Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr wb
Ustadz benarkah dalam shohih Bukhori ketika Rosululloh SAW sakit, beliua meminta secarik kertas untuk menuliskan suatu wasiat, naun sahabat ‘Umar R.A tidak mengindahkannya, bahkan melarang sahabat lain untuk mematuhi Beliau. Dan ini dijadikan dail org orang syi’ah untuk mengatakan bahwa sahabat ‘Umar tidak taat kepada Rosul? Adkah terdapat daam hadits dll yg menyebutkan sahabat ‘Ali pernah membantah/tidak patuh kepada peritah Rosululloh?
Terima kasih atas jawabannya
Wasslamu’alikum wr wb

Jawaban :

Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Hadits tentang itu shahih dan ada namun pemaknaannya oleh syiah itu yang sesat .
1. Kisah itu yang benar begini:
Apakah yang dimaksud Tragedi dalam Hadits tersebut ?

Ibnu Abbas menyebut insiden kertas dan tinta sebagai sebuah “Tragedi”, namun kita harus menganalisa apa dasar dia mengatakan hal itu. Apakah Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai tragedi karena penolakan Umar untuk memberikan kertas dan tinta? Ini adalah apa yang Sy’ah klaim, tetapi klain ini tidak didasarkan pada pemahaman yang jauh dari prasangka atas teks tersebut. Apa yang kami temukan adalah bahwa Ibnu Abbas menyebut kejadian tersebut sebagai musibah tidak berkaitan dengan penolakan Umar, melainkan berkaitan dengan kenyataan bahwa sahabat saling berselisih pendapat di hadapan Nabi. Ini adalah perbedaan yang sangat penting untuk menunjukkan apa yang dilakukan Syi’ah adalah isu-isu untuk menempatkan pemahaman mereka ke dalam teks. Kita baca :

Ibnu Abbas keluar dan berkata : “ini sangat disayangkan (kehilangan yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan sesuatu untuk mereka karena perselisihan pendapat dan kegaduhan.
(Shahih Bukhari, jilid 1, Buku 3, No. 114)

Ibnu Abbas sendiri berkata :
“Orang-orang (yang hadir di sana) berselisih pendapat dalam kejadian ini, dan hal yang tidak pantas berselisih pendapat di hadapan Nabi”.
(Shahih Bukhari, Jilid 5, Buku 59, No. 716)

Mengapa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang-orang untuk pergi.

Kejadian yang serupa, Nabi marah dan memerintahkan orang-orang untuk pergi bukan karena Umar menolak beliau mengambil tinta dan kertas, melainkan karena orang-orang bertengkar dan membuat keributan di hadapan beliau. Kita baca :

Ketika mereka menimbulkan keributan di hadapan Nabi, Rasulullah berkata, “Pergi!” Dikisahkan oleh Ubaidullah: Ibn Abbas pernah berkata, “Sangat disayangkan bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka. “
(Shahih Bukhari, jilid 7, buku 70, no. 573)

Menjelang akhir hidup beliau, Nabi mengalami sakit kepala yang parah, dan kegaduhan dari pertengkaran orang-orang disekeliling beliau menyebabkan sakit pada kepala beliau. Kita baca:

Selama sakit beliau, Nabi Allah meminta tinta dan kertas. Karena beliau kemudian mengalami sakit yang bertambah parah, Umar turun tangan dan mengatakan beliau jangan dibebani oleh apapun dan Al-Qur’an adalah cukup bagi kita sebagaimana beliau telah mengatakannya (mungkin yang dimaksud Umar Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah telah bersabda di haji Wada’ mengenai Al-Qur’an). Tetapi sebagian sahabat mendukung untuk membiarkan beliau mendikte. Nabi tidak menyukai keributan dan meminta orang-orang untuk pergi. Pada saat itu beliau sedang menderita sakit kepala yang hebat dan ini adalah alasan mengapa Umar menyarankan untuk tidak menyulitkan beliau dengan cara apapun. Ketika rasa sakit beliau (Nabi) sudah berkurang, beliau memanggil orang-orang ke dalam dan (meriwayatkan tiga hal).
(Tarikh Islam, Jilid 1, hal 244-245)

Dan itulah yang terjadi, suara-suara keributan memperburuk sakit kepala Nabi, dan inilah yang menyebabkan Nabi menjadi marah, bukan karena penolakan Umar. Sesudah semua itu, bukan penolakan Umar yang memperburuk sakit kepala Nabi melainkan kegaduhan yang keras akibat pertengkaran yang menyebabkannya. Kita baca:

Tetapi para sahabat Nabi berselisih pendapat mengenai hal ini dan menimbulkan suara keributan. Oleh karena itu Nabi berkata kepada mereka, “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar di hadapanku.” Ibnu Abbas keluar dan berkata, “Sangat disayangkan (sebuah musibah yang besar) bahwa Rasulullah tercegah dari menuliskan pernyataan untuk mereka disebabkan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”
(Shahih Bukhari, Jilid 1, buku 3, no 114)

Nabi sendiri telah menjelaskan alasan mengapa beliau marah dimana beliau bersabda “pergi (dan tinggalkan aku sendiri). Adalah hal yang tidak pantas kalian bertengkar dihadapanku” perhatikan, Nabi marah atas pertengkaran mereka satu sama lain, dan bukan karena Umar menolak memberikan beliau tinta dan kertas. Nabi tidak mengatakan “pergi” ketika Umar menolak tinta dan kertas, melainkan beliau mengatakan “pergi” saat orang-orang mulai bertengkar diantara mereka. Ini penting untuk membuka mata syi’ah pada poin ini. Kita baca:

Ketika mereka terlibat pembicaraan yang kacau dan mulai saling berdebat di hadapan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “bangun (dan pergi)” Ubaidullah berkata : Ibnu Abbas selalu mengatakan: “itu adalah suatu kehilangan yang besar, sungguh suatu kehilangan yang besar,sehubungan dengan pertengkaran dan kegaduhan mereka.”
(Shahih Muslim, Kitab 013, No. 4016)

Hal yang sangat penting untuk direnungkan adalah bahwa Nabi berkata “pergi” ditujukan kepada semua orang yang berada di ruangan, bukan hanya kepada Umar atau mereka yang menolak beliau akan tinta dan kertas. Nabi berkata “pergi” bahkan ditujukan juga kepada mereka yang ingin membawakan tinta dan kertas. Ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa Nabi marah kepada mereka semua, dan beliau marah kepada mereka karena pertengkaran mereka satu sama lain. Jika Nabi hanya marah kepada mereka yang berusaha menolak tinta dan kertas saja, maka sungguh hal yang tidak masuk akal Nabi berkata dengan marah “pergi” kepada mereka yang menghendaki untuk memenuhi permintaan beliau.

Logikanya, jika Nabi ingin menyampaikan pesan, maka beliau seharusnya mengatakan “pergi” hanya untuk orang-orang yang mencegah beliau dari hal itu, dan beliau seharusnya mengatakan “tetap tinggal” kepada mereka yang berharap memenuhi permintaan beliau. Apa yang mencegah Nabi untuk mengatakan hal yang mudah “Umar pergi” atau “pergi” ditujukan kepada kelompok yang menolak permintaan beliau?, sebaliknya Nabi mengatakan “pergi” kepada kedua belah pihak, menyalahkan mereka semua karena bertengkar satu sama lain. Sungguh kita temukan bahwa kedua belah pihak meninggalkan ruangan, dan pada akhirnya Nabi tidak menulis pesan untuk mereka. Jika paradigma Syi’ah benar, maka seharusnya Nabi senang dengan mereka yang ingin memenuhi permintaan beliau, tetapi justru Nabi marah kepada mereka dikarenakan mereka bertengkar.

Apakah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu sebagai pengganti beliau?

Da’i Syi’ah mengklaim bahwa Nabi meminta tinta dan kertas agar beliau bisa menuliskan wasiat yang mana beliau diduga ingin menunjuk Ali sebagai pengganti beliau. Mereka menuduh Umar mencegah Nabi dari melakukan hal itu.

Jika Nabi benar ingin menuliskan wasiat untuk menunjuk Ali sebagai pengganti beliau, maka mengapa beliau tidak melakukan hal itu sebelum beliau wafat? Kejadian tinta dan kertas terjadi pada hari Kamis, sedangkan Nabi wafat pada hari Senin. Nabi masih memiliki lebih dari 3 hari untuk menulis wasiat semacam itu, namun beliau tidak melakukan hal itu. Baik sumber Sunni maupun Syi’ah tidak menunjukkan bahwa Nabi menulis wasiat itu dalam tiga hari setelah peristiwa hari Kamis. Syi’ah mengklaim bahwa Umar mencegah Nabi dari menulis mengenai Ali dalam wasiat beliau, Kita tanyakan kepada mereka, apakah Umar bin Khattab selalu bersama dengan Nabi 24 jam berturut-turut selama masa tiga hari tersebut? Tentu saja tidak, Kita tahu bahwa hal ini tidak terjadi, dan bahkan riwayat Syi’ah bercerita tentang bagaimana Ali dan beberapa anggota keluarga dekat bersama dengan Nabi di hari-hari terakhir. Namun, Nabi tidak menulis dokumen tersebut dalam tiga hari terakhir tersebut.

Yang benar dalam masalah ini adalah bahwa Nabi tidak mengucapkan apa yang ingin beliau tuliskan hari itu, dan tak ada seorangpun tahu, lalu mengapa dan bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa mereka mengetahui hal itu? Masalah itu adalah bagian dari hal yang ghaib, pengetahuan yang tidak dapat ditangkap oleh manusia, sehingga siapapun yang mengklaim dirinya mengetahui dengan pasti mengenai informasi itu, maka mereka hanyalah pembohong atau orang bodoh. Hari ini kita melihat bagaimana Syi’ah mengklaim bahwa kejadian tersebut bersangkutan dengan penunjukkan Ali Radhiallahu ‘Anhu. Namun bagaimana mereka bisa mengetahui hal itu sedangkan Nabi tidak pernah menyebutkannya, tidak juga Ali, Abbas, Ibnu Abbas, Hasan ataupun Husein pernah mengklaim mengetahui hal itu.

Jika Ali mengetahui bahwa Nabi menuliskan sebuah wasiat yang menguntungkannya, maka mengapa dia tidak menggunakannya sebagai bukti untuk hak kekhalifahannya? Ketika Ali diperlombakan dengan khalifah Abu Bakar dan Utsman Radhiallahu ‘Anhu, dia (Ali) membawa banyak bukti untuk mendukung klaim-klaimnya terhadap dua orang itu, tetapi dia tidak pernah menyebutkan adanya wasiat yang ditulis atas namanya. Kita menemukan bahwa cerita syi’ah adalah murni kira-kira : apa dasar mereka mengklaim bahwa wasiat itu adalah wasiat penunjukkan Ali? Mengapa kita tidak bisa mengklaim bahwa Nabi menginginkan menulis sesuatu seperti hari turunnya lailatul Qadar atau bahkan penunjukkan Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu? Jika Syi’ah bersikeras bahwa Nabi akan menuliskan wasiat untuk Ali, maka apa yang mencegah kami untuk mengklaim bahwa itu sebenarnya untuk Abu Bakar? Tidak ada bukti apapun. Jika Syi’ah mengemukakan bukti, maka kita pun memiliki bukti, seperti penunjukkan Abu Bakar sebagai Imam Shalat!.
2. Ahlul bait tidak patuh ada yaitu sebelum nabi meminta kertas tersebut:
Ketika kondisi Nabi shalalallahu ‘alaihi wa sallam terus memburuk, keluarga beliau berkumpul disekeliling beliau dan meminta beliau meminum obat untuk penyakit beliau, tetapi Nabi menolaknya, dan melarang ahlul bait beliau -termasuk Ali, Abbas, Fatimah dan istri-istri beliau- untuk memberi beliau obat apapun. Namun, Keluarga Nabi tidak menaati perintah langsung beliau, bahkan sebaliknya memilih memberikan secara paksa obat tersebut kepada Nabi. Mereka berpendapat Nabi telah lalai dalam mengurus diri beliau sendiri, hal itu karena sifat mulia beliau yang hanya khawatir mengenai orang lain tanpa peduli apapun mengenai diri beliau sendiri. Intinya, Nabi begitu marah dengan perlakuan ini maka beliau menghukum mereka dengan membuat mereka sendiri meminum obat tersebut.

Di sini, kami meriwayatkan sedikit riwayat-riwayat mengenai insiden ini :

Semua keluarga beliau – istri-istri beliau, putri beliau (Fathimah), al-Abbas, dan Ali – berkumpul (di sekeliling beliau). Asma berkata “sakit beliau ini tidak lain adalah radang selaput dada, sehingga kita paksa beliau untuk meminum obat” dan kita melakukannya, dan setelah beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah melakukan itu pada beliau.
(Tarikh at-Tabari Jilid 9, hal 178)

Lalu beliau (Nabi) datang dan memasuki rumahnya dan rasa sakit bertambah sampai beliau kelelahan. Kemudian sebagian istri beliau berkumpul di sekitarnya, Ummu Salamah dan Maimunah-dan beberapa istri dari kaum Muslimin (di antara mereka Asma)-sementara paman beliau Abbas ada bersama beliau, dan mereka setuju untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” tetapi mereka melakukannya (sebagai gantinya). Ketika beliau sembuh, beliau bertanya siapa yang telah memperlakukan dia (dengan obat-obatan) demikian. Ketika mereka mengatakan bahwa itu paman beliau … beliau (Nabi) bertanya mengapa mereka melakukan itu .. ketika beliau bertanya mengapa mereka melakukan itu, pamannya berkata: “Kami takut bahwa Anda terkena radang selaput dada.” Dia (Nabi ) menjawab: “Ini adalah penyakit yang Allah tidak akan menimpakannya kepadaku. Jangan biarkan seorangpun yang berhenti di rumah ini sampai mereka telah dipaksa untuk meminum obat ini (yaitu sebagai hukuman)”.
(Ibnu Ishak, Sirah Rasulullah, hal 680)

Mereka sepakat untuk memaksa beliau untuk meminum obat. Al-Abbas berkata, “Biarkan aku memaksanya,” dan (Rasulullah) dipaksa.
(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)

Kami (Ahlul Bait) memaksa Rasulullah untuk meminum obat selama beliau sakit. Beliau mengatakan jangan memaksa beliau, tapi kami mengatakan bahwa orang sakit tidak suka obat. Setelah beliau sembuh, ia (Nabi) berkata: “Janganlah seorang pun tetap tinggal di rumah sampai (semua orang dari kalian) telah dipaksa untuk meminum obat ini …”
(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 177)

Ketika mereka mengatakan bahwa mereka takut bahwa beliau (Nabi) mungkin terkena radang selaput dada, beliau (Nabi) berkata: “Ini adalah dari Setan dan Allah tidak akan menimpakan hal itu padaku.”
(Tarikh at-Tabari, Jilid 9, hal 178)

Jika Syi’ah tersinggung dengan pernyataan Nabi disebut “mengigau”, maka mereka tentunya juga tersinggung pada pernyataan bahwa beliau menderita penyakit dari Setan? Apakah ada diantara Syi’ah ingin mengkritik ketidaktaatan Ahlul Bait terhadap Nabi di sini? Sebaliknya, Syi’ah -seperti kita- akan mengatakan bahwa mereka ahlul bait hanya khawatir akan kondisi Nabi lebih dari Nabi khawatir tentang diri beliau sendiri. Itu semua disebut “pembangkangan” karena kecintaan kepada Nabi dan mereka tidak dapat dipersalahkan untuk hal itu. Demikian pula Umar meminta Nabi untuk beristirahat tidak mungkin dapat ditafsirkan sebagai sesuatu yang tercela.