Posts tagged ahlul bait

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait (2)

Allah SWT benar-benar telah memuliakan ahlul bait dan menjauhkan dari semua yang disebut di atas, sebagaimana bukanlah sifat orang-orang yang bertakwa itu harus tidak ada dosa dan maksiat sama sekali. Firman Allah SWT telah menunjukkan bahwa barang siapa yang bertaubat dari dosa-dosanya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa.

Sebagaimana firman-Nya, “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (an-Nisa’: 31).

Sebagaimana yang kami jelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa “tasyayyu’” bermula didorong oleh tujuan politik, akan tetapi karena banyak sebab -dan sudah kami sebutkan yang paling penting- maka berubahlah Ibn Saba’ dan jama’ahnya menjadi kelompok agama yang sesat dan menyesatkan.

Syi’i kenamaan Muhammad Amin dalam kitabnya, menukil dari al-Azhari memperkenalkan bahwa Syi’ah itu adalah kaum yang menginginkan apa yang diinginkan oleh keturunan Nabi Saw dan menolong mereka.[1]

Tajuddin al-Husaini pemuka Aleppo mengatakan: “Syi’ah seseorang adalah para pengikut dan penolongnya, dikatakan “والاه من الولي أي شايع .” artinya “Ia loyal kepadanya maksudnya mendukung dan menolongnya”.[2]

Sebagaimana Maghniyah mengatakan: “Barang siapa mencintai Ali dan mengikutinya atau barang siapa yang mencintai dan menolongnya”.[3]

Sekarang mari kita perhatikan Syi’ah yang mengaku sebagai pengikut ahlul bait, mencintai dan menolong mereka. Bagaimana sikap mereka terhadap para sahabat ra. Kemudian kita komparasikan dengan sikap ahlul bait sendiri terhadap para sahabat Nabi Saw. Agar menjadi jelas siapakah gerangan yang benar-benar cinta ahlul bait. Kita tidak akan menulis melainkan dari kitab-kitab dan sumber-sumber mereka dari orang-orang yang menganggap dirinya adalah Imam ahlul bait padahal tidak ada hubungan sama sekali. (more…)

Syi’ah Menyalahi Ahlul Bait

gen2

Sesungguhnya Syi’ah berupaya menipu manusia dengan mengatakan bahwa mereka mencintai ahlul bait dan mereka adalah kelompok terbaik karena berpegang pada keluarga Nabi dengan seluruh ucapan dan ajaran mereka. Padahal yang mereka maksud bukanlah keluarga Nabi yang sebenarnya, melainkan Ali dan orang-orang tertentu dari keturunannya. Kita tidak tahu mengapa mereka mengkhususkan Ali dalam masalah ini padahal ia bukan satu-satunya orang yang menikahi putri Nabi Saw. Utsman justru menikahi dua orang putri Nabi Saw dan Abu al-‘Ash ibn ar-Rabi’ juga menikahi Zainab putri Nabi Saw. Jika mereka berdalih bahwa Ali memiliki sifat kekerabatan dengan Nabi Saw sebab putra dari paman Nabi Saw. Kita bertanya kepada mereka, apakah hanya Ali yang memiliki sifat ini? Tentu tidak, sebab Ali memiliki 2 saudara yaitu Ja’far dan Aqil. Begitu pula Rasulullah Saw memiliki 2 orang paman yaitu al-Abbas ibn Abdul Muth-thalib yang dimuliakan oleh Rasulullah Saw dan dijadikannya seperti bapaknya sendiri, dan Hamzah Sayyid Syuhada’ ra.

Jika keutamaan Ali karena statusnya sebagai putra paman Rasul Saw bukankah yang lebih utama mendapatkannya adalah paman Rasul Saw! Jika tidak, apakah kekerabatan putra paman lebih kuat dari paman?!

Supaya lebih jelas kita perlu membahas arti “ahl” dalam bahasa Arab. Ar-Raghib berkata dan diikuti oleh al-Munawi: ahl ar-rajul adalah orang-orang yang dikumpulkannya dalam satu tempat tinggal begitu pula dia dan orang-orang yang disatukan oleh nasab.

Ibnu Manzhur al-Ifriqi mengatakan: “ahlu al-mazhab” berarti orang-orang yang meyakininya. “Ahlu al-amr” adalah orang-orang yang mengurusnya. Dan “ahlu ar-rajul” adalah orang yang paling khusus dengannya.

Az-Zabidi juga berkata: “ahl” bagi seseorang adalah istrinya, termasuk di dalamnya adalah putra putrinya. Dengan arti seperti ini ia menafsirkan firman Allah

وَسَارَ بِأَهْلِهِ

“Dan dia berjalan bersama istri dan keluarganya” .

Al-Khalil berkata: “ahl ar-rajul”, adalah “istrinya”, “taahhul” berarti menikah. “Ahl ar-rajul”, berarti orang yang paling khusus dengannya, “ahlul bait” adalah penghuni rumah, “ahlu al-Islam” adalah orang-orang yang meyakininya.

Muhammad Jawad Maghniyah seorang Syi’ah kontemporer mengatakan: “ahlul bait” adalah para penghuninya, “ahlu ar-rajul” adalah “ahluhu” (keluarganya).

Di antara yang menetapkan secara pasti bahwa ahlul bait digunakan secara khusus untuk “istri”, dan dipakai secara majaz untuk anak-anak dan kerabatnya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Di antaranya adalah ketika Allah memberi kabar gembira kepada istri Ibrahim melalui lisan malaikat: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait!” (Hud: 73).

Hal ini telah diakui oleh ulama Syi’ah dan para mufasir mereka seperti ath-Thubrusi dalam Majma’ al-Bayan, al-Kasyani dalam Manhaj ash-Shadiqin.

Begitu pula Allah SWT mengisahkan Nabi Musa as:

“Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang telah ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya: Tunggulah di sini sesungguhya aku melihat api” (al-Qashash: 29).

(more…)

Siapakah Ahlul Bait Itu? (bag. 2)

3. Keturunan seseorang

Imâm al-Bukhari / meriwayatkan (II/541; 1414) dari Abû Hurairah ط bahwa Rasulullah -Shalallahu alaihi wa salam- pernah mengeluarkan sebutir kurma sedekah dari mulut al-Hasan atau al-Husain seraya bersabda:

«أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ آلَ مُحَمَّدٍ r لاَ يَأْكُلُوْنَ الصَّدَقَةَ؟»

“Tidakkah engkau tahu bahwa keluarga Muhammad tidak memakan harta sedekah?”

Maka hadîts ini menunjukkan bahwa kalimah [آلُ مُحَمَّدٍ] telah mencakup ketururan pula. Dan dalilnya pula adalah firman Allah -Subhanahu wata’ala-:

قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ

Berkata Ibrahim: “Sesungguhnya di kota itu ada Luth”. Para malaikat berkata: “Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami sungguh-sungguh akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya. Dia adalah termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).(QS. al-Ankabut: 32)

Dan telah dimaklumi bahwa tidak ada seorangpun yang beriman kepada Luth ؛ selain kedua putrinya. Adapun istrinya, tetap berada diatas kekufuran. Oleh karena itulah Allah -Subhanahu wata’ala- mengecualikan dirinya termasuk dari orang-orang yang selamat dari keluarga Luth ؛ . Maka hal ini menunjukkan bahwa [الأَهْل] mencakup istri-istri dan keturunan.

4. Kerabat seseorang

Imâm Muslim didalam Shahihnya (IV/1873; 2408) meriwayatkan dari Hushain, dia berkata kepada Zaid ibn al-Arqam:

«وَمَنْ أْهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدٌ؟ أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟». قَالَ: «إِنَّ نِسَاءَهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ. وَلَكِنَّ أَهْلَ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةُ بَعْدَهُ». قَالَ: «وَمَنْ هُمْ؟». قَالَ: «هُمْ آلُ عَلِيٍّ، وَآلُ عَقِيْلٍ، وَآلُ جَعْفَرٍ، وَآلُ عَبَّاسٍ». قَالَ: «أَكُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةُ؟». قَالَ: «نَعَمْ»

“Siapakah Ahlul bait-nya wahai Zaid? Bukankah istri-istri beliau adalah ahlul baitnya? Dia berkata: “Sesungguhnya istri-istri beliau adalah termasuk ahlul bait beliau. Akan tetapi ahlul bait beliau adalah mereka yang diharamkan memakan sedekah setelah beliau.” Dia berkata: “Siapakah mereka?” Dia menjawab: “Mereka adalah keluarga Ali, Keluarga ‘Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga ‘Abbas.” Dia berkata: “Apakah setiap mereka diharamkan dari harta sedekah?” Dia menjawab: “Ya.”

5. Pengikut seseorang dan kelompoknya

Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ(49) وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُونَ(50)

Dan (Ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.(QS. Al-Baqarah: 49-50)

Yang dimaksud di sini adalah pengikut Fir’aun dan bukan anak-anaknya. Dikarenakan ia tidak memiliki seorang anakpun berdasarkan kesepakatan ahli tafsir. Oleh karena itulah ia mengabulkan permintaan Asiyah , istrinya, untuk mengambil Musa ؛ sebagai anak angkat, sebagaimana firman Allah -Subhanahu wata’ala-:

وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ(9)

Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.(al-Qashash: 9)

(more…)

Siapakah Ahlul Bait Itu?

Oleh : Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi

qiblati0111Ahlul bait digunakan untuk makna yang banyak, dan yang dimaksud dengan Ahlul bait disini adalah Alu Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-. Dan istilah Ahlul bait memiliki makna yang berbeda-beda sesuai dengan bentuk susunan kalimat. Para ulama ahli lughah dan agama telah sepakat bahwa Ahlul bait seseorang itu mencakup istri-istrinya. Semua ini telah tetap dan diketahui di dalam bahasa Arab, dan memiliki dalil-dalil yang kuat didalam al-Qur`an dan Sunnah Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-. Di antara makna-makna ahlul bait tersebut adalah sebagai berikut:

1. Seorang itu sendiri.

Seperti kandungan sabda Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-:

«يَا أبَا مُوْسىَ، لَقَدْ أُوْتِيْتَ مِزْمَاراً مِنْ مَزَامِيْرِ آلِ دَاوُدَ»

“Wahai Abû Musa, sungguh engkau telah diberi sebuah (suara yang nyaring dan merdu seperti) seruling dari seruling-seruling keluarga Dâwud.” (HR. Bukhari (IV/1925), Muslim (I/456))

Yang dimaksud disini adalah Dâwud ؛ itu sendiri, karena dialah yang diberi suara indah oleh Allah -Subhanahu wata’ala- .

2. Istri-istri seseorang.

Makna inilah yang paling banyak digunakan. Salah seorang ahli lughah yang terkenal, al-Khalil ibn Ahmad al-Farahidi (175 H) didalam kitabnya al-‘Ain (45) berkata: [أَهْل] : [أَهْلُ الرَّجُلِ] : istrinya, dan orang yang paling khusus dengannya; dan [التَّأَهُّل] artinya [التَّزَوُّج] : menikah; dan [أَهْلُ الْبَيْتِ]: penghuninya.

Imâm Muslim / telah meriwayatkan didalam Shahihnya (IV/2282; 2972) dari ‘Aisyah ك dia berkata:

« إِنْ كُنَّا آلَ مُحَمَّدٍ < لَنَمْكُثُ شَهْرًا مَا نَسْتَوْقِدُ بِنَارٍ إِنْ هُوَ إِلَّا التَّمْرُ وَالْمَاءُ »

“Sungguh kami keluarga Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-, benar-benar berdiam selama sebulan tanpa menghidupkan api (untuk membuat makanan), yang ada hanyalah kurma dan air.”

Imâm al-Bukhari / telah meriwayatkan didalam Shahîhnya (II/729) dari Anas ط dia berkata:

« سَمِعْتُهُ (أي النبي) يَقُولُ : « مَا أَمْسَى عِنْدَ آلِ مُحَمَّدٍ < صَاعُ بُرٍّ وَلَا صَاعُ حَبٍّ » وَإِنَّ عِنْدَهُ لَتِسْعَ نِسْوَةٍ »

“Aku pernah mendengar beliau (Nabi -Shalallahu alaihi wa salam-) bersabda: “Tidak ada satu sha’ pun dari gandum, dan bijian (lain) yang menginap di sisi keluarga Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.” Padahal disisi beliau -Shalallahu alaihi wa salam- ada sembilan orang istri.” Jadi ini adalah bukti nyata bahwa istri-istri Nabi -Shalallahu alaihi wa salam- masuk dalam sebutan Alu Muhammad -Shalallahu alaihi wa salam-.

Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا(33)

Hai isteri-isteri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. al-Ahzab: 32-33)

(more…)

Aqidah Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait (bag.2)

AQIDAH AHLUS SUNNAH TENTANG AHLUL BAIT

(bag.2)

Abu Abdillah al-Dzahabi

qiblati0402

Pada Artikel yang lalu telah kita sampaikan 7 Keyakinan Ahlus Sunnah Tentang Ahlul Bait secara global. Kemudian kita lengkapi dengan kesaksian sebagian ulama salaf. Mereka adalah:

1. Khalifatu Rasulillah saw Abu Bakar al-Shiddiq ra (w. 13 H):

2. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab ra (w. 23 H)

3. Zaid ibn Tsabit (w. 42 H)

4. Muawiyah ibn Abi Sufyan ra (w. 60 H)

5. Abdullah ibnu Abbas ra ( w. 68 H)

6. Abu Ja’far Ahmad ibn Muhammad at-Thahawi (w. 321 H)

7. Al-Hasan ibn Ali al-Barbahari (w. 329 H)

8. Abu Bakar Muhammad ibnul Husain al-Ajjurri (w. 360 H)

Kini marilah kita lanjutkan dengan keesaksian ulama yang lain:

9. Abdullah ibn Muhammad al-Andalusi al-Qahthani (w. 387 H)

Beliau berkata dalam Nuniyyahnya:

وَاحْفَظْ لِأَهْلِ اْلبَيْتِ وَاجِبَ حَقِّهِمْ # وَاعْرِفْ عَلِيّاً أَيَّمَا عِرْفَانِ

لاَتَنْتَقِصْهُ وَلاَ تَزِدْ فِي قَدْرِهِ # فَعَلَيْهِ تَصْلىَ النَّارَ طَائِفَتَانِ
إِحْدَاهُمَا لاَ تَرْتَضِيْهِ خَلِيْفَةً # وَتَنُصُّهُ الْأُخْرَى إِلَهاً ثَانِي

“Jagalah hak ahlul bait yang wajib # kenalilah Ali dengan sebenar-benar mengenal

Jangan engkau merendahkannya dan jangan pula engkau lebihkan dalam kedudukannya # Atas dasar itu ada dua kelompok masuk neraka

Yang satu tidak ridha ia menjadi khalifah # Yang lain menyatakan bahwa ia adalah sesembahan yang kedua.

(Lihat Kifayatul Insan Minal Qashaid al-Ghurr al-Hisan yang dikumpulkan oleh Muhammad Ahmad Sayyid: 41)

10. [Abu Utsman Ismail al-Shabuni al-Syafi’i -Rahimahullah- (w. 449)]*

Dalam kitab Aqidatus Salam Ashahabil Hadits ( Tahqiq DR. Nashir al-Judai’: 294) mengatakan: “Ashhabul Hadits memandang adanya tarahhum (mendoakan rahmat) untuk semua (maksud beliau seluruh sahabat yang pernah terlibat konflik karena fitnah Sabaiyyah; Ali, Mu’awiyyah, Aisyah dll) serta setia kepada mereka. Begitu pula mereka memandang adanya pengagungan kepada para isteri Nabi -Shalallahu alaihi wasalam-, mendoakan mereka, mengakui jasa mereka, dan mengakui mereka sebagai ibunda kaum mukminin.”

(more…)

Go to Top