gen2

Sesungguhnya Syi’ah berupaya menipu manusia dengan mengatakan bahwa mereka mencintai ahlul bait dan mereka adalah kelompok terbaik karena berpegang pada keluarga Nabi dengan seluruh ucapan dan ajaran mereka. Padahal yang mereka maksud bukanlah keluarga Nabi yang sebenarnya, melainkan Ali dan orang-orang tertentu dari keturunannya. Kita tidak tahu mengapa mereka mengkhususkan Ali dalam masalah ini padahal ia bukan satu-satunya orang yang menikahi putri Nabi Saw. Utsman justru menikahi dua orang putri Nabi Saw dan Abu al-‘Ash ibn ar-Rabi’ juga menikahi Zainab putri Nabi Saw. Jika mereka berdalih bahwa Ali memiliki sifat kekerabatan dengan Nabi Saw sebab putra dari paman Nabi Saw. Kita bertanya kepada mereka, apakah hanya Ali yang memiliki sifat ini? Tentu tidak, sebab Ali memiliki 2 saudara yaitu Ja’far dan Aqil. Begitu pula Rasulullah Saw memiliki 2 orang paman yaitu al-Abbas ibn Abdul Muth-thalib yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw dan dijadikannya seperti bapaknya sendiri, dan Hamzah Sayyid Syuhada’ ra.

Jika keutamaan Ali karena statusnya sebagai putra paman Rasul Saw bukankah yang lebih utama mendapatkannya adalah paman Rasul Saw! Jika tidak, apakah kekerabatan putra paman lebih kuat dari paman?!

Supaya lebih jelas kita perlu membahas arti “ahl” dalam bahasa Arab. Ar-Raghib berkata dan diikuti oleh al-Munawi: ahl ar-rajul adalah orang-orang yang dikumpulkannya dalam satu tempat tinggal begitu pula dia dan orang-orang yang disatukan oleh nasab.

Ibnu Manzhur al-Ifriqi mengatakan: “ahlu al-mazhab” berarti orang-orang yang meyakininya. “Ahlu al-amr” adalah orang-orang yang mengurusnya. Dan “ahlu ar-rajul” adalah orang yang paling khusus dengannya.

Az-Zabidi juga berkata: “ahl” bagi seseorang adalah istrinya, termasuk di dalamnya adalah putra putrinya. Dengan arti seperti ini ia menafsirkan firman Allah

وَسَارَ بِأَهْلِهِ

“Dan dia berjalan bersama istri dan keluarganya” .

Al-Khalil berkata: “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam” adalah orang-orang yang meyakininya.

Muhammad Jawad Maghniyah seorang Syi’ah kontemporer mengatakan: “ahlul bait” adalah para penghuninya, “ahlu ar-rajul” adalah “ahluhu” (keluarganya).

Di antara yang menetapkan secara pasti bahwa ahlul bait digunakan secara khusus untuk “istri”, dan dipakai secara majaz untuk anak-anak dan kerabatnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim melalui lisan malaikat: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait!” (Hud: 73).

Hal ini telah diakui oleh ulama Syi’ah dan para mufasir mereka seperti ath-Thubrusi dalam Majma’ al-Bayan, al-Kasyani dalam Manhaj ash-Shadiqin.

Begitu pula Allah SWT mengisahkan Nabi Musa as:

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah di sini sesungguhya aku melihat api” (al-Qashash: 29).

Yang dimaksud dengan “ahl” dalam ayat ini adalah istri Musa as, ini adalah ijma’ ahli tafsir Syi’ah seperti al-Qummi di dalam tafsirnya , al-‘Arusi al-Huwaizi dalam tafsirnya “Nur ats-Tsaqalain” , al-Kasyani di dalam tafsirnya “Minhaj al-Qashidin” dan lain-lain.

Adapun akhir ayat 33 dalam surat al-Ahzab, “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. Yang diyakini oleh Syi’ah khusus bagi Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Juga diyakini sebagai dalil bagi ke”ma’shum”an imam maka pemahaman seperti ini -Demi Allah- adalah satu keajaiban sekaligus keganjilan jaman ini!!

Ayat ini sebagiannya adalah hadir dalam rentetan kisah istri-istri Nabi Saw yang ada dalam surat al-Ahzab. Di antara yang menguatkan pernyataan ini, separuh ayat yang pertama adalah menjelaskan yang dimaksud, Allah berfirman “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

Yang menambah kuatnya lagi adalah ayat-ayat yang sebelumnya dan yang sesudahnya diarahkan pembicaraannya kepada istri-istri Nabi Saw.

Ayat sebelumnya adalah “Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa……”, sedangkan ayat sesudahnya adalah “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu)……….”.

Orang yang memperhatikan ayat-ayat tadi pasti mendapatkan pengikat yang sama antara lafazh “وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْتكِنُ.” (ayat 33) dan واذكرن ما يتلي في بيوتكن” (ayat 34) dengan lafazh “أهل البيت” (ayat 33).

Akan tetapi Syi’ah telah menyelewengkannya dengan membatasi ahlul bait Rasul hanya pada Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ra dan tidak menganggap putra-putra Ali selain Hasan dan Husain. Tidak menganggap saudara-saudara perempuan Fathimah yaitu Zainab dan Ummu Kultsum serta anak-anaknya. Bagitu pula tidak menganggap keturunan Hasan ibn Ali sebagai ahlul bait. Tetapi cukup hanya pada putra-putra dan keturunan Husain. Pembagian macam apa ini?!

Inti dari semua ini adalah ahlul bait Nabi itu secara khusus mengenai istri-istrinya dan kerabat-kerabatnya, sebagaimana Ali, Fathimah, Hasan dan Husain ra, lebih khusus masuk dalam sebutan-sebutan itu dari pada yang lainnya sebagaimana yang di tunjukkan oleh hadits-hadits shahih.

Dan dalam kedua hal di atas ahlul bait tidak memiliki kekhususan “ishmah” (bebas dari dosa). Ayat “tathhir” (ayat 33) tidak menunjukkan bahwa mereka tidak mungkin melakukan salah atau dosa. Tathhir dari dosa terjadi karena dua wajah.

Sebagaimana firman-Nya “Dan sucikanlah bajumu” (al-Muddats-tsir: 4) dan firman-Nya “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri” (al-A’raf: 82).

Jadi penyucian dari dosa adakalanya tanpa perbuatan hamba dan ada kalanya dengan bertaubat dari padanya.

Sebagaimana firman Allah: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (at-Taubah: 103).

“Ar-rijs” terkadang berarti syirik sebagaimana firman Allah “Maka jauhilah berhala-berhala yang najis itu” (al-Hajj: 30), terkadang berarti hal-hal kotor yang diharamkan, dari jenis makanan dan minuman.

Sebagaimana firman-Nya “Kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah” (al-An’am: 145).

Begitu pula firman-Nya “Sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan” (al-Maidah: 40).