis dalam surat-suratnya yang ia kirim ke berbagai daerah dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di “Shiffin”. Surat ini diriwayatkan oleh imam Syi’ah Muhammad ar-Ridha dalam Nahj al-Balaghah. Ali menulis untuk mereka:

“Awalnya, kita bertemu dengan kelompok dari penduduk Syam, yang nampak memang Rabb kita satu dan dakwah kita satu. Kita tidak menambahi (melebihi) mereka dalam iman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, mereka juga tidak melebihi kita. Semuanya sama kecuali apa yang kita perselisihkan tentang darah Utsman ra, dan kita bersih dari padanya”.[6]

Ali ra telah mengingkari orang-orang yang mencela Mu’awiyah dan bala tentaranya. Ar-Ridha meriwayatkan dari Ali ra, dia berkata:

“Sesungguhnya aku membenci untuk kalian jika kalian menjadi para pencela, akan tetapi jika kalian mensifati amal-amal mereka dan menyebut kondisi mereka, maka hal itu lebih tepat dalam ucapan dan lebih mengena dalam memberikan alasan, dan kalian (hendaknya) mengganti celaan terhadap mereka dengan do’a “Ya Allah lindungilah darah kami dan darah mereka dan perbaikilah hubungan di antara kami dan mereka”.[7]

Seorang Syi’ah kontemporer dari Iran yang bernama Ahmad al-Kisrawi telah membongkar kebatilan akidah Syi’ah tentang sahabat, maka iapun meloloskan diri dari kebencian-kebencian yang telah direkayasa oleh kelompok orang yang sesat, dan iapun menjelaskan kesesatan kelompoknya.

Tentang ilmu dan kedudukan al-Kisrawi dikatakan: “Belum pernah dalam dunia Syi’ah muncul orang semisal dia semenjak ada nama Syi’ah di muka bumi ini”.[8]

Ahmad al-Kisrawi berkata: “Di antara yang menjelaskan kebatilan kesimpulan mereka adalah peristiwa bersatunya kaum Muhajirin dan Anshar -padahal mereka adalah para tokoh dan pemimpin Islam- untuk membai’at Abu Bakar ra. Seandainya Nabi Saw telah menetapkan Ali sebagai pemimpin tentu para sahabatnya mustahil untuk menyalahinya dan mengedepankan Abu Bakar di atas Ali? Adapun apa yang mereka wartakan bahwa kaum muslimin menjadi murtad semua sepeninggal Nabi Saw kecuali tiga atau empat maka ini adalah keberanian -yang luar biasa- dari mereka untuk berdusta dan berbohong, maka bisa saja seseorang berkata: Bagaimana mungkin mereka murtad padahal mereka adalah sahabat Nabi Saw yang telah beriman kepadanya disaat orang-orang lain mendustakannya dan telah membelanya, menanggung segala resiko dalam mengikutinya, kemudian berjuang mati-matian dalam berbagai perang-perangnya, lebih mengutamakan keselamatannya dari pada diri mereka. Di samping itu manfaat apa bagi mereka dalam khilafah Abu Bakar ra sehingga mereka murtad karenanya. Manakah yang lebih mungkin terjadi: dustanya seorang atau dua orang (Syi’ah) yang memiliki tujuan-tujuan yang rusak, ataukah murtadnya beberapa ratus orang yang paling ikhlas di antara kaum muslimin? Ayo jawablah kami jika kalian memiliki jawaban”.[9]

Dan telah bersaksi seorang saksi dari kelompoknya sendiri.[10]

Diriwayatkan dari imam keempat -menurut mereka- imam Ali ibn al-Husain (Zainal Abidin), bahwasanya telah datang kepadanya beberapa orang dari Irak. Mereka berkata tentang Abu Bakar, Umar dan Utsman.

Maka tatkala selesai dari ucapannya, imam berkata kepada mereka: “Beri tahukanlah kepadaku, apakah kalian “para Muhajirin yang pertama yang telah diusir dari rumah-rumah dan harta mereka demi mencari karunia dan ridha Allah mereka itulah orang-orang yang “shadiq” (benar imannya)?”

Mereka menjawab: “Bukan”.

Dia bertanya: “Dan apakah kalian adalah “orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)?”

Mereka menjawab: “Bukan”.

Maka Ali Zainal Abidin berkata: “Kalau kalian telah bersaksi atas diri kalian bahwa kalian tidak termasuk dari salah satu dari kelompok di atas (Muhajirin dan Anshar), maka saya bersaksi bahwa kalian bukanlah termasuk orang yang dimaksud oleh Allah SWT :

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau memniarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman” (QS. Al-Hasyr: 10). Keluarlah (pergilah) dari hadapanku. Semoga Allah bertindak terhadap kalian.”[11]

Sungguh tercampakkanlah mereka (wa al-‘iyadzu billah), hingga orang-orang yang mereka kira sebagai imam-imam mereka!

“Sesungguhnya aku mencintai Abu Hafsh (Umar) dan Syi’ahnya (pendukungnya). Sebagaimana aku mencintai Ali dan shabat dalam gua (Abu bakar)”.

“Aku ridha terhadap Ali, keteladanan dan ilmunya, dan aku tidak meridhai pembunuhan terhadap Syeikh (Ustman) didalam rumahnya”.

“Semua sahabat adalah pemimpinku dan keyakinanku apakah dengan ucapan seperti ini ada aib yang mengotoriku?”.


[1] Ibid.

[2] Ibid.

[3] Ibid. hal 557.

[4] Al-Gharat. Jilid II. Hal 479-480.

[5] Hayat al-Qulub. Al-Majlisi. Jilid II. Hal 621.

[6] Nahj al-Balaghah. Hal 488.

[7] Ibid. Hal 323.

[8] Al-Wajiz ‘ala al-Wajiz. Mahmud al-Mallah. Hal 278., menukil dari Ushul Mazhab asy-Syi’ah. Hal 1094.

[9] At-Tasyayyu’ wa asy-Syi’ah. Hal 66.

[10] Dia adalah Ahmad Mir Qasim ibn Mir Ahmad al-Kisrawi. Lahir di Tibriz, Iran. Dia menduduki beberapa kali jabatan di pengadilan tinggi hingga memimpin beberapa pengadilan di Iran, sebagaimana ia juga menjabat jaksa penuntut umum. Setelah tahun-tahun yang panjang dan setelah studi yang komprehensif terhadap mazhab Syi’ah, al-Kisrawi berhasil mengungkap kebatilan mazhab dan keyakinan Syi’ah dan ia menjelaskan bahwa perselisihan Syi’ah dan kaum Muslimin sebabnya adalah “ta’ashshub” (fanatik buta), bukan hujjah dan bukan bukti. Di dalam kitabnya “asy-Syi’ah wa at-Tasyayyu’” ia menyebutkan bahwa mereka telah merubah-ubah al-Qur’an dan menakwil ayat-ayatnya demi mendukung pikiran-pikiran mereka (hal 31-47). Dia berkata: “Sangat disayangkan bahwa tasyayyu’ -di samping penyesatannya dan akidah-akidah mereka yang batil- telah mendorong mereka melakukan amalan-amalan yang mungkar yang sangat banyak, amalan yang bertolak belakang dengan agama, akal dan moral (hal 84). Dia menambahkan sifat tasyayyu’ secara umum “Syi’ah benar-benar telah lepas dari jama’ah (keluarga besar) umat Islam dan memiliki akidah-akidah dan hukum-hukum (tersendiri)……dan para ‘Alawiyyin “keturunan Ali ra” tidak bertanggung jawab terhadap bid’ah-bid’ah dan pikiran-pikiran itu (hal 21, 26). Dia juga mengingkari khurafat tentang al-Mahdi yang direkayasa dengan berbagai dalil, sebagaimana ia mengingkari berbagai bid’ah dan akidah yang rusak. Ribuan peneliti dan pencari kebenaran telah berpihak kepada al-Kisrawi, menolong dan menyebarkan penemuan-penemuannya. Melihat pemikiran al-Kisrawi diterima secara luas di tengah masyarakat Syi’ah maka dengan cepat rencana untuk membunuhnya telah matang dirancang. Supaya pengaruhnya, pemikiran dan metodologinya tidak terus menyebar. Akhirnya al-Kisrawi syahid oleh tangan-tangan Syi’ah.

[11] Kasyf al-Ghummah. Al-Arbili. Jilid II. Hal 78. Cet Tibriz. Iran.