Posts tagged makalah

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (8)

konstektual

12. Kemudian Ulil mengawali alinea ke-10 dengan ucapannya: “Tetapi, pertanyaan saya adalah: kenapa teks begitu menarik perhatian umat Islam? dan kenapa dalam situasi krisis (identitas), Teks-lah yang selalu dipanggil ke depan untuk menjadi pelindung dari ancaman kekacauan? Yang ini semua tidak mungkin terjadi seandainya Teks sendiri tidak menempati kedudukan yang sentral dalam wawasan keagamaan umat.”

Kalau memang belum tahu, maka jawabannya adalah:

a. Karena umat Islam memiliki akal waras yang menjadi syarat mukallaf dan masih memiliki fitrah yang asli.

b. Karena mereka beriman kepada al-Qur’an, persis seperti anda beriman kepada teks-teks ucapan orang-orang kafir dan kaum rasionalis.

c. Karena al-Qur’an mengandung keberkahan yang luar biasa. Allah berfirman:

] كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ[

Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Intelektual sejati yang berhati nurani adalah orang-orang yang beriman dengan al-Qur’an dan mau mengagungkan kalam-kalam Allah I yang penuh berkah itu.

Ada satu kisah dan pelajaran yang sangat menarik bagi kita semua, mudah-mudahan bisa memuaskan orang-orang yang bertanya seperti pertanyaan Ulil. Al-kisah Ibnu Sina (370-438 H/980-1032 M), memiliki seorang murid yang sangat setia, taat dan berbakti. Tugas utamanya adalah menuliskan apa yang didektekan oleh ibnu Sina. Ketika itu musim dingin di negeri Uzbekistan, ibnu Sina dan muridnya sibuk menulis ditengah malam. Di akhir malam ibn Sina memerlukan air minum, maka iapun berkata kepada muridnya yang setia: “Hai fulan, tolong ambilkan saya air minum, saya sangat haus”. Tempayan tempat air tidaklah di dalam kamar, melainkan berada di luar kamar. Ibn Sina berulang-ulang memintanya untuk mengambilkan air, tetapi ia tetap tidak beranjak dari tempatnya ia menulis, bahkan ia berkata: “Ya Sayyidi (wahai tuan guru), ucapan anda sangat menakjubkan, andai saja anda membuat sebuah kitab seperti al-Qur’an sungguh anda telah mendatangkan sebuah keajaiban, bisa jadi orang-orang akan mengambilnya dan meninggalkan apa yang telah dibawa oleh Muhammad”.

(more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (7)

konstektual

8. Ulil menggunakan istilah ahli kitab untuk makna masyarakat kitab suci (tekstualis) sebagai imbangan dari ahli ta’wil yang berarti masyarakat tafsir (kontekstualis), (alinea 8 dan 11). Ia mengatakan: “Rejim teks” akan selalu menjadi bayang-bayang yang terus menghantui masyarakat kitab suci, atau-dalam bahasa al-Qur’an- “ahlil kitab”.

Penisbatan makna tersebut kepada bahasa al-Qur’an adalah dusta yang nyata. Sudah menjadi aksiomatik, bahwa ahli kitab dalam istilah syar’i (al-Qur’an, Sunnah dan Aqwal ulama) adalah umat Yahudi dan Nashrani yang berintima’ kepada agama yang asalnya adalah diturunkan oleh Allah, kemudian mengalami tahrif dan syirik dalam agamanya yang kemudian di nasakh (dihapus masa berlakunya) oleh Allah dengan diutusnya Nabi Muhammad e . Yang jelas, Ulil bertaqlid kepada kesalahan Muhammad Arkoun yang menafsiri “ahli kitab” dengan “Masyarakat kitab suci” yaitu tiga agama wahyu menurutnya.

9. Ulil mengatakan: Dasar pokok dalam fundamentalis agama (termasuk di dalamnya fundamentalisme Islam) adalah kehendak untuk mengukuhkan teks….itulah sebabnya panggilan untuk berubah kepada teks (dalam jargon yang selama ini kita kenal “ruju’ ilal kitab was sunnah, kembali kepada kitab yang tertulis (yaitu al-Qur’an) dan tradisi Nabi (sunnah) selalu menyimpoan daya tarik yang hebat bagi umat Islam.” (alinea 8).

Sekali lagi Ulil membuktikan bahwa dirinya adalah subordinan Barat, satu eksemplar dari korban imperialisme epistemologis (kolonialisme teori ilmu pengetahuan). Dan untuk kesekian kalinya ia menunjukkan inkonsistensinya terhadap kebid’ahannya, sebab menyebut orang muslim yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya fundamentalis adalah tidak kontekstual tetapi tekstual, taqlid kepada teks orang kafir.

(more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (6)

konstektual

6. Pada alinea 4-7, Ulil berbicara tentang konsep takrim (pemuliaan manusia). Konsep takrim buatan Ulil tidak menghendaki kalau manusia berada di bawah naungan dan bimbingan al-Qur’an. Menurutnya wawasan teologi yang ultra teosentris harus diganti dengan wawasan teologi yang berpusat pada manusia (etnosentris): yaitu manusia tidak berada di bawah kontrol teks (baca: wahyu), sebab hal ini sama saja dengan “Penyembahan kepada teks”. Ia menulis: “Dalam retorika popular umat Islam, dimensi ketundukan dan dimensi kehambaan (‘Ubudiyah) lebih banyak ditekankan ketimbang dimensi pemuliaan manusia dan pengalamannya?” Sebelumnya ia menulis Makna dasar Islam adalah ketundukan. Apakah ketundukan kepada Allah harus berarti menundukkan pengalaman sejarah manusia yang kongkrit kepada kehendak Allah begitu saja? Ini pertanyaan penting yang harus diungkap terus menerus, agar kita tidak terjebak di dalam pemaknaan sempit atas sejumlah ayat dalam al-Qur’an, seperti ayat 36 dalam surat al-Ahzab”.

Meliht gaya Ulil Abshar ini, saya teringat ucapan imam Mujahid yang menceritakan perkembangan ahli bid’ah, dia mengatakan: “Mereka memulai sebagai murji’ah kemudian menjadi Qadariyah dan berakhir menjadi Majusi.”[1]

Saya jadi ingat dengan kelompok Ulil, yang menamakan dirinya dengan Islam Liberal, itu artinya bermula dari Islam untuk menuju kebebasan, ia merasa dalam Islam tidak pernah mendapatkasn kemuliaan, karena itu mereka beralih ke Liberalisme untuk mendapatkan kemuliaan. Orang-orang seperti ini masuk dalam firman Allah:

] أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ[

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 83)

Ada banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada Ulil: Adakah pembagian orang muslim dan orang kafir; Orang mukmin dan orang musyrik? Adakah perbedaan antara pengalaman Nabi dan para sahabatnya dengan pengalaman Abu Lahab dengan kaumnya? Adakah perbedaan antara pengalaman manusia sebagai hasil ketundukan kepada Allah dan pengalaman sebagai hasil pembangkangan terhadap-Nya? Adakah perbedaan antara pengalaman penyembah Allah semata dan pengalaman penyembah salib atau berhala lainya?

Kemudian apakah ubudiyah dalam Islam bertentangan dengan konsep takrim? Apakah hamba Allah yang taat seperti Nabi dan seluruh pengikutnya yang melestarikan al-Qur’an dan hadits hingga hari ini tidak mulia? Apakah kemuliaan bisa dicapai dengan menolak pemahaman Nabi dan seluruh pewarisnya? Adakah Rasul Allah mengerti konsep takrim yang dipahami oleh Ulil ini? Adakah Rasul Allah menyampaikannya? Apa mungkin Rasul Allah dan pengikutnya yang telah mengamalkan al-Qur’an hingga hari ini tidak mengetahui konsep takrim di luar ubudiyah? Adakah akal waras yang mempercayai bahwa konsep takrim dalam al-Qur’an tidak diketahui kecuali di abad 15 H oleh seorang Ulil yang tidak lulus dari LIPIA dan yang rasib (nilai merah) dalam materi Tauhid? (saat itu Dosennya adalah Syekh Dr. Abd. Al-Rahim al-Thahhan al-Halabi).

(more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (5)

3. Ulil mengatakan: “..Teks dan konteks dalam praktek kehidupan riil selalu saling mengandaikan begitu rupa, sehingga kadang-kadang konteks bisa membatalkan ketentuan dalam teks itu sendiri. Kedudukan konteks sebagai suatu yang penting telah di-endorse oleh kaidah hukum fiqh sendiri: Al-‘Adah Muhakkamah: Adat kebiasaan masyarakat bisa menjadi sumber hukum” (alinea 2).

Tidak betul kalau dikatakan konteks bisa membatalkan ketentuan dalam teks, juga tidak betul tafsiran Ulil bahwa adat kebiasaan masyarakat bisa menjadi sumber hukum. Ulil sekali lagi mengkhianati syaratnya sendiri, ia memakai kaidah Al-‘Adah Muhakkamah secara tekstual lepas dari konteksnya. Karena kaidah itu bukan bikinan Ulil, tetapi hasil istimbath para ulama dari Nushush syar’iyah, maka kita perlu mengetahui penjelasan para ulama itu sendiri agar tidak mendzalimi mereka.

Syeh Abd. Rahman ibn Nashir al-Sa’di (1307-1376) mengatakan: العادة adalah apa yang menjadi kebiasaan manusia dari makanan, minuman, macam-macam pakaian, kedatangan, kepergian, ucapan dan seluruh tindakan yang menjadi kebiasaan[1].

Sedangkan المحكمة artinya معْمول بها (diberlakukan) maka apabila peletak syari’at (Allah atau Rasul-Nya) menetapkan suatu hukum dan menggantungkannya dengan sesuatu, maka harus dilihat, apabila syari’at sendiri telah menerangkan batasan atau tafsiran dari sesuatu itu, maka itu yang wajib diikuti. Tetapi jika tidak ada ketentuan dan tafsiran dari al-Syar’i maka ketentuannya dikembalikan kepada ‘Urf (kebiasaan) yang berlaku, misalnya kata المعروف dalam firman Allah: وعاشروهن بالمعروف

“Dan pergaulilah mereka (para istri) itu dengan baik” (al-Nisa’: 19)

Begitu pula lafadz القبْض (menerima) dan الحرْز (penyimpanan), dan berbagai lafadz Uqud (akad) kesemuanya kembali kepada ‘Urf masyarakat.

Juga masuk di sini, misalnya jika ia menyuruh manol (kuli panggul) untuk mengangkat barang tanpa ada akad sewa jasa, maka ia berhak mendapatkan upah angkat barang sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, dan seterusnya[2].

Jadi tidak ada istilah konteks membatalkan ketentuan teks, tetapi adat atau ‘Urf menjelaskan batasan-batasan kandungan teks yang belum dibatasi, khususnya di bidang mu’amalah.

4. Sebutan Ulil bahwa peradaban Arab Islam (zaman Nabi, Khulafaurrasyidin dan Sultan sultan sesudahnya) sebagai peradaban teks, karena taqlid kepada Nasr Hamid Abu Zaid, bahkan lebih jauh Ulil menambahkan dengan istilah peradaban kata atau lafadz, maka sebutan ini tidak bisa meruntuhkan kebenaran. Setiap kata atau istilah yang digunakan untuk menolak kebenaran, maka istilah itu adalah bathil, misalnya kata al-Qur’an ia ganti dengan teks, sehingga apapun yang dikaitkan dengan al-Qur’an, ia ganti dengan kata teks dengan tujuan ingin merendahkan al-Qur’an, lalu ia ganti dengan apa yang dihasilkan oleh hawa nafsunya. Istilah genersi Qur’ani, mengikuti al-Qur’an, kembali kepada al-Qur’an, mengagungkan al-Qur’an, dirubah menjadi generasi teks, mengikuti teks, kembalai kepada teks, mengagungkan teks. Kaidah “setiap istilah yang digunakan untuk menolak kebenaran adalah batil” ditetapkan oleh akal dan syara’. Allah I berfirman di dalam kitab sucinya: (more…)

Bantahan Terhadap Makalah Ulil Abshar (4)

konstektual

MAKALAH ULIL ABSHAR YANG BERJUDUL “TENTANG PENTINGNYA MENYEGARKAN KEMBALI PEMAHAMAN ISLAM”

A. Inter-Tekstualitas Al-Qur`An Dan Wahyu Hidup

بسـم الله الرحمن الرحيـم

v قال الله تعالى: مَا يُجَادِلُ فِي ءَايَاتِ اللَّهِ إِلاَّ الَّذِينَ كَفَرُوا ( غافر: 4)

v قال رسول الله e : مَنْ قَالَ فِي الْقُرْأَنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه أبو داود والترمذى: حديث صحيح)

v Tidak ada yang memperdebatkan tentang Ayat-Ayat Allah, kecuali orang-orang kafir (Ghafir: 4)

v Siapa yang berbicara tentang al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah mengambil tempat duduknya dari Neraka (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, Hadits shahih)

Setelah Ulil Abshar menurunkan tulisan “Menyegarkan kembali pemahaman Islam” di harian Kompas (18/11/2002) yang mengakibatkan lahirnya “fatwa mati” untuk Ulil oleh FUUI (Forum Ulama Umat Indonesia), maka pada tanggal 8 Pebruari 2003, Ulil berceramah di Paramadina untuk menegaskan kembali pentingnya proyek kontekstualnya al-Qur’an. Teks ceramah tersebut dipublikasikan dengan judul “Menghindari BIBLIOLATRI Tentang pentingnya menyegarkan kembali pemahaman Islam.” (setebal 14 halaman).

Karena tulisan tersebut penuh dengan kerancuan dan makar, maka saya perlu menanggapi guna menyibak misteri yang sedang merasuki Ulil dan demi menegakkan kebenaran yang sedang dianiaya olehnya. Berikut ini adalah tanggapan saya:

1. Dalam mukaddimah, Ulil mengutip ucapan dari dua tokoh; Imam Ghazali dan Huxley. Kutipan dari imam al-Ghazali tersebut tidak ada relevansinya sama sekali dengan tulisan Ulil. Ia mengutipnya hanya untuk mengelabuhi orang-orang Islam yang bersahaja, akan tetapi tulisan Huxley itulah yang menjadi pijakan.

Dilihat dari segi metodologi, mengawali sebuah tulisan dengan ucapan dari tokoh Barat (yang kafir terhadap Islam), sebagai ganti dari Firman Allah atau sabda Rasul-Nya adalah menjadi ciri khas bagi Aqlaniyah (tukang akal-akalan). Prof. Dr. Abd al-Rahman al-Zunaidi mengatakan: “Sungguh, kaum aqlaniyah itu telah mengalami suatu kondisi “ketercengangan” terhadap Barat modern, sehingga menjadikannya sebagai marja’ (referensi) utama yang diagungkan dan diimani sebagaimana orang-orang mukmin mengimani dan menyucikan Nushush al-Wahyi (teks-teks wahyu al-Qur’an dan Sunnah)”.

(more…)

Go to Top